Posted in Materi, Tips & Trick, Wattpad - Story

Materi 4 – EBI

  • Kata Depan

→ Kata depan seperti ‘di’, ‘ke’, dan ‘dari’ ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.
Contoh :

1. Di mana kamu sekolah?

2. Aku baru saja ke rumahmu.

3. Aku menunggumu dari 15 menit yang lalu.



→ Penggunaan ‘di’ dan ‘ke’ sebagai imbuhan ditulis menyambung dengan kata yang mengikutinya.
Contoh :

1. Aku ditemani oleh ibuku tadi pagi.

2. Kehilangan itu menyakitkan.


  • Partikel


A. Partikel ‘-lah’, ‘-kah’, dan ‘-tah’ ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh :

1. Siapakah aku ini di matamu?

2. Sudahlah, aku sudah lelah.

B. Partikel ‘-pun’ ditulis terpisah dengan kata yang mendahuluinya. Namun jika partikel ‘-pun’ merupakan kata penghubung maka penulisannya disambung dengan kata yang mendahuluinya.

Contoh :

1. Apa pun yang terjadi, saya pasti akan menunggunya di sini.

2. Meskipun dia telah pergi, saya yakin dia akan kembali.



C. Partikel ‘per’ yang artinya ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh :

1. Saya sudah membaca karya ilmiah itu bab per bab.

2. Banyak kesepakatan yang telah terjadi per tanggal 26 November 2016.


  • Kata Ganti


→ Kata ganti yang menunjukkan kepemilikan seseorang seperti ‘-ku’, ‘-mu’, dan ‘-nya’ ditulis tersambung dengan kata di depannya.
Contoh :

1. Rumahku sudah dibersihkan tadi pagi.

2. Bagaimana kabar adikmu?

3. Mungkin aku sudah harus melupakannya.



→ Kata ganti ‘ku-‘ dan ‘kau-‘ ditulis menyambung dengan kata yang mengikutinya.
Contoh :

1. Kuberikan selembar surat ini padamu.

2. Sudah seharusnya kaubalas apa yang dia lakukan untukmu.


  • Kata Sandang ‘si’ dan ‘sang’


→ Kata sandang ‘si’ dan ‘sang’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh : 

1. Apa yang ditulis oleh si pengirim?

2. Kabar sang pemuja cinta itu sedang tidak baik rupanya.

→ Kata setelah kata sandang ‘si’ dan ‘sang’ jika menunjukkan tokoh atau nama tokoh dalam sebuah cerita maka kata tersebut menggunakan huruf kapital.
Contoh :

1. Harimau itu marah pada si Kancil.

2. Akhirnya si Bodoh itu berhasil menemukan hal yang bisa dilakukannya.

→ Kata sandang ‘sang’ ditulis dengan huruf kapital jika ‘sang’ merupakan unsur nama Tuhan.
Contoh :

1. Semua adalah kehendak Sang Pencipta.

2. Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa.


* * *




Sumber :

Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia, September 2016

Posted in Event Duel, Fiction, Science-Fiction - Genre, Second - Winner, Wattpad - Story

Escape Pillar [Science-Fiction]

Ku kerjapkan mataku berkali-kali, menatap langit-langit malam  dari tempat yang gelap. Aku terbangun di suatu tempat yang tak ku kenali sebelumnya. Aneh, padahal jelas-jelas baru saja aku menutup mata untuk menenangkan diri di atas ranjang, namun entah mengapa tiba-tiba saat ku membuka mata sudah berakhir di tempat ini.

Segera ku angkat punggungku perlahan, lalu kugerakan kedua tangan dan kakiku. Memastikan tak ada sesuatu yang berubah atau cidera pada diriku. Selepas itu, segera aku bangkit dan melihat keadaan sekitar, sambil melangkahkan kaki selangkah-dua langkah ke depan.


Sampai pada saat ku lihat sebuah cahaya jauh di depan. Ku percepat langkah kakiku dengan sangat hati-hati. Mengingat di sekitarku yang amat gelap. Entah apa yang akan ada di depanku nanti, bisa saja aku menabrak pohon bila ceroboh.
Duk.
Tiba-tiba saja aku terjatuh terhampas ke rerumputan, aku yakin sekali yang barusan menabrak aku itu manusia! Aku segera bangkit, lalu menepuk-nepuk celanaku untuk membersihkan kotoran akibat terjatuh tadi.
Selepas itu, aku mendengar suara seorang perempuan dari kejauhan, menggema. Namun, yang pasti suara itu mengisyaratkan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

“MENUNDUK!”


Lantas aku langsung menunduk, seraya bergetar ketakutan. Dan benar saja, sesudah ku menunduk terdengar bunyi lemparan pisau yang mendarat, sepertinya menancap di pohon?

“Ikut aku!”

Suara yang sama. Tiba-tiba saja seseorang menarik lengan kananku dan memaksaku untuk mengikutinya.

“Eh! kenapa sih, kok aku ditarik-tarik gini! Terus tadi siapa yang lempar pisaunya?” tanyaku geram.

Aku benar-benar tak mengerti apa sebenarnya terjadi. Apa ini mimpi buruk? Tapi mengapa terasa sangat nyata?

“Akan ku jelaskan nanti, lebih baik sekarang kita pergi dari tempat berbahaya ini. Percayalah! saat ini nyawa kita sedang dipertaruhkan.”

Sedetik jantungku berhenti berdetak saat mendengar perkataan terakhirnya. Apa maksud dibalik sebenarnya? Apa benar aku akan mati jika aku berhenti melangkah? Tapi kenapa bisa? Ini kan hanya mimpi!

* * *



Sorak ramai serta dentuman gendang terdengar riuh, sampai-sampai telingaku rasanya mau lepas mendengarnya. Aku, berdiri di tengah-tengah kerumunan orang asing yang sedang menyambutku layaknya keluarga. Senyuman mereka tulus, membuatku hanyut dalam suasana nyaman, membuatku tenang untuk sementara waktu.

“Selamat datang, sepertinya kau orang terpilih yang tak beruntung,” celetuk seorang perempuan remeh yang entah asal suaranya dari mana.

“Eh, Tamara, tutup mulutmu!” sahut perempuan yang berada di sampingku, orang yang menyeretku ke tempat ini.

“Bukannya memang benar?” sahut perempuan yang diketahui bernama Tamara itu, lagi. Tak lama terlihat seorang perempuan datang menghampiriku dengan membelah kerumunan orang. Sepertinya orang yang bernama Tamara. 

“Toh kita semua ini hanya dipermainkan saja, bukan?” lanjutnya.

“Apa maksudmu, San?” tanya perempuan di sampingku. 

“Luna, Luna. Apa kau sudah lupa tentang mimpi Salsa kemarin malam? kita ini hanya sekumpulan peninggalan produk gagal si Mr. Jhonson!” tegas Tamara, sambil tersenyum remeh.

“Lantas, memangnya kenapa kalau kita produk gagal! Apa salahnya kalau kita mendapat kesempatan kedua untuk hidup lama!” sahut sampingku yang ternyata bernama Luna, juga tak mau kalah.

“Eh, bentar … bentar. Apa tadi kamu menyebut nama Mr.Jhonson?” tanyaku bingung. Apakah Jhonson yang dimaksud Tamara itu ayahku?

“Ya! si brengsek yang mengirim kita ke dalam dinding besar ini! Orang yang membuat kami bersusah payah untuk hidup di tengah-tengah kepungan para Zombie di luar sana!”

Aku terdiam, masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kalau benar Jhonson yang dimaksudnya ayah lantas, di mana ayah sekarang? Aku harus bertemu dengan ayah, aku harus bertanya langsung padanya.

“Jaga mulutmu, Tamara! Mr. Jhonson pasti mempunyai alasan, tak mungkin ia mengurung orang terdahulu di balik dinding ini dengan sengaja!”

 Tamara berjalan mendekati Luna dengan ekspresi menantang. “Ha? apa kau bergurau? jadi maksudmu tanpa sengaja, gitu?” ujarnya sambil menaruh lengannya di pundak Luna, namun segera di tepis oleh  Luna.

“Apa kamu lupa? Jelas-jelas di mimpi Salsa, Mr. Johnson lah yang menciptakan monster-monster haus akan darah itu! dan apa dengan mengurung kita di tempat seperti ini menyelesaikan semua kekacauan yang ia buat? Ha? Enggak kan!” lanjutnya, diakhiri dengan dorongan di pundak Luna.

Hahaha … engga lucu, pasti Mr. Johnson yang dimaksud bukan ayah! ya kan?

“Eh … anu … kalau aku boleh tau di mana Mr. Jhonson yang kalian bicarakan sekarang?” 

Seketika semua orang mengalihkan pandangannya dari Luna dan Tamara, malah beralih memandangiku.

“Eh? kenapa?” tanyaku sedikit risih karena menjadi pusat perhatian.

“Dia sudah tewas sejak lama, sebelum berhasil menyelesaikan penawarnya.” Aku lihat Luna menjawabnya sendu, kemudian berlalu begitu saja. 

Entah aku harus percaya atau tidak. Namun setelah melihat Luna yang barusan, membuatku semakin gusar. Takut kalau Mr. Jhonson yang dimaksud itu benar-benar ayah. 
     

Kerumunan orang yang mengelilingiku perlahan satu persatu pergi dan kembali melakukan aktifitas seperti biasa, sepertinya. Dan sekarang aku ditinggalkan sendirian di sini, tanpa ada yang menjelaskan tempat apa ini dan sebenarnya mengapa aku ada di sini.
     

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari informasi tentang tempat apa ini sebenarnya. Tapi, hasilnya nihil. Dan pada akhirnya aku menepi di bawah sebuah pohon yang belum pernah ku ketahui sebelumnya. Melipat kedua kaki dan menguncinya dengan kedua tangan. Aku membenamkan kepalaku di atas dengkul, sambil merenungi nasibku sekarang yang terjebak di tempat aneh. Benar-benar aneh.

* * *



Bulan dan bintang, setidaknya ada dua hal yang masih terlihat masuk akal saat malam hari di tempat ini. Mau tau apa yang tak masuk akal? kalau begitu lihat ke bawah sekarang. Ada banyak ratusan hewan pengerat yang membanjiri di bawah bangunan ini. Seakan siap menyantap seseorang bila ada yang turun.
     

“Hai,” sapa Miya, perempuan yang mengajakku bermalam di tempatnya saat aku berada di bawah pohon sore tadi.
     

Aku sangat berhutang budi padanya, bila saja ia tak mengajaku ke tempat ini, mungkin saja aku akan lenyap di tengah kerumunan tikus-tikus gila itu.
“Hai,” sapaku juga.
     

Aku tersenyum membalasnya. Sekarang dia duduk di sebelahku, sambil menyeruput sesuatu yang ada di dalam batuk kelapa. 
     

“Mau?” tanyanya saat memergoki aku yang sedang melirik ke arah batok kelapa yang sedang di pegangnya.
     

Ku picingkan mataku seraya membalas. “Ah … iya, bila kamu tak keberatan.” 
     

Miya langsung menyodorkannya padaku. Lalu aku meraihnya lalu meneguknya. Tak berselang lama, terdengar teriakan serta bunyi kentungan dari arah jam sepuluh. Sepertinya baru saja terjadi sesuatu. Ku lihat Miya refleks bangkit dari duduknya lalu berlari ke dalam kamar, kemudian keluar lagi membawa dua buah obor yang sudah dilapisi minyak dan korek api yang bentuknya aneh menurutku.
     

“Ayo, kita ke sana.”
     

Lantas aku bangkit dari duduk dan langsung saja disodorkan salah satu obor dari tangan Miya. Aku pun menerimanya tanpa ragu, meskipun terlihat sangat aneh menggunakan obor di zaman modern.
     

“Nyalakan apinya, arahkan ke depan untuk membelah kerumunan tikus-tikus itu, dan yang lebih penting tetaplah di belakangku,” pungkasnya.
     

Aku mengangguk seraya mengekorinya sambil mencoba menyalakan api pada obor. Setelah apinya menyala, segera ku arahkan ke depan sesuai intruksi Miya. Dan ternyata benar! para tikus-tikus haus akan darah itu menyingkir ketika aku arahkan api yang menyala ini.
     

Sampai-sampai aku terkagum-kagum pada diriku sendiri, bangga karena bisa membelah segerombolan vampire kecil inu yang mencoba menghisap darahku. Pencapaian yang paling tertinggi, sesudah ranking 20 dari 24 anak di kelas Matematika. Akhirnya aku bisa membuktikan pada dunia kalau aku benar-benar anak dari seorang ilmuwan terkenal, Mr. Jhonson Gralleleo.

* * *

Sesampainya di suatu tempat, di depan kamar salah satu seorang dari mereka yang tinggal di tempat ini. Ramai, kumpulan orang berkerumun di depan pintu masuk. Aku dan Miya bahkan sulit membelah kerumunan orang itu untuk bisa masuk ke dalam. Butuh waktu sedikit lama.
     

“Ada apa?” tanya Miya khawatir di ambang pintu.
     

“Salsa bermimpi lagi!” sambar salah seorang yang tak ku kenal.
     

Aku yang tak paham lebih memilih menyembunyikan diri di belakang Miya. Lebih baik mendengarkan dan mengamati situasinya terlebih dahulu, untuk memastikan ada hubungannya dengan aku atau tidak.
     

“Kali ini apa mimpinya?”
     

“Masih ada kesempatan. Kita masih ada kesempatan untuk keluar dari dinding,” seru yang lainnya, lagi-lagi aku tak mengenalnya.
     

“Maksudmu? sekarang di mana Salsa?” 
     

“Jangan khawatir, Miya. Dia baik-baik saja,” jawab perempuan itu sambil tersenyum, seperti tidak terjadi hal yang buruk.

Tak lama kemudian dua orang datang dari balik salah pintu di sudut ruangan. Dengan salah satunya sedang merangkul serta menompang yang satunya lagi. 
     

“Salsa!” Miya berlari menghampiri orang yang sedang dirangkul itu. Alhasil aku terlihat oleh yang lainnya.
     

“Selamat datang, Dera,” sapa orang yang di panggil Salsa oleh Miya barusan.
     

Anehnya, bagaimana dia bisa tahu namaku? Aku bahkan belum sempat memberi tahu kepada siapa pun dari awal menginjakan kaki di dalam dinding besar ini.
     

“Kamu ngomong sama aku?” tanyaku meragu.
     

“Iya, kamu, anak Mr. Jhonson. Alasan sebenarnya kami dikirim beliau je tempat ini,” tandas Salsa.
     

“Ha? Maksudnya?” 
     

Aku bingung! Apa maksudnya aku alasan mereka ada di sini? Dan ayah, Apa yang sebenarnya terjadi? Semua orang sekarang menatap aku lekat. Seperti melihat cahaya di tengah kegelapan, terkecuali Tamara.
     

“Dia? dia Dera Clarisa?” celetuk Tamara sambil membuang muka ke arah sudut ruangan.
     

“Ya, dia anak Mr. Jhonson yang diutus ayahnya dari zamannya.”
     

Aku masih tak mengerti, apaan sih maksud si Salsa itu? Aku dikirim? Ayah yang mengirim aku?
     

“Dera, Ayahmu mengutusmu ke tempat ini untuk menyelesaikan tugasnya yang belum terselesaikan. Menanggung beban mengembalikan kondisi atas ketidak sengajaannya menciptakan mahkluk yang di sebut zombie di luaran sana. Mr. Jhonson percaya padamu, Dera. Beliau mengirimmu ke tempat ini karena yakin hanya kamu, anaknya yang bisa mengakhirinya.”

* * *
     

Namaku Dera, sekali lagi ku tegaskan namaku Dera. Anak dari Mr. Jhonson yang tiba-tiba saja mendadak menjadi kepala suku yang memimpin ratusan orang yang berada di balik dinding besar ini.
    

Sudah lama sejak dua tahun yang lalu, saat pertama kali aku mengetahui kebenarannya tentang keberadaanku di tempat ini. Aku, saat terbaring di nakas, ayah dengan terpaksa membius dan mengurimku ke dua puluh tahun yang akan mendatang dengan menggunakan mesin waktu yang membuat dirinya terkenal itu. Ayah mengirimku karena suatu alasan. Namun, ternyata ayah yang merupakan ilmuwan hebat melakukan kesalahan yang fatal, sampai-sampai mengakibatkan kepunahan umat manusia. 
    

Aku, Dera. Orang yang bertanggung jawab mengakhirinya, sekaligus mengembalikan keadaan seperti dua puluh tiga tahun yang lalu.
     

Sekarang, aku bersama ketiga puluh orang lainnya yang telah menjalani latihan dan persiapan yang matang, keluar dari dinding besar selama tiga puluh hari untuk menjalani misi besar. Aku dibantu oleh Miya, Luna, Salsa, dan Tamara, berpencar memimpin beberapa orang lainnya untuk menulusuri kota demi kota terdekat. Misi untuk menetralkan para zombie dengan alunan nada ritme musik yang dibuat sedemikian rupa olehku. Sesuatu yang bisa mengubah dan menyelamatkan dunia.

* * *


– R P I –

Posted in Event Duel, Fiction, First - Winner, Science-Fiction - Genre, Wattpad - Story

Decision [Science-Fiction]

​Giandra menutup mulutnya tidak percaya ketika melihat sebuah berita pada layar besar di hadapannya. Sebuah gempa bumi dengan kekuatan 7.8 SR lagi, di daerah pinggir pantai bagian selatan Indonesia.

Sudah belasan kali gempa terjadi hari ini, firasatnya tidak enak. Diliriknya jam di tangan kirinya, sudah dua puluh menit dia menunggu di sini namun sosok yang dinanti belum juga datang.

“Gia! Ayo!”

Giandra menoleh dengan kening berkerut memandang sosok laki-laki di hadapannya.

“Gia, come on. Kita harus pergi dari sini karena-”

Perkataan laki-laki itu terputus, sebuah getaran terjadi lagi dengan kekuatan yang cukup keras hingga membuat retakan di tanah muncul.

“Ga, ini apa?” kata Giandra panik sementara situasi di sekitarnya semakin berantakan.

Ganesha, laki-laki di hadapannya menatap Giandra dengan panik. Digenggamnya tangan Giandra erat berusaha melangkah di tengah getaran yang perlahan mereda.

Sebuah hologram berwujud pria berperawakan tegap muncul di hadapan mereka.

“Ganesha, waktumu dua jam sebelum kapsul waktu itu berangkat,” kata pria hologram itu.

Ganesha menekan headset di telinganya dan berbicara, “Saya akan segera ke sana.”

“Daftarkan identitasmu dengan Decla secepatnya,” kata pria itu sebelum akhirnya menghilang.

“Dia siapa?”

“Profesor Geya, atasanku di laboratorium,” jelas Ganesha singkat sambil terus menekan sebuah benda persegi pipih yang penuh dengan layar atau biasa disebut dengan Decla.

“Berikan aku jarimu,” perintah Ganesha.

Giandra mengulurkan telunjuknya pada Ganesha kemudian Ganesha mengarahkannya pada layar benda itu. Seketika dari salah satu sisi Decla muncul hologram berisi data singkat Giandra termasuk warna iris mata hingga golongan darahnya.

Ganesha mengerutkan keningnya bingung, mengapa data diri Giandra sudah terdaftar sebagai salah satu penumpang kapsul waktu padahal seharusnya nama Giandra belum terdaftar?

“Selesai. Sekarang kita harus segera ke Galeri Nasional.” Ganesha membuang pikiran anehnya dan menarik tangan Giandra membelah kerumunan orang yang tampak saling acuh di hadapannya.

“Tunggu, maksud semua ini apa? Kapsul waktu? Decla?” tuntut Giandra dengan kesal.

“Gia, dengar. Bumi akan segera hancur, kau harusnya tahu itu.”

Giandra mengangguk, memang keadaan sudah semakin kacau sejak perang dunia yang melibatkan nuklir beberapa puluh tahun yang lalu. Indonesia termasuk negara yang beruntung karena tidak mencecap sakitnya dijajah atau dimerdekakan oleh negara lain lagi.

Semenjak permainan nuklir menjadi hal yang lumrah terjadi di dunia, berbagai macam keanehan terus muncul. Bencana alam yang nyaris terjadi setiap hari, kriminalitas yang tinggi, pergeseran sifat alami manusia, serta munculnya beberapa spesies aneh yang entah akibat nuklir atau kecerobohan para peneliti.

Hanya segelintir orang yang cukup memiliki kekayaan yang bertahan hidup normal sesuai dengan kemajuan teknologi yang ada. Ya, selain menjadi rapuh, dunia pun semakin maju di berbagai bidang yang sayangnya malah mematikan hati manusia sebagai manusia; tidak lagi ada rasa sosial dan keinginan menolong satu sama lain.

“Aku tahu,” sahut Giandra. “Tapi apa maksud semua ini?”

“Kapsul waktu akan diberangkatkan dua jam lagi, dan hanya orang tertentu yang bisa menaikinya,” kata Ganesha sambil terus menarik Giandra menuju lorong salah satu alat transportasi terdekat.

Wait. Aku harus menemui adikku, kau tahu itu.”

Ganesha menatap Giandra sekilas. “Maaf, Gi. Daerah rumah kita sudah hancur, terisolasi dan dikuasai Lyctans.”

“Apa?” pekik Giandra.

Giandra mendesah penuh sesal. Lyctans adalah sekumpulan manusia tidak beruntung yang terinfeksi oleh lintah penghisap, berasal dari daerah kumuh yang tidak tersentuh pemerintah. Infeksi Lyctans sangat cepat dan cenderung terlalu mudah menular.

“Gia, kita harus cepat.”

Giandra tersadar, sakit di dadanya perlahan dia hilangkan. Dilangkahkan kakinya dengan cepat mengikuti Ganesha. Sesaat sebelum keduanya memasuki peron stasiun, tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Ganesha! Lama sekali,” kata suara itu sarkas.

Ganesha mendengus kesal dan menjawab, “Apa yang kau lakukan, eh?”

“Mencarimu dan Giandra. Kau tahu Giandra juga penting bagiku,” jawab suara itu.

“Sudahlah, Gerry. Ayo cepat berangkat. Galeri Nasional mulai riuh,” kata Ganesha enggan mendebat.

Ketiganya memasuki peron dan berjalan menuju peron tempat kereta dengan tujuan stasiun Gambir ada. Ganesha terus melirik jam di tangannya, sementara Giandra masih dirundung kaget juga rasa kehilangan. Gerry memainkan senapan di tangannya dengan acuh, seolah tidak peduli dengan apa pun.

“Kudengar adikmu dimakan Lyctans,” kata Gerry memecah keheningan.

“Bodoh!” seru Ganesha ketus.

“Kau harusnya meminta pertanggungjawaban pada sosok di sebelahmu, Gi. Dialah yang membuat wabah Lyctans di Jakarta,” lanjut Gerry.

Giandra menggigit bibirnya keras meredam isakan tangis. Ganesha menyentuh pundaknya pelan, berusaha menenangkan.

Tidak lama sebuah kereta tiba dan ketiganya menaiki salah satu gerbongnya. Suasana sangat sepi, bahkan alat transportasi yang dulu ramai ini kian sepi karena hanya orang yang cukup kaya yang bisa menggunakannya.

“Mau ke mana kalian?” tanya seorang bapak berumur sekitar tujuh puluh tahun.

“Ke-”

“Bukan urusan Anda, Tuan,” potong Gerry.

Pria itu tersenyum ke arah Gerry. “Semoga Tuhan memberkatimu, Nak.” Kemudian pandangannya dialihkan pada Giandra dan Ganesha. “Saya juga berharap kalian selamat, tanpa ada niatan buruk yang terlaksana di antara kalian.”

Giandra menatap Ganesha, curiga. Sementara bapak itu beranjak pergi meninggalkan mereka.

* * *
“Apa yang ada di pikiranmu, Ga?” tuntut Giandra dengan nada mengancam. 

Ganesha menggeleng. “Aku hanya ingin kita selamat. Tidak usah kau pikirkan ucapan bapak tadi, kita tidak bisa memercayai siapa pun.”

“Ah, ya, bahkan kau membiarkan adik dari pacarmu mati akibat Lyctans,” kata Gerry ikut campur.

“Kau!” Ganesha maju mendesak Gerry ke dinding gerbong, dicengkeramnya kerah kemeja Gerry.

Chill out, Ganesha. Akuilah, kita tidak bisa memercayai siapa pun,” sahut Gerry masih dengan senyum.

Giandra menatap keduanya dengan bingung. Tidak ada keinginan di hatinya untuk menghentikan perdebatan itu, benar kata Gerry, Ganesha membiarkan adiknya mati begitu saja. Harusnya Ganesha menjemput adiknya terlebih dulu.

Sebuah hologram tiba-tiba muncul dari Decla yang digenggam Gerry.

“Waktu kalian kurang dari satu jam lagi, wilayah kapsul waktu saat ini terbebas dari Verck. Tapi saya tidak bisa menjamin bagaimana saat nanti keberadaan kapsul waktu sudah mulai tercium masyarakat dan Verck. Cepatlah, karena saya tidak ingin kehilangan orang-orang berbakat milik saya.”

Kemudian hologram itu hilang. Gerry mendengus melepas cengkeraman Ganesha pada kerahnya. Sementara Giandra memilin ujung kemejanya panik. 

Verck, makhluk penghisap darah yang akan membuat manusia mati perlahan, hasil percobaan pemerintah dengan menggabungkan gen kelelawar dan manusia. Awalnya Verck akan dijadikan tentara terdepan Indonesia saat menghadapi perang, tapi nyatanya Verck tidak bisa dikuasai dengan mudah dan malah memberontak.

“Sesampainya di stasiun Gambir nanti, kita masih harus berjalan sekitar lima kilometer dan itu akan sangat sulit.” Gerry menekan Decla-nya dan memunculkan sebuah hologram denah dari Galeri Nasional.

“Kapsul waktu terdapat di bagian belakang Galeri Nasional, dan lihat beberapa titik merah itu adalah tanda daerah yang dikuasai Verck,” jelas Gerry.

Ganesha menarik Giandra mendekat saat sebuah getaran terasa lagi. Gempa bumi yang cukup kencang. Namun untungnya gempa itu hanya terjadi beberapa menit dan situasi kembali normal.

“Sebentar lagi kita sampai. Make a decision. Dare yourself to kill,” kata Ganesha singkat.
Or being kill,” lanjut Gerry.

* * *

Ketiganya berjalan dengan cepat dan hati-hati menuju Galeri Nasional. Cukup jauh sebenarnya, namun jika mereka menumpang kendaraan lain akan semakin banyak orang yang tahu, dan keberadaan kapsul waktu tidak boleh diketahui masyarakat.

Kapsul waktu ternyata sudah direncanakan oleh seluruh pemimpin negara di dunia sejak sepuluh tahun lalu; peneliti sudah membuat perkiraan jika kiamat akan menghampiri dunia tahun ini. Setiap negara hanya memiliki dua kapsul waktu berkapasitas 250 orang. Nantinya kapsul waktu akan diterbangkan ke luar angkasa hingga proses kiamat selesai, kemudian mereka yang selamat akan membentuk peradaban baru lagi nantinya.

Egois, tapi logis. Siapa yang mau bertahan dengan pasrah menerima kehancuran dunia ketika ada pilihan lain menyelamatkan diri meski dengan mengorbankan banyak orang?

“Giandra awas!” Gerry mendorong tubuh Giandra hingga Giandra terpental ke sebuah trotoar.

“Verck sialan!”

Gerry memaki dan menembak Verck tersebut tepat di jantungnya. Giandra yang masih shock hanya terdiam melihatnya, baru kali ini Giandra melihat Verck. Ternyata Verck umumnya terlihat seperti manusia biasa, hanya saja iris matanya kemerahan dan pendengarannya sangat peka.

“Pegang ini,” kata Gerry sambil memberikan sebuah senapan pada Giandra. “Tembak setiap Verck yang mendekatimu, aku tahu kau tidak membawa peralatanmu.”

Giandra mengangguk. Dari ekor matanya dia melihat Ganesha menghampirinya sehingga dia dengan cepat segera memasukan senapan itu pada selipan bajunya.

“Giandra? Kau baik-baik saja, kan?” tanya Ganesha panik.

“Aku pikir kau akan membiarkanku mati juga. Memang bukan dengan menjadi Lyctans, tapi mati oleh Verck,” sahut Giandra sarkas.

Ganesha mendesah kesal, dia tahu Giandra sangat kehilangan adiknya. Tapi seharusnya Giandra mengerti, Ganesha juga kehilangan keluarganya. Ganesha memilih menyelamatkan Giandra dan harusnya itu udah sudah cukup.

Giandra berjalan dengan cepat mendahului Ganesha dan Gerry. Mereka berjalan memutar ke arah belakang Galeri Nasional. Sekilas Galeri Nasional tampak baik-baik saja, hanya beberapa lukisan terjatuh mungkin efek gempa beberapa waktu lalu. Namun bau amis darah tercium dengan kuat membuat Giandra harus menutup hidungnya.

Ganesha menguatkan dirinya menerima kemarahan Giandra, dia menghampiri Giandra dan menarik Giandra ke sisinya berusaha melindungi. Giandra hanya tersenyum miring sekilas namun tidak menolak, sementara Gerry berjalan di belakang mereka sambil tetap siaga.

Gerry tahu pasti apa kelemahan Verck dan apa yang menjadi tanda-tanda kehadiran Verck karena Gerry adalah peneliti yang mentransfer gen kelelewar dengan gen manusia sehingga menghasilkan Verck.

Gerry, Giandra dan Ganesha merupakan teman semasa sekolah dan sebenarnya mereka cukup dekat mengingat mereka juga tinggal di daerah yang sama. Namun ambisi Gerry dan Ganesha membuat keduanya bertabrakan.

“Pintu masuk sudah dekat,” kata Ganesha.

“Dan kehadiran Verck semakin banyak,” lanjut Gerry.

Giandra melengos berjalan mendahului keduanya, dia merasa lelah dan ingin secepatnya sampai pada kapsul waktu, memikirkan bagaimana hidupnya tanpa adiknya sudah membuatnya cukup terpukul.

“Giandra!”

Giandra menoleh, sesosok Verck wanita ada di sebelahnya. Di sudut bibirnya terdapat noda merah mengering membuat Giandra ngeri.

“Mau ke mana, Nona?” tanya Verck itu sambil mendesis membuat Giandra mundur ketakutan.

“Tidak,” desis Gerry. “Verck itu memanggil kawanannya. Mereka tahu kita mengejar kapsul waktu dan mereka tidak akan membiarkan kita lolos.”

“Waktu kita hanya lima menit lagi,” keluh Ganesha kesal.

Benar yang dikatakan Gerry, sekawanan Verck muncul dan mengepung mereka bertiga. Gerry sudah siap dengan senapan di tangannya, Ganesha juga memegang belati perak di tangan kanannya.

“Waktu kalian tiga menit lagi,” suara profesor Greya terdengar melalui headset di telinga Gerry dan Ganesha.

Kill, now!” sentak Gerry.

Gerry menembakkan senapannya ke jantung kawanan Verck sementara Ganesha menerjang Verck itu dengan belatinya. Verck hanya bisa dikalahkan dengan perak. Ketika kawanan Verck mulai berkurang, Ganesha mendorong Giandra untuk segera berjalan ke arah pintu masuk kapsul waktu.

Giandra berlari kemudian sensor di sebelah pintu kapsul waktu memindai iris mata Giandra dan terbuka. Giandra melihat Gerry sudah berjalan mendekat sementara Ganesha masih sibuk bergelut dengan satu Verck.

Dorr!

Giandra menembak Verck yang bergelut dengan Ganesha dan membuat Ganesha terkejut.

“Gia? Dari mana kamu-”

“Gia, cepat!” Gerry mendorong Giandra masuk ke dalam kapsul.

Dorr!

“Lupakan, Ger. Aku tidak butuh siapa pun. Aku bisa selamat seorang diri,” bisik Giandra pada Gerry, dan kemudian dia melepas sebuah tembakan lagi pada kening Gerry.

Giandra tertawa. “Aku tahu mengenai kapsul ini sejak lama karena aku merupakan salah satu mata-mata pemerintah, dan aku memanfaatkan kalian agar aku juga adik-adikku bisa selamat! Harusnya kau sadar, Ga, tidak ada cinta untukmu! Aku memacarimu dan Gerry hanya agar aku bisa mendapat akses kapsul waktu ini untuk dua adikku. Sebagai mata-mata aku hanya memiliki satu akses menaiki kapsul ini untukku sendiri.”

“Maksudmu apa? Jadi selama ini Gerry tahu semuanya? Termasuk statusmu sebagai mata-mata?” tanya Ganesha sambil berjalan menghampirinya, sekarang ia mulai mengerti mengapa Giandra sudah terdaftar sebagai penumpang kapsul waktu tadi.

“Jangan mendekat atau aku akan menembakmu,” desis Giandra. “Aku tadi menunggu adikku, bukan menunggumu. Harusnya yang datang adikku, bukan kau! Aku sudah menyiapkan akses untuknya, tentu saja berkat bantuan Gerry.”

Ganesha menatap Giandra tidak percaya. Giandra yang ingin diselamatkannya ternyata memilih mengkhianatinya.

“Adikku mati sebagai Lyctans. Akan adil jika kau menikmati sensasi mati akibat Verck. Daripada membunuhmu dengan senapan ini, aku memilih membiarkanmu mati dengan sendirinya, Ga. Anggap saja sebagai bukti cinta terakhirku.”

“Psikopat!” Ganesha mendesis.

Ganesha berusaha berlari menuju kapsul waktu namun satu Verck berhasil menggigitnya dan menimbulkan rasa nyeri, darahnya terhisap membuat Ganesha linglung dan kesakitan melandanya.

I love you too, sayang,” kata Giandra sesaat sebelum pintu kapsul tertutup.

* * * 

– Tamara Sarlita –

Posted in Materi, Wattpad - Story

Materi 3 – Dongeng

Dongeng adalah cerita khayalan atau cerita yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng biasanya bersifat menghibur dan mengandung nilai pendidikan.


Berdasarkan isinya, jenis-jenis dongeng terdiri atas lima jenis, yaitu fabel, legenda, mite, sage, dan parabel.

  • Fabel

Fabel adalah cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang.

Contoh dongeng fabel : Dongeng “Kancil Mencuri Mentimun”.

  • Legenda

Legenda adalah dongeng yang menceritakan peristiwa yang berhubungan dengan keajaiban alam, biasanya berisi tentang kejadian suatu tempat.

Contoh Dongeng Legenda : Dongeng “Terjadinya Danau Toba”.

  • Mite

Mite adalah dongeng yang menceritakan tentang dewa-dewa dan makhluk halus. Isi ceritanya tentang kepercayaan animisme.

Contoh dongeng Mite : Dongeng “Nyi Roro Kidul”.

  • Sage

Sage adalah dongeng menceritakan suatu tokoh yang berkaitan dengan sejarah. Sage biasanya menyebar dari mulut ke mulut sehingga lama-kelamaan terdapat tambahan cerita yang bersifat khayal.

Contoh Dongeng Sage: Dongeng “Jaka Tingkir”.

  • Parabel

Parabel adalah dongeng yang ceritanya mengandung nilai-nilai pendidikan atau cerita pendek dan sederhana yang mengandung ibarat atau hikmah sebagai pedoman hidup.

Contoh Dongeng Parabel: Dongeng “Si Malin Kundang”.

—————————————————

Fabel (Inggris:fable) adalah cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia. Cerita tersebut tidak mungkin kisah nyata.
Fabel adalah cerita fiksi, maksudnya khayalan belaka (fantasi). Kadang fabel memasukkan karakter minoritas berupa manusia. Cerita Fabel juga sering disebut cerita moral karena pesan yang berkaitan dengan moral.

Struktur Fabel :

  1. Orientasi : Tahap pengenalan tokoh, waktu dan tempat.
  2. Komplikasi : Tahap pemunculan masalah.
  3. Resolusi  : Tahap penyelasaian dari komplikasi.
  4. Koda : Perubahan sikap tokoh & pesan moral.

Ciri-ciri umum dan karakteristik fabel :

  1. Menggunakan tokoh hewan dalam penceritaannya.
  2. Hewan yang sebagai tokoh utama dapat bertingkah seperti manusia (berbicara, berfikir).
  3. Menunjukkan penggambaran moral / unsur moral dan kritik tentang kehidupan di dalam ceritanya.
  4. Penceritaan yang pendek alias tidak berbelit-belit.
  5. Menggunakan pilihan kata yang mudah.
  6. Dalam cerita fabel, paling baik yang diceritakan adalah antara karakter yang lemah dan kuat.
  7. Menggunakan setting alam.


* * *


Sumber
http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-dongeng-dan-jenis-dongeng.html?m=1

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Fabel

Posted in Challenge, Comedy - Genre, Fiction, Wattpad - Story

Ko – Yem [Comedy]

​Langit cerah berwarna biru menjadi saksi atas penantianku. Aku sudah berdiri lama di depan gerbang sekolah. Setia menunggu seseorang yang tak kunjung tiba.

Aku terus melihat jam yang melingkar di tangan cantikku. Ku lihat banyak murid sudah memasuki area sekolah.

“Lama nih si Kokom!” Decakku.

Kokom Markonang. Sahabatku yang super duper lebay bin ribet. Hobinya ngerepotin orang. Bahkan aku selalu jadi tameng atas keterlambatannya.

Tak lama, sebuah angkutan umum berwarna merah berhenti di depan gerbang. Seorang gadis turun dengan anggunnya. Tidak salah lagi, itu adalah Kokom manusia lebay.

“Neng kurang nih ongkosnya!” Supir angkutan itu berteriak.

“Eh bang, anak sekolah tuh emang tarif nya dua rebu kan? Kurang apaan lagi?” Balas kokom.

Aku hanya melihat dari kejauhan pertarungan antar Kokom dan supir angkot.

“Iya, emang dua rebu neng! Tapi eneng ngasih saya uangnya recehan dan saya hitung cuma seribu delapan ratus, jadi kurang dua ratus,” teriak abang itu lagi.

Akhirnya aku menghampiri mereka. Aku tak bisa menunggu lama, semakin Kokom lama aku semakin terlambat masuk.

“Ada apaan sih, Kom?” Tanyaku.

“Abangnya ribet tuh, Yem.”

“Woy, kenapa sih bang?”

“Temen non tuh, bayarnya kurang dua ratus perak!”

Aku melotot memandang Kokom. Bisa-bisanya kurang dua ratus perak segala!

“Eh pea! Cabe aje udah naik harganya, lu masih kurang bayar angkot, huh?” Aku menoyor kepala Kokom.

“Apaan? Cabe-cabean?” Tanya kokom polos.

Ndasmu Cabe!”

Tanpa pikir panjang ku keluarkan uang dari saku bajuku dan ku berikan kepada supir angkot tadi. Angkot pun pergi meninggalkan sekolah.

“Eh Kokom tuyul! Gara-gara lu lama nih, kita telatnya jadi tambah banyak, tuyul ribet emang!” Seru ku.

“Gue kan pake baju, sedangkan tuyul cuma pake kolor. Jadi gue bukan tuyul,” balas Kokom.

“Tuyul pake popok bukan kolor! Kan dia masih kecil. Kalo pake kolor tuh si kolor ijo.” Aku berusaha memperbaiki ucapan Kokom.

“Ah gue bingung, Yem. Kalo gitu mending ntar kita buat penelitian tuyul aja yuk?”

“Ogah! Gue lebih tertarik zombie daripada tuyul.”

Aku dan Kokom terus berdebat tentang tuyul, zombie, dan kolor ijo. Sampai aku tak sadar, ada seseorang berdiri diantara kami.

“Kalian!!!” Teriak orang itu, membuat aku dan Kokom berhenti berdebat.

“Astaga, kuntilanak!” Ujar Kokom, membuat orang tadi semakin geram.

“Gila lu Kom, kepala sekola lu kata kuntilanak,” bisikku pada Kokom.

“Gue keceplosan, Yem. Tadi kan kita lagi bahas hantu, eh hantu beneran malah muncul.”

Bu Tanti. Kepala sekolah yang selalu bilang dirinya hits selalu menganggap dirinya adalah penyanyi Syahrini yang cetar membahenol, eh salah membahana.

Bu Tanti mempunyai penyakit darah tinggi akut. Tapi akan berubah menjadi darah rendah, kalau udah ketemu pasangannya. 
Pak Jono, pasangan bu Tanti. Aku heran kenapa bu Tanti suka Pak Jono. Apa ia tak pernah dengar lagu Gotik yang judulnya Bang Jono? Bang Jono sama Bang Toyib pasti sahabatan. Ketemu di jalan dan gak pulang-pulang. Bu Tanti gak takut emang di tinggal Pak Jono?

“Maaf, Bu,” ucapku.

“Kokom, Tiyem! Ngapain masih di luar, huh? Gak denger bel telolet udah bunyi?”

Aku dan Kokom hanya diam, menundukkan kepala. Ini adalah cara ampuh bagi semua murid yang sedang dimarahi. Konon katanya, kalau kita menunduk bak mengheningkan cipta seperti ini, para guru akan kasihan dan akan mengampuni kita.

“Kokom, kamu ngapain!” Bentak bu Tanti.

Aku menoleh ke arah Kokom. Astaga! manusia lebay dasar! Aku selalu mengajarkan dia menunduk, tapi sekarang dia malah bersujud. Dasar lebay!!!

Aku menarik kerah baju Kokom, memaksanya berdiri.

“Gila lu ndro! Lu ngapain sujud? Bikin kanjeng makin marah aje,” bisikku.

“Gue mules, Yem.”

Aku terperangah mendengar ucapan Kokom.

“Kalian berdua, ikut saya!”

Bu Tanti berjalan memasuki gerbang sekolah. Aku dan Kokom mengekor di belakangnya.

Aku tahu, pasti bu Tanti mengajak kita ke ruangan kepsek, atau ke ruangan BK untuk memberikan hukuman.

Tapi, selama kita berjalan, aku merasa ini bukan ke arah ruang kepala sekolah atau ruang BK. Ini adalah arah toilet.

Aku menduga bu Tanti punya ikatan batin dengan Kokom. Ia tau apa yang Kokom butuhkan.

* * *
TOILET

Tulisan itu tertera di tembok bercat putih.

“Bu, kok kita disuruh kesini?” Tanyaku.

“Kalian harus bersihkan toilet ini,” jawab Bu Tanti.

“Toilet cowok juga?” Tanyaku lagi.

Bu Tanti mengangguk.

Cobaan apalagi ini Tuhan? Ini semua gara-gara Kokom Markonang!
Ku lihat Kokom masih memasang wajah santainya. Sementara Bu Tanti sudah pergi meninggalkan kita.

Aku kesal dengan Kokom. Kalau saja ia bukan sahabatku, mungkin sudah ku mutilasi dan ku buang di kloset potongan tubuhnya.

“Eh, mikir ape lu? Gue bisa baca pikiran lu nih!” Ucap Kokom.

“Masa? Coba tebak gue mikir apa?”

“Mikirin cabe yang harganya naik kan?”

“IYE KOM IYE. GUE MAU BIKIN SAMBALADO ALA AYU TING TONG.”

Aku benar-benar kesal dengan si Kokom. Yang selalu memasang wajah polos padahal hatinya biadab. Yang selalu bilang dirinya baik bak ibu peri, padahal iblis neraka.

Dan saat ini, aku mempunyai firasat buruk untuk hukuman ini.

“Kom? Ini toilet banyak banget, kita gimana bersihinnya?”

“Ye di elap bego!” Jawab Kokom dengan lantang.

Tanpa sadar kini tanganku sudah menarik rambut Kokom dengan lincahnya. Membuat ia berteriak Aw aw aw.

“Sumpah! Lu vangke! Rasanya mau gue bacok!” Aku berteriak di kuping Kokom.

“Ampun, Yem. Ini sakit bukan main,” mohon Kokom.

“Sakitan mana Kom, di jenggut apa ditinggalin tanpa sebab?”

Aku melepaskan tanganku dari rambut Kokom. Aku terjatuh, aku menangis.

Aku butuh Wafer karena kini aku sudah sangat Bafer.

“Udah, Yem. Dia udah bahagia dengan orang lain. Walaupun muka pacar barunya lebih somplak dari muka gue, mungkin ia bisa memberi kebahagiaan buat Parjo.” Kokom menenangkanku, sambil menepuk kecil punggungku.

Aku terus menangis, kini aku sudah menangis sambil tertidur diatas lantai toilet. Aku memang tak memandang tempat untuk menangis.

“Kom, gue sediiiihhhhh.”

“Gue tau kok perasaan lu. Parjo emang sadis.”

“Kommmmmm.”

Aku terus berteriak. Kokom masih memelukku.

“Sabar, Yem.”

“Ini bukan soal Parjo, Kom.”

Kokom terdiam, begitupun denganku. Kini kita saling memandang lekat, seperti dua orang yang saling mencintai.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku meringis.

“Ada nyamuk, Yem.”

Aku menangis merasakan panasnya tamparan itu.

“Kokom gilaaaa! Gue laporin lu ya melakukan KDP.”

“Apa tuh?”

“Kekerasan dalam pertemanan.”

Aku dan Kokom terus berdebat tentang hal yang gak akan bisa di mengerti siapapun. Hanya Kokom yang mengerti aku. Begitupun sebaliknya.

Kami saling mengerti. Hingga kami tak bisa lagi membedakan, mana hinaan mana pujian yang saling kami lontarkan.

Aku mulai membersihkan toilet. Dengan seenaknya Kokom menyuruhku membersihkan toilet pria. Sedangkan ia membersihkan toilet wanita.

Aku mengumpulkan tekad untuk memasuki toilet pria.

Saat tekadku sudah bulat seperti tahu bulat, aku mulai memasuki toilet itu.

“Permisi…” ucapku, namun tak ada jawaban. Dan aku lega mengetahui tak ada orang di dalam toilet ini.

Aku mulai membersihkan toilet. Hingga sebuah suara membuatku berhenri.

Haaaaa

Hiiiiiiiii


Haaaaa

Hiiiiiiiii

Aku terus mendengarkan suar itu. Kini bulu kudukku mulai berdiri. Aku membayangkan ada hantu di salah satu bilik toilet itu.

Banyak beredar gosip kalau di toilet pria ini memang berhantu.

Suara itu kini menghilang. Tak terdengar apapun lagi. Aku pun melanjutkan lagi tugasku.

Aku mulai menyetel lagu yang ada di list music smartphone ku.

Kesana kemari membawa alamat

Namun yang ku temui bukan dirinya
Sayaaaanggg…

Yang ku terimaaaaa alamaaat palsu…
Ku tanya pada teman-teman semua 

Namun mereka bilang tidak tahu

Sayaaaanggg… mungkin diriku 

Telah tertipu….

Aku bernyanyi mengikuti irama lagu Ayu Ting Tong itu. Itu adalah lagu kesukaanku.

Syalalala syalalala syalalala

Aku mendengar suara lain. Itu bukan suaraku, bukan juga suara Ayu Ting Tong di HP ku.

Aku semakin geram, aku dengarkan suara itu dengan seksama.

Ku ikuti arah suara itu berasal. Dan ternyata suara itu dari bilik keempat. Bilik yang tertulis ‘Rusak’ di pintunya.

Aku semakin takut. Aku ingin sekali mendobrak pintu itu dan melihat siapa yang ada di dalamnya. Tapi aku sangat penakut.

Aku putuskan berlari menemui Kokom. Meminta bantuan Kokom untuk melihat bilik keempat itu.

“Koooommmmm,” terikku.

“Kenape lu? Di kejar cabe?”

“Cabe mulu lu! Ini lebih dari cabe! Ini serem.”

“Ah lu mah kecoak terbang aja lu bilang serem!”

“Emang kecoak terbang serem bego! Sama seremnya sama lu Kom.”

“Sa ae! Eh lau kenape?”

Aku tak berniat untuk menjelaskan panjang lebar. Ku tarik Kokom ke dalam toilet pria. Dan ku tunjukkan ia bilik keempat.

“Ada apaan? Lu mau bersihin toilet rusak?”

“Rajin banget gue oy! Ada setan di dalem.”

“Hah? Ketan? Masa makanan di toilet!”

“Setan oy setan!!! Lu setan Kom setan!!! Setan telolet setan!!!”

Aku berteriak di kuping Kokom biadab itu. Bisa-bisanya ia bercanda disaat seperti ini.

“Coba ceritain dulu, Yem. Gak lucu kan kalo gue dobrak terus gak ada apa-apa! Ntar gue suruh ganti nih pintu.”

“Tadi gue lagi bersihin toilet sambil nyanyi lagu alamat palsu. Nah, ada suara yang ikut nyanyi dari dalam sini.”

Tanpa basa-basi Kokom menendang pintu toilet itu dengan tenaga dalam yang luar biasa. Bisa dibilang Kokom itu manusia super, satu tendangan saja bisa membuat pintu ini rusak.

“Ah upil! Apaan hantu, noh liat!!” Kokom menunjuk ke dalam bilik toilet yang ia dobrak.

Aku melihat dengan seksama, ternyata di dalam sana ada Pak Jono sedang tertidur, atau bahkan pingsan.

“Pak Jono mati kali ye? Kok gak bergerak?” Ucapku.

“Coba jedotin palanya, Yem.”

“Mati ntar bego!”

Aku mendorong-dorong tubuh Pak Jono, berusaha menyadarkannya.

Tak lama, Pak Jono pun tersadar.

“Akhirnya… ” ucapnya bahagia.

“Bapak ngapain disini? Nungguin bu Tanti?”

“Selama ini saya terkunci disini. Gak ada yang mau menolong saya, semua malah lari ketakutan,” jelas Pak Jono.

“Lah iya lah takut! Wong suaranya serem gitu,” ujarku.

Aku menarik Pak Jono keluar dari toilet itu.

“Btw, udah berapa lama di toilet?” Tanya Kokom.

“Dua bulan.”

“Haaaaah!” Aku dan Kokom teriak bersama.

Sungguh luar biasa Pak Jono cem eman Bu Tanti ini. Kasus Keluarga di Sandera di Toilet aja cuma bisa bertahan dua hari. Lah ini? Dua bulan coyyy!!! Bapak yang luar biasa.

Kita bertiga pun kelur dari toilet. Aku dan Kokom menunjukan senyum bahagia karena sudah menjadi dewa penolong Pak Jono.

* * *


– Nisa –

Posted in Challenge, Comedy - Genre, Fiction, Wattpad - Story

Stand Up yang Pesimis [Comedy]

Di sebuah kafe terdapat remaja kuliahan yang sedang berkumpul, remaja – remaja itu sangat aneh. Salah satu remaja perempuan baru datang, masuk ke dalam kafe itu.

“Hai gengss…” panggil Google  (GOlongan Orang sinGLE).

“Hai juga, Gle. Ada ape? Tumben gembira sangat lu.” sahut si Pesut. (PEmuda SUka kentuT), sebenarnya si Pesut ini nama aslinya adalah Riky Irawan, cuma dia tukang kentut tak tahu tempat makanya di panggil Pesut sama teman – temannya.

Dan si Google ini nama aslinya adalah Clara Chyntia Dewi, kenapa dipanggil Google alias GOlongan Orang sinGLE? Dia sebenernya jones sejati, tapi dia yang ga ngakuin mantannya dan mengaku single. Padahal mah? Hemeh bullshit’-‘ (Bull → Bufallo → Kerbau) (Shit → Tai) Jadi, bullshit itu artinya tai kebo😂

“Gue, dapet brosur tadi pas di WC.” Teman – temannya menatap Google horor, di WC dia mu gut brosur?

“Lu mungut ini di WC? Di mananya? Jangan – jangan di closetnya lu kobok.” tanya si Bejo (BErtahan JOmblo).

Berbeda dengan Google si Bejo ini mengakui dirinya jomblo, tapi kalau ia dipanggil jones dia akan benar – benar mangamuk. Nama asli dia sebenarnya adalah Benedict Johanson, dia padahal ganteng banget, tinggi, ya mirip sama Shawn Mendes lah ¹¹/¹² ga beda jauh. Bedanya dia koplak banget, terlalu jujur. Bukan masalah di jujurnya tapi, ini orang jujurnya nyelekit semua. Jadi dia pacaran paling lama 1 minggu’-‘

Miris? Emang.

“Enak aja lu, Bejo. Ini ada di tembok sebelum gue masuk WC peak.” jawab Google dengan sebal. Ya kali dia tukang sedot WC, walau dirinya ini ya rada – rada kurang waras tapi Google ini masih ngerawat penampilannya. Bisa jatuh harga dirinya.

“Brosur apaan sih ini?” Josgan merebut brosur itu dan membacanya dengan ekspresi sok serius. Sekali lagi ditekankan kata “SOK”.
(Josgan: JOmblo Sok eleGAN). Josgan ini nama aslinya adalah Tiwi Marsha Bieber.

Melihat Josgan seperti itu, yang lain jadi ikut membacanya.

“HAH? LOMBA STAND UP?” ucap mereka bersamaan dengan kompak. Mereka langsung  menatap Google secara bersamaan.

* * *


Ini adalah kisah 4 sekawan yang mengikuti kegiatan tambahan (ekstrakurikuler) mereka mengambil ekstrakurikuler stand up. Entah mengapa mereka mengambil itu, karena saat demo ekstrakulikuler pertama masuk kuliah mereka merasa tertarik, dan mereka pertama kali bertemu saat pertemuan ekstrakulikuler stand up. Sebenarnya, mereka berada di jurusan yang berbeda – beda. Menurut mereka, stand up adalah hal yang menyenangkan bisa menghibur orang banyak. Kata – kata yang disampaikan menyakiti hati tak usah dianggap serius.

“Jadi, kalian mau pada ikutan?” tanya Josgan. Mereka sedang berjalan menuju perpustakaan. Walau mereka semua gesrek, tapi tugas kuliah tak boleh di abaikan.

“Ikutan stand up itu? Pasti dong.” jawab mereka serempak, kecuali si Google. Dia tidak menjawab ‘iya’ ataupun menjawab ‘tidak’. Dia hanya diam dan menundukkan kepalanya melihat ke bawah.

“Cla, kenapa lu engga jawab? Engga mau ikut lu?” Google diam, ia sebenarnya mau ikut. Tetapi, ia kurang percaya diri. Kemampuan stand up nya tidak terlalu buruk padahal, yah masih terbilang lumayan. Tapi apalah daya. Sifat kepesimisannya lebih besar dari semangatnya itu.

“Keknya gue engga ikut deh.” Semua langsung menoleh secara refleks.

“Lu kan yang paling kocak.” 

“Iye, lu diem aja pada ketawa.”

“Bener lu engga ikutan?”

Google yang diserbu dengan kata – kata yang menurutnya itu seperti membangunkan semangatnya.

Dia akan mempertimbangkan dia akan ikut stand up atau tidak.

“Gue pikirkan lagi nanti deh gengs.” jawab Google.

Kemudian, mereka masuk ke dalam perpustakaan untuk mencari buku yang mereka butuhkan.

* * *


Lomba stand up di brosur tertulis tanggal 22 Januari, yang berarti hari Minggu. Sekarang sudah tanggal 16, berarti kami hanya punya waktu 1 minggu untuk berlatih stand up?

“Woi, lomba stand up tinggal 1 minggu lagi nih.” ucap Clara.

“Emang kenapa sih Clar? Tumben amat lu menggebu – gebu, sebelumnya aja lu engga ada niatan ikut.” sahut Tiwi.

‘Iya ya, kenapa sekarang gue antusias banget.” batin Clara.

“Gue ikut kok.” putus Clara spontan (kata – katanya rada aneh disini).

Seriously?” tanya Riky. Bejo yang sedang memainkan ponselnya langsung berhenti.
Clara tersenyum tulus, lalu mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan teman – temannya.

* * *


H – 4

“Woiiii, ayok latihan.” ajak Clara.

“Maaf Gle, gue ada kerpok nih.” Bejo dan Riky menjawab bersamaan.

“Dih? Terus Josgan kemana tah?” Bejo dan Riky mengendikkan bahu, dan Clara pun merasa kesal sendiri. Dia pergi begitu saja.

* * *


H – 1

“Eh, kita udah H – 1 gimana atuh? Masa gue udah mau ikutan, tapiiii kalian malah kaga ada yang mau latihan bareng. Sedih gue sedih. Ini lebih menyedihkan daripada gue jones.” cerocos Clara.


Dia udah kesal tingkat dewa krisna atau dewa yang sering disebut neneknya Tapasha.

“Gue udah bikin teksnya Gle,” ucap mereka bersama. Reaksi Clara?

Matanya melotot lebar, mulutnya menganga. Dia syok, gimana gak? Dia kaga bikin mau nungguin temennya. Tapi—

‘Dasar teman – teman laknat.’ batin Clara.

* * *


Clara PoV


Emang teman laknat sebel gue. Mana belum bikin. Apa gue ga ikut ya?

Lagian ikut juga belum tentu menang, udah cape mikir ga menang lagi. 

Tepar da‘-‘

Ditengah jalan, gue sadar, buat apa gue ngedumel gini. Mending gue bikin naskah buat stand up nanti. Menang ga menang urusan belakangan.

Biarlah ga menang, yang penting bawa enjoy.


* * *


Author PoV


Lomba – 

“Duh dag – dig – dug guee.” batin Clara.

“Bahkan ini lebih parah daripada gue berhadapan ama doi.” batin Clara lagi.

“Apa gue balik aja ya?” ucapp Clara dengan suara yang lirih.

“Tapi– kalau gue di diskualifikasi, gue bakal malu. Nama gue juga yang ternodai.” Clara mengacak – acak rambutnya. Ia jingkrak – jingkrak kesana – kemari. Tidak peduli rambutnya akan rusak, penampilannya kacau. Rasanya tuh, waktu ini lamaaaaaaa banget. Berasa 1 abad.

“Hai, Gle. Lu masih belom dipanggil?” ucap Riky, sedangkan ketiga temannya menganggukinya.

“Blom.” jawab Clara dengan raut wajah yang sedih. 

“Kalian sih, udah belum?” tanya Clara balik.

“Udah dong, semua disana juga tertawa. Meski ga semuanya tertawa.” jawab Tiwi mewakili yang lain.

“Oh iya Gle, kita keluar dulu ya mau cari minum.” Bejo kali ini angkat bicara. Clara mengangguk, lalu yang lainnya pergi.

Tak lama kemudian – 

“Clara Chyntia Dewi.” panggil panitia.

“Itu nama gue? Nama gue dipanggil, duh.” Clara bukannya maju untuk tampil, malah mengoceh sendiri.

“Mba maaf, itu nama mba bukan yang dipanggil?” Seseorang menepuk pundak Clara.

“Ha? Ah iya, itu nama saya. Maafkan saya.”
Setelah berbicara seperti itu, Clara melangkahkan tubuhnya ke atas panggung. Dan berdiri diantara para juri, para penonton. 
Seketika Clara termenung, dan dia ingin membunuh dirinya sendiri saat itu.

“Silahkan mulai,” ucap salah satu juri disitu.

“Ekhem, tes – tes.” memulai pengetesan.
“Selamat malam semuaa.” Clara menyapa semua yang ada disitu.

“Selamat malam juga.” jawab para penonton dan juri.

“Kenalin nama gue Clara, keren kan nama gue.” ucap Clara dag – dig – dug.

Krik – krik

“Nah gue punya temen, masa gue dipanggil Google. Kalian tau ga kenapa?” tanya Clara.
Semua refleks menggeleng, ada juga yang menjawab tidak.

“Yailah kalian gatau, kan gue belum bilang.” jawab Clara.

Orang – orang mendesah kecewa, ada yang sedikit tertawa, ada juga yang memasang ekspresi bete atau kesal.

“Hahaha, ya iya gue kasih tau. Gue dipanggil begitu, karena gue masih alone alias sendiri alias jomblo– eh? Ga deng gue single. Kan arti google tuh golongan orang – orang single.”jelas Clara.

“Oh iya, tema gue hari ini adalah jomblo.” ucap Clara.

“Sebelumnya maaf kawan, kalau ini ga lucu.” batin Clara.

“Ada yang bilang jomblo sama single itu berbeda. Katanya jomblo itu nasib, tapi single itu prinsip. Bagi gue sama aja, cuma beda bahasa aja, dua – duanya juga sama – sama nggak punya pasangan.” ucap Clara singkat.
Sementara yang lain masih pada diam menunggu kata – akta selanjutnya.

“Jadi jomblo itu nggak enak menurut sebagian orang. Yang pacaran asik nungguin SMS pacar, yang jomblo dapet SMS–” Clara sengaja memotong melihat ekspresi yang lain. A Kebanyakan memasang ekspresi penasaran akan kelanjutannya. Ada juga yang berfikir alias menduga – duga.

“Seneng banget tuh si jomblo dapet sms taunya isi sms ituu—” sengaja Clara potong juga.

“Apa sih kak? Penasaran tingkat dewa nih.” Ada yang berteriak seperti itu di ujung kursi penonton.

Clara melanjutkan stand up nya. “Sisa pusa Anda tinggal sedikit lagi, silahkan isi ulang dengan mengetik *111#” Clara menirukan suara operator yang biasa berbicara, kalau ketika nelfon seseorang taunya pulsa yang ia punya sudah habis. Karena sms tak bisa disuarakan, makanya ia menirukan ketika sedang menelfon.

Para juri dan penonton tertawa semua. Bahkan ada yang tertawa terbahak – bahak. 

Ketika suara tawa itu telah reda Clara melanjutkan stand up nya.

“Jadi jomblo itu nggak enaknya gini, kalau kita sedang nongkrong sama teman yang sudah punya pacar, nggak enaknya lagi ngobrol – ngobrol, eh dia ditelpon pacar. Dia asyik telponan, gue cuma bengong, sambil ngenes. 

Pegang HP cuma geser – geser menu doang. Buka Facebook, ada yang pasang foto couple
Buka profil mantan, status dia udah berpacaran. Tambah ngenes deh.” jelas Clara dengan menirukan ekspresi bengong yang sangat kocak ditambah menirukan ekspresi ngenes yang ngeliat mantannya udah punya pacar lagi sambil memegang hp ditangannya.

“Tapi, yang pacaran jangan bangga dulu.” Clara berbicara sedikit.

“Kalian semua juga dulunya jomblo. Nggak ada manusia begitu lahir langsung dapet pasangan. 

Nabi Adam aja dulunya jomblo sebelum akhirnya Siti Hawa diciptakan. Bagi yang jomblo, tenang aja, tahun ini jomblo, siapa tahu tahun depan—” Clara sengaja menggantungkan kalimatnya, walaupun dia tau digantung itu ga enak. 

Sakit coyyyy!

Penonton dan juri pun kesal yang digantung begitu saja. Sebelum Clara diamuk masa, dia melanjutkan kata – katanya.

“masih jomblo juga.” Clara tertawa yang lain pun tertawa. 

Terdengar suara dari penonton, “tuh kan bener masih jomblo juga. Hahahaha.”

Clara tersenyum.

“Orang yang pacaran juga nggak selamanya seneng. Masalah kecil bisa bikin berantem. 
Permintaan pacar nggak diturutin, pacar minta putus. 

Pacaran itu kayak makan tebu, awalnya aja manis, lama-lama hambar.

Sedangkan kalau jomblo ibarat minum jamu, dari awal sampai akhir pahit. 

Tapi— 

Jangan lihat pahitnya, lihat khasiatnya. Sekian dari Clara golongan orang single, selamat malam. Sampai jumpa.”

Tepuk tangan sangat riuh di aula situ, karena penampilan Clara yang sangat menghibur mereka. Meskipun stand up nya sangat sederhana tapi, itu lebih dari cukup untuk sebuah audisi.

* * *


“Wuihhh, keren lu Gle.” Pujian Bejo kepada Clara.

“Ia lu keren abis, meski awalnya garing tapi tepuk tangan itu WOW pake B.G.T.” sambung Tiwi.

Kemudian mereka bercakap – cakap hingga pengumuman pemenang ditempel di tempat pengumuman dekat dengan pintu masuk.

Dan ternyataaaa….

Clara yang menang, ia juara utama.

Nah kawan, janganlah menjadi orang yang pesimis. Meski engkau tidak berhasil, cobalah itu dulu. Karena lebih baik kau menyesal sesudah mencoba. Daripada kau menyesal karena tak pernah mencobanya.

* * *


– Debiana –

Posted in Materi, Tips & Trick, Wattpad - Story

Materi 2 – Writer’s Block

Writer’s block adalah keadaan di mana seorang penulis tidak dapat menuangkan segala idenya ke dalam tulisan. Pikiran menjadi buntu, otak terasa kaku, seolah ada yang menghalangi keluarnya gagasan. Tak satu pun kata, apalagi kalimat atau pun paragraf yang mampu dihasilkan oleh sang penulis.

Berikut ini ada beberapa penulis terkenal berbicara soal writer’s block:

  • E.S Ito (Negara Kelima dan Rahasia Medee)

Realitasnya kita memang tidak bisa menulis terus menerus, walaupun bahan-bahan yang dibutuhkan cukup tersedia. Untuk mencegah mentok dalam menulis ya jangan dipaksakan kalau sedang tidak mood.

  • Ratih Kumala (Tabula Rasa, Genesis dan Larutan Senja)

Aku kalau merasa udah over load lebih baik istirahat dulu. Sekarang-sekarang ini aku enggak memaksakan diri untuk terus-terusan menulis, karena memaksakan juga hasilnya gak akan bagus. Tulisanku gak maksimal. Tapi di antara waktu jeda itu, aku juga menghibur diriku dengan baca buku-buku fiksi yang bagus. Jadi, sedikit demi sedikit aku berusaha memancing mood-ku sekalian.

  • Raditya Dika (Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, dll)

Ya harus dipaksain. Masalah mood itu kan cuma alasan. Kalau kita turutin, kapan selesainya sebuah karya. Jadi menurut gua sih bullshit aja, mending langsung dikerjain. Mau jelek, biarin jelek. Tulisan jelek lebih baik dari pada gak ada tulisan sama sekali.

Penyebab Writer’s Block :

  • Inkonsisten dalam menulis

Tidak konsisten menulis ini contohnya saat sedang mengerjakan satu novel atau cerpen tiba-tiba di tengah jalan muncul ide lain dan justru membuat cerita baru yang berbeda. Sehingga cerita terdahulu justru mengalami kebuntuan.
P.s : ini banyak dialami oleh para penulis yang kebanyakan ide.

  • Adanya kegiatan lain di luar tulis-menulis

Ini mungkinnya akan dan pasti dialami oleh setiap penulis, terutama penulis online seperti wattpad. Anak sekolah, kuliah, kerja bahkan ibu rumah tangga pasti memiliki kegiatan lain di luar menulis.

  • Terlalu Lama Menunda Tulisan

Mungkin menunda tulisan sementara dapat menyegarkan pikiran. Teyapi jika terlalu lama menundanya, akan berakibat terkena virus writer’s block sangat besar.

  •  Krisis PD

Hal ini bisa terjadi pada penulis yang mungkin masih baru memulai tulis.menulis. Penulis akan berpikir, “apakah cerita ini bagus?” “ah tapi kayaknya jelek deh.” Dan lain sebagainya. Sehingga menimbulkan penundaan yang lama untuk kembali menulis atau melanjutkan cerita.

  • Pandangan remeh orang terhadap profesi penulis

Masih ada banyak orang beranggapan bahwa menjadi penulis bukanlah profesi yang bagus. Penghasilan penulis yang tentunya bergantung pada hasil penjualan menjadi pemicu besar. Penulis yang tidak memiliki mentaal kuat dalam mendengarkan presepsi orang-orang ini pasti akan dengan mudah terganggu dan menimbulkan kemalasan dalam melanjutkan tulisannya hingga dia merasa yakin dengan apa yang dijalankannya.

  • Ego Tinggi

Suatu karya sebagus apapun itu pasti akan tetap mendapatkan kritikan. Jadi, seorang penulis harus menbuang ego-bya jauh-jauh dan menerima kritikan itu sebagai masukan. Bukannya justru merasa rendah dan memutuskan untuk berhenti dan mulai berpikir kembali, tetapi cobalah untuk membuat cerita yang lebih baik lagi.

  • Kesehatan yang tidak prima

Dalam membuat sebuah tulisan penulis tentunya juga membutuhkan keadaan yang optimal. Jika kesehatan sedang menurun tentunya akan sulit bagi penulis untuk menciptakan sebuah tulisan.

  •  Tempat menulis yang tidak pas

Tempat menulis yang tidak pas dapat menjadi faktor juga. Contohnya keadaan tempat menulis yang ramai sementara penulis menbutuhkan tempat yang damai dan tentram untuk menulis.

  •  Masalah pribadi

Masalah pribadi pasti sangat mengganggu bagi seorang penulis. Contohnya penulis yang sedang ada masalah dengan pacarnya akan sulit menciptakan adegan romantis.

Trik jitu mengatasi writer’s block

  • Segarkan Pikiran

Terlalu lama berada di depan komputer, berpikir dan menuangkan gagasan ke dalam tulisan, membuat otak menjadi lelah. Jika sudah begitu, sebaiknya Anda tidak memaksakan diri untuk menulis di depan komputer. Pergilah keluar, cari udara segar. Ketika kembali, otak akan menjadi lebih segar dan siap untuk bekerja.

  • Ciptakanlah tempat menulis yang nyaman

Ruang tempat menulis sangat mempengaruhi produktivitas seorang penulis. Jika Anda mempunyai ruang ber-AC mungkin itu akan terasa lebih nyaman ketimbang sebuah kamar kecil yang pengap.

  • Carilah waktu terbaik untuk menulis

Setiap penulis mempunyai waktu terbaiknya untuk menulis. Tentu, waktu itu berbeda antara seorang penulis dengan penulis lainnya. Anda dapat mempelajari kapan Anda merasa lebih lancar menuangkan ide ke dalam tulisan, misalnya, pagi hari, siang hari atau malam hari. Berdasarkan pengalaman, waktu terbaik saya menulis adalah pagi hari, beberapa saat setelah bangun tidur, ketika otak masih segar. Pelajari waktu terbaik Anda dalam menulis, dan menulislah secara rutin pada waktu itu

  • Asahlah kemampuan menulis Anda

Mengasah kemampuan adalah hal yang sangat penting bagi seorang penulis. Menulis bukan sekedar merangkai kata. Menulis adalah seni yang harus didukung dengan teknik yang baik. Pelajari struktur sebuah kalimat efektif, peta/map sebuah paragraf dan jenisnya, kalimat transisi, headline yang menarik, dan lain sebagainya.

  • Carilah informasi tentang topik yang sedang  Anda tulis

Salah satu sebab mengapa otak terasa “blank” ketika menulis adalah kurangnya informasi tentang topik yang akan ditulis. Informasi itu bisa didapat dengan berbagai cara. Membaca adalah cara utama yang bisa dilakukan. Membaca adalah pekerjaan wajib seorang penulis. Dari tulisannya kita bisa mengetahui apakah membaca banyak buku atau tidak.

* * *

Sumber :

http://warungfiksi.net/9-penyebab-writers-block-kenali-dan-hindari/

http://warungfiksi.net/banyak-jalan-untuk-merontokkan-writers-block/

http://m.kompasiana.com/crackpot/lima-trik-jitu-mengatasi-writer-s-block_55193fbda33311a116b65931

Posted in Event Duel, Fiction, Horror - Genre, Second - Winner, Wattpad - Story

Pojok Ruangan [Horror]

Semilir angin dingin terasa di dalam sebuah kelas yang sunyi membuat merinding bagi siapa saja yang merasakannya. Namun, siapa sangka hawa dingin itu menyimpan sebuah misteri. Misteri yang sudah menjadi rahasia umum di sekolah itu. 

“Kami akan menunggu kalian!” terdengar suara lirihan dari dalam kelas itu. 

* * *

Sinar mentari datang menyambangi bumi dan menyinari sebuah bangunan sekolah yang sering di kenal dengan nama Accross School. Terlihat seorang anak perempuan melewati pintu gerbang dengan cardigan hitamnya. Entah mengapa dari semua anak yang melewati gerbang bersamaan denganya, tak ada seorang pun yang menyapanya. Mungkin, karena ia sudah terbiasa jadi, ia tak ambil pusing dengan sikap teman-teman padanya. 

Ia tiba di depan ruang kelasnya. Kelas X-3. Keadaan kelasnya kosong dan tenang, namun mencekam. Apalagi saat ia tak sengaja memandangi salah satu pojok ruangan dikelasnya yang konon, katanya bagi siapa yang memasuki kelas  dan mendekati pojok ruangan itu berjumlah genap, maka mereka bisa membuka sebuah misteri. Misteri sebuah pintu waktu. Karena hal itu, ia mengurungkan niatnya untuk memasuki kelasnya. Pasti kalian bertanya-tanya bukankah dia sendirian? Sendirian itu bukanlah angka genap. Dan  bukannya ia takut, tapi ia juga mengetahui sebuah rahasia lagi tentang mitos itu yang membuat dirinya harus menunggu para sahabatnya yang akan datang beberapa menit setelah ia datang. Ia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi panjang di depan kelasnya. 

“Hai, Kinan,” sapa Edel, Orlan, Rayhan, dan Alfy bersamaan.

“Hai, juga,” balas Kinan yang mempunyai nama lengkap Kinanthi Angelica. Mereka lalu duduk di sebelah Kinan. 

“Masuk kelas yuk!” ajak Edel dan disetujui oleh mereka semua. Namun, tiba-tiba Edel berhenti di depan pintu sambil membentangkan tangan nya yang menyebabkan insiden tabrakan beruntun di belakangnya. 

“Ish, Del. Lo ngapain sih. Berhenti tiba-tiba!” kesal Kinan sambil mengusap keningnya karena menabrak punggung keras milik Rayhan. 

Edel, lalu berbalik sambil nyengir kuda. “Gue cuman mau mastiin. Kita ganjil atau engga,” ujarnya.

“Iya,” jawab mereka kompak. 

Okay, let’s go guys.” 

Mereka memasuki kelas dan disambut oleh hawa dingin yang bisa dirasakan oleh mereka semua terutama, Kinanthi Angelica. Dari mereka berlima hanya Kinan yang sangat peka merasakan energi gaib. 

“Tunggu deh, guys. Gue ngerasa ada hawa negatif kuat disekitar sini,” ucapnya sambil memperhatikan ke sekelilingnya.

“Kinanthi Angelica, di kelas kita kan ada mitos “Pojokan Kelas” wajarlah lo ngerasain itu,” ujar Edel. 

“Tapi, ini beda, Del. Gue ngerasa ada yang aneh sama kedatangan kita barusan. Seperti… ada yang menyambut kita.” 

“Apa!!” kaget mereka. Lalu seseorang datang. Orang itu melihat sekilas ke arah Alfy yang juga sedang menatapnya. Orang itu lalu membuang mukanya dan duduk di kursinya. 

“Iya… gue yakin. Gue gak salah.” 

“Udahlah semoga gak ada apa-apa. Siapa tau dia nyambut semua anak-anak kelas ini yang mau masuk.  Kita gak ada yang tahu, kan? Bentar lagi bel masuk. Kelas juga rame,” terang Rayhan mencoba postive thingking

Tak lama murid-murid berdatangan. Setelah itu seorang guru memasuki kelas. Pelajaran pun dimulai dengan tertib. 

Selama setengah jam acara KBM itu berlanggsung. Alfy tetap meperhatikan seorang cewek yang pendiam di kelasnya. Jarang berbicara dan tak mempunyai teman. Cewek itu memiliki banyak misteri yang membuat Alfy penasaran. Kegiatan Alfy teralihkan oleh seorang laki-laki bertubuh tegap dan tinggi memasuki kelas mereka. 

“Assalamualaikum anak-anak dan Bu Isma. Maaf bapak menganggu kegiatan belajar kalian. Bapak disini hadir untuk menginformasikan bahwa ada kegiatan Persami untuk anak kelas 10 dan 11 yang akan diadakan hari jumat minggu ini. Di mohon partisipasinya. Terimakasih.” jelas laki-laki paruh baya itu yang mereka ketahui adalah Kepala Sekolah mereka. Setelah berterimakasih pada murid di kelas. Pak KepSek keluar dari kelas. 

Terdengar bisik-bisik membicarakan kegiatan Persami yang akan di laksanakan pada hari Jumat. Terutama Kinan dan kawan-kawannya. 

Bisik-bisik ria pun dihentikan dengan suara penggaris yang yang menghantam meja dengan kerasnya. Kelas pun menjadi hening. 

* * *
“Kita ikut persami, kan?” tanya Edel. Mereka sekarang berada di rumah Edel untuk membicarakan Persami dan sekalian kumpul seperti biasa. 

“Yup,” jawab Orlan singkat.

“Rayhan, lo kenapa? Dari tadi diem aja? Lo denger gak? Kita tadi lagi ngomongin apaan?”

“Eh… emangnya kalian lagi ngomongin apa?” tanya Rayhan. 

“Lagi mikirin, apaan sih lo?”

“Lo semua tau kan? Kalau ada misteri hilangnya kak Devras dan kak Nico, anak kelas 12?” Mereka mengangguk bersamaan. 

“Gue penasaran. Kenapa mereka bisa hilang dan sampai sekarang belum ditemukan jejaknya.”

“Sama gue juga. Katanya mereka hilangnya karena gak sengaja masuk ke kelas kita. Dan mereka mendekati pojok ruangan itu.” 

“Gimana kalau besok pas kita Persami kita mecahin misterinya?”

“Gak!” protes Kinan. 

Why? Kita kan cuman mecahkan misteri aja. Emangnya lo gak penasaran tentang Misteri Pintu Waktu?”

“Iya tuh. Kayaknya seru. Siapa tau aja kita menemukan seseuatu disana. Sekalian petualangan. Kita bisa kemana-mana pastinya,” ujar Edel semangat. 

“Lo semua gak tahu, kan? Asal usul mitos itu? Kalaupun kita tau. Apakah kalian juga tahu bagaimana cara keluarnya?” 

“Menurut dokumen yang gue dapat. Cara keluarnya yaitu dengan kita masuk dulu nanti disana kita akan diberitahukan,” kata Rayhan.

“Cara keluarnya aja kita gak tau. Kalau gitu, memangnya kalian bisa jamin. Kita akan balik lagi ke dunia asal kita?” 

“Gue yakin bisa. Karena itu hanya pintu waktu.” Rayhan membuka kembali dokumen yang ada di tangannya. Tapi, sebuah kertas jatuh. Ia pun mengambil kertas itu dan membacanya. 

Misteri Pintu Waktu



Semua ini hanya ilusi. Ingat dengan baik kata-kata itu. 
Masa lalu memang sebuah masa terjauh dari kita. 
Masa depan adalah masa yang akan menghampiri kita. Bisa menjadi sangat dekat ataupun jauh. Kita tak ada yang tahu. 
Tapi, ingatlah satu hal. Semua ini hanya ilusi dan hanya orang-orang spesial yang akan mengerti maksud dari kata-kata itu. 098762′


“Apa maksudnya? Gue gak ngerti.” 

“Sama gue juga. Yaudahlah ya, intinya kita bawa surat ini dan dokumen-dokumennya. Dan kita akan tetap untuk memecahkan misteri ini.” 

Semua setuju kecuali, Kinan. 
* * *



Hari yang ditunggu-tunggu mereka pun tiba. Terkecuali, Kinan. Ia bahkan tak mau berganti hari jika hari itu. Hari yang telah ditunggu-tunggu para sahabatnya. 

Mereka berangkat ke sekolah pukul 17:00. Sebelumnya mereka sudah mempersiapkan segalanya bukan untuk kemah, melainkan untuk petualangan yang akan mereka lakukana. Termasuk, Kinan yang tak setuju. Ia juga sudah mempersiapkan semuanya. 

Sekitar 15 menit mereka sudah sampai di sekolah. Mereka mengikuti semua kegiatan Persami pada sore itu. Karena petualangan mereka akan dilaksanakan pada malam hari. 

Kegiatan itu selesai sampai  jam 10 malam. Mereka diperbolehkan beristirahat di dalam kelas yang telah dipersiapkan. Karena Perasami ini tidak menggunakan tenda seperti Persami pada umumnya. Hampir semua kelas di lantai bawah terpakai. Kecuali, kelas X-3. Kelas satu-satunya yang tak terpakai atau bahkan tak diperbolehkan untuk di pakai pada malam hari. 

Sekitar jam 11.30 semua orang sudah tertidur dan saatnya Rayhan dkk menjalankan petualangan mereka yang sudah dipersiapkan matang-matang. 

Kinan dan Edel keluar kelas  mengendap-endap sambil membawa tas mereka. Disaat yang bersamaan Rayhan, Alfy, dan Orlan melakukan hal yang sama seperti Kinan dan Edel. 

Mereka bertemu di koridor samping kelas X-1. 

“Udah lengkap, kan kita? Gak ada yang kurang?” tanya Orlan sambil memperhatikan keselilingnya dengan pandangan ngeri.

“Udah,” jawab Rayhan santai. Edel tiba-tiba menjitak Rayhan. Ringisan pun terdengar dari mulut Rayhan.

“Belum, menurut mitos itu. Kita harus genap. Tapi kita sekarangan kita ganjil.” 

“Astaga… kenapa kita bisa lupa tentang ganjil genap.” Mereka yang sedang sibuk-sibuknya memikirkan siapa yang akan menjadi orang ke enam. Mata Alfy tak sengaja melihat sesosok manusia yang sedang berjalan. Dengan cepat ia mengenali sosok itu. Ia pun mengejar sosok tersebut. Di ikuti oleh Kinan dan yang lainnya.

“Adlina, lo mau ikut kita engga?” kata Alfy to the point setelah memegang tangan Adlina.

“Untuk apa aku ikut bersama kalian?” tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka semua lalu menjelaskan pada Adlina dan terus meyakinkan Adlina. Sekitar setengah jam mereka bisa meyakinkan Adlina. Jadilah orang keenam adalah Adlina. 

“Karena semua udah lengkap. Ayo deh kita langgsung kesana. Bentar lagi udah jam 12,” ujar Rayhan. Mereka semua berjalan di iringi dengan pembicaraan santai. Kecuali Alfy, Kinan, dan Adlina. 

Tak lama mereka sampai di depan kelas. Jantung mereka tiba-tiba berdegub kencang. 

“Okay kita buka pintunya bareng-bareng dan kita langgsung masuk. Satu… dua… go.” Mereka membuka pintu kemudian masuk ke kelas. Hawa dingin menyambut kedatangan mereka. Walaupun mereka sudah memakai jaket. Namun, tetap saja. Karena itu bukan hawa dingin biasa. Mata mereka langgsung  tertuju pada pojok ruangan. Perlahan tapi pasti mereka mendekati pojok ruangan tersebut. Sampai akhirnya mereka sampai tepat di depan. Tak mau membuang-buang waktu. Mereka segera menyentuh tembok secara bersamaan. Tiba-tiba sebuah pintu muncul dan terbuka. Kinan dan Rayhan masuk terlebih dahulu, lalu Edel dan Orlan, terakhir Alfy dan Adlina. Setelah mereka masuk pintu pun tertutup. 

“Akhirnya kalian datang. Hahaha… silahkan berpetualangan di dunia ilusi. Karena ‘Semua ini hanyalah ilusi’ Masa lalu adalah masa terjauh kita dan kita tak mungkin untuk kembali lagi…,” suara lirihan itu terdengar lagi.

* * *


– Febriana –

Posted in Event Duel, Fiction, First - Winner, Horror - Genre, Wattpad - Story

The Elevator [Horror]


“Mau coba?” tawar Gilang pada Farhan. Gilang sedang artikel yang ia baca.

“Gak. Gue ga mau nyia-nyiain nyawa,” tolak Farhan.

“Pecundang! Ayolah,” paksa Gilang.

“Kalo kita terjebak di sana gimana?” tanya Farhan khawatir.

Gilang tampak berpikir seraya membaca ulang artikel itu. “Ga bakal. Lagian pasti gagal, karena kita main berdua. Peraturannya main sendiri,” jelasnya.

Farhan diam sejenak.

“Gimana?” tanya Gilang lagi. 

Farhan akhirnya menyerah dan mengangguk. “Oke. Tapi serius kita ga bakal kejebak?” tanya lelaki itu memastikan.

Gilang mengangguk. “Pasti!” jawabnya mantap.

Dua sahabat yang kini sedang menikmati masa libur kuliahnya itu memang dari kecil hobi mencoba permainan yang menyeramkan. 

Tapi,  permainan kali ini yang menurut mereka paling menyeramkan. Mereka akan bermain The Elevator. Permainan yang taruhannya jika mereka gagal akan terjebak di dunia lain.

“Kapan?” tanya Farhan seraya meminum jus jeruk kesukaannya.

Gilang mematikan televisi. “Sekarang?” tawarnya.

Farhan tampak ragu, tapi akhirnya lelaki dengan rambut acak-acakan itu mengangguk.

Kebetulan, mereka sekarang berada di hotel berlantai dua puluh. Menurut artikel itu, syarat tempat permainan itu adalah minimal berlantai sepuluh.

“Ayo!” ajak Gilang yang kini sedang berjalan ke arah pintu. Farhan mengekori dari belakang.

Setelah mengunci pintu, Gilang mengajak Farhan masuk ke lift untuk turun ke lantai satu. Permainan ini memang harus dimulai dari lantai satu.

Ting!

Terdengar bunyi yang menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuan.

“Siap?” tanya Gilang.

Farhan yang tadinya takut kini tampak lebih berani. “Siap,” jawabnya tegas.

Gilang yang memang sudah membaca artikel itu berulang-ulang hafal apa saja yang harus ia lakukan.

Lelaki itu menekan angka empat. Lift langsung tertutup dan menuju ke lantai empat.

Ting!

Terdengar suara yang menandakan mereka sudah sampai di lantai empat.

“Tekan angka dua,” perintah Gilang pada Farhan.

Farhan langsung menekan angka dua. Pintu lift tertutup lagi dan benda itu segera turun ke lantai dua. 

Ting!

Terdengar lagi bunyi itu, artinya sekarang mereka ada di lantai dua. Pintu lift terbuka, namun Gilang buru-buru menekan angka enam.

Ting!

Mereka sudah ada di lantai enam.

“Kok aneh, ya? Ga ada yang mau naik lift gitu?” tanya Farhan heran. Gilang hanya menggeleng tanda ia tak tahu.

Gilang kembali menekan angka dua.

Ting!

Mereka kembali lagi ke lantai dua. Baik Farhan maupun Gilang belum melihat keanehan. Gilang lalu menekan angka sepuluh.

Ting!

Mereka sekarang ada di lantai sepuluh.

“Tekan lima,” perintah Gilang pada Farhan.

Farhan segera melakukan apa yang diperintahkan Gilang. Lelaki itu langsung menekan angka lima.

“Kalo nanti ada cewe, gue mohon jangan diajak bicara,” gumam Gilang takut.

Farhan menatap Gilang heran. Biasanya lelaki itu malah lebih berani dari dirinya. Baru kali ini ia melihat Gilang ketakutan begini.

“Kena–”

Ting!

Farhan yang tadinya hendak menanyakan alasan Gilang melarangnya keburu dipotong oleh suara lift. Berarti mereka sekarang sudah berada di lantai lima.

Saat pintu lift terbuka, benar kata Gilang. Ada seorang wanita ikut masuk. Farhan memperhatikan wanita itu dari kepala sampai kaki, tak ada yang aneh.

Farhan menatap Gilang dengan tatapan bingung. Bukannya membalas, Gilang malah menekan angka satu kemudian menundukkan kepalanya.

Farhan langsung beranggapan, mungkin lantai lift ini lebih menarik daripada wanita misterius di sebelahnya.

Farhan berani bersumpah, tidak ada yang aneh dari wanita itu. Rambut panjang, baju gaun. Layaknya wanita yang baru pulang berpesta. Sayangnya, wajah wanita itu tidak mengarah kepada dirinya.

Keringat mengalir di pelipis Gilang. Ia memandang Farhan gugup. Wanita itu memang berdiri di antara mereka.

“Lihat ini,” Gilang berbicara tanpa mengeluarkan suara. Dia melirik ke arah papan yang biasa digunakan untuk mengatur kemana lift akan pergi.

Di papan itu terdapat layar digital yang biasanya menunjukkan lantai tujuan mereka. 

Farhan berubah pucat pasi saat melihat yang tertera di sana adalah angka sepuluh. Ia yakin tadi melihat Gilang menekan angka satu.

Gilang kembali melirik Farhan takut. Kini bukan hanya Gilang yang berkeringat, Farhan juga ikutan berkeringat.

Tiba-tiba wanita misterius itu menekan angka tujuh disaat mereka baru mencapai lantai lima.  

Gilang menghela nafas lega. Menurut permainan, wanita itu seharusnya tidak berhenti di lantai lain.

Ting!

Wanita itu langsung keluar begitu pintu lift terbuka.

“Untunglah!” syukur Gilang dengan senyum lebar. 

Pintu lift kembali tertutup untuk menuju ke lantai sepuluh, karena kamar mereka ada di lantai sepuluh.

Ting!

Gilang dan Farhan langsung berebutan keluar dari lift

“Selamat kita!” seru Farhan.

Gilang mengangguk. “Gue kira gue gabakal hidup lagi.”

Farhan tergelak.

Mereka  segera melangkahkan kaki ke kamar mereka yang terletak di pojok lorong ini.

“Malam!” sapa petugas kebersihan yang lewat. Farhan dan Gilang membalas dengan senyuman.

Gilang yang memang memegang kartu kamar mereka langsung menempelkannya di dekat gagang. Pintu kamar mereka pun terbuka.

“Han,” panggil Gilang setelah menutup pintu. 

Farhan yang baru saja duduk langsung menoleh dengan tatapan bertanya.

Gilang lagi-lagi terlihat gugup. “Lo ngerasa ada yang aneh, ga?” tanya Gilang hati-hati.

Farhan menatap Gilang tajam. “Lo jangan nakut-nakutin!”

“Gue serius,” ujar Gilang meyakinkan.

Gilang duduk di atas tempat tidur yang memang berhadapan ke sofa.

“Lo sadar, ga? Hotel ini ga punya lantai tujuh, Han!” kata Gilang.

Farhan tampak terkejut. “Lo benar! Gue pas nekan tadi ga ngeliat angka tujuh!” katanya kaget.

Mata Gilang bergerak liar menatap sekelilingnya.

“Hotel ini ga punya petugas kebersihan yang kerja malam,” tambahnya lagi.

Keringat mulai mengucur di pelipis mereka. Padahal,  mereka baru saja merasakan kelegaan.

Farhan berdiri dan mengintip dibalik tirai jendela mereka perlahan. Tak puas, lelaki itu membuka tirai.

“GILANG! LO HARUS LIHAT!” teriaknya tiba-tiba.

Gilang langsung bangkit dan berlari ke arah jendela. Matanya terbelak ketika melihat jendela.

Tidak ada jalan di bawah. Tidak ada cahaya. Tidak ada keramaian. Semuanya gelap, seolah-olah kamar mereka adalah suatu tempat yang melayang bebas.

“AYO!” ajak Gilang yang kini berlari ke arah pintu kamar. Farhan ikut berlari di belakangnya.

“Malam.”

Lagi-lagi petugas itu menyapa mereka saat baru saja Gilang menutup pintu. Ada yang beda kali ini, sapaan itu disertai seringai.

Persetan dengan petugas dan senyum anehnya. Keluar dari dunia aneh ini yang menjadi pikiran utama Gilang dan Farhan sekarang.

Dua sahabat itu berlari sekencang mungkin ke arah lift. Dengan tak sabar ia menekan tombol lift itu agar terbuka.

Ting!

Dua lelaki itu langsung menerobos lift itu dengan tak sabaran. Gilang langsung menekan angka empat.

“Mau kemana kalian!” seru petugas kebersihan tadi. 

Tampangnya sekarang lebih menyeramkan. Matanya merah, membuat Gilang semakin beringas menekan angka empat.

Akhirnya pintu lift itu tertutup tepat saat petugas itu hendak menggapai lift.

“KITA HARUS APA?!” tanya Farhan panik.

Tangan Gilang gemetaran. Jarinya sudah siaga di angka dua.

“Kita harus ngulang yang tadi, kemudian membatalkan sebelum sampai di sepuluh.” 

Ting!

Suasana semakin mencekam. Mereka kini berada di lantai empat. Gilang langsung menekan angka dua. 

Yang dapat Farhan lihat, lantai empat ini berbeda dengan lantai sepuluh. Darah berceceran. Tubuh terbaring di lantai. Bukan satu atau dua, tapi puluhan tubuh.

Pintu lift langsung tertutup lagi. Jari Gilang kini sudah siaga di angka enam.

Ting!

Baru setengah pintu terbuka, sudah ada tangan terselip di celah pintu itu. Gilang dengan panik menekan angka enam. Farhan berusaha mencegah tangan itu untuk menggapai mereka.

Untunglah pintu lift langsung tertutup. Kini jari Gilang yang bergetar sudah mengarah di angka dua.

Ting!

Mereka ada di lantai enam. 

“TEKAN CEPAT! GUE GAMAU MATI SEKARANG!” teriak Farhan yang membuat Gilang menekan angka dua.

Manusia mana yang tidak panik melihat zombie di hadapan mereka.

“SETAN LO!” teriak Gilang seraya menendang salah satu zombie yang hendak masuk ke dalam lift.

Begitu zombie itu terpental, pintu lift langsung tertutup.

Sekarang, giliran jari Farhan yang siaga di angka sepuluh.

Ting!

Mereka sampai di lantai dua. Tak terbayang betapa cemasnya mereka sekarang. 

Begitu pintu lift baru terbuka setengah, Farhan langsung menekan angka sepuluh.

Beruntung, pintu lift  tertutup kembali. 

“Gue masih pengen hidup,” gumam Gilang yang sudah bersiap menekan angka lima. 

Ting!

Bunyi itu menandakan mereka sudah sampai di lantai sepuluh.

Gilang langsung menekan angka lima dengan brutal. 

Pintu lift langsung tertutup. 

Gilang sudah bersiap menekan angka satu.  Namun, darah mengalir di celah pintu lift.

“GUE BELUM MAU MATI!” seru Farhan.

Ting!

Mereka sekarang ada di lantai lima. Gilang langsung menekan angka satu, tak perduli lagi dengan darah yang sudah menggenang di kaki mereka.

Setelah terbuka sedikit, pintu lift kembali tertutup.

“DIA NAIK LAGI KE SEPULUH!” teriak Gilang panik melihat layar digitalnya menunjukkan angka sepuluh.

Farhan yang sudah berada di titik sangat panik langsung menekan angka apapun yang bisa ia tekan.

Tiba-tiba mati lampu. Gelap dan bau amis darah, lengkap sudah.

Tangan Farhan masih menekan angka di lift.

“GUE BELUM SIAP MATI!” teriak Gilang histeris.

Ting!

Lampu lift kembali menyala, seiring dengan pintu lift yang terbuka.

Farhan melirik ke arah layar digital. Layar itu menunjukkan angka satu. Gilang melihat ke bawah. Kemana perginya darah itu?

Gilang menyembulkan kepalanya ke luar. Setelah merasa aman, ia mengajak Farhan keluar. Mereka layaknya orang bingung.

“Ini dunia beneran, kan?” tanya Farhan tidak yakin, takut jika kejadian tadi terulang lagi.

Gilang memandang sekelilingnya. “Gue yakin kali ini memang dunia asli.”

Gilang mengajak Farhan ke cafe hotel itu. Tampak cafe itu ramai. Mereka kemudian mengambil meja di pojok.

“Iya, memang asli,” ujar Farhan sambil menyesap kopi hangatnya.

Gilang terkekeh. “Sumpah, gue tobat main gituan!”

Farhan terkekeh.

Mereka berjanji ini terakhir kalinya mencoba permainan mencekam. Nyawa mereka tadi menjadi taruhannya.

* * *


– Litha –

Posted in Materi, Wattpad - Story

Materi 1 – Genre

Macam Genre Novel Berdasarkan Jenis Ceritanya

1. Sci-fi

adalah science (sains, iptek) dan fiction (fiksi). dalam sci-fi, dunia yang terbangun adalah dunia yang memiliki konsep teknologi dan sains ilmiah yang belum tentu ada di dunia nyata. genre Sci-fi dilihat dari teknologinya : cyberpunk, steampunk, atau cerita lintas galaksi.

contoh sci-fi : Serenity, Matrix, Back to the future

2. Horor

adalah jenis genre yang cerita dan plotnya dibangun sedemikian rupa sehingga mampu memberikan rasa ngeri pada pembaca/penonton. Horor bisa berisi tentang makhluk-makhluk halus yang suka meneror, tapi bisa juga berisi tentang pembunuh berantai yang memberikan kesan ngeri. 
Namun perlu diingat bahwa cerita yang memiliki setan di dalamnya, belum tentu termasuk dalam genre horor.

Sebuah cerita hanya bisa dikatakan Horor apabila mampu memberikan kesan “ngeri” dan “teror” bagi pembaca.

contoh : the ring, saw, final destination, drag me to hell

3. Fantasi

adalah genre yang memiliki unsur magis dan supernatural, berkecimpung dalam dunia yang kelihatannya serba surealis namun sebenarnya sangat logis. Fantasi adalah sebuah bentuk manifestasi kreativitas tingkat tinggi yang menuntut imajinasi bebas sebebasnya, namun juga tetap logis dan rasional.

contoh : lord of the ring, harry potter, enchanted, cerita-cerita mitologi, Berserk (ada unsur horor = dark fantasi)

4. Romance

adalah genre yang sebenarnya mengangkat kehidupan sehari-hari. di dalam romance ada unsur keseharian yang belakangan ini disebut slice of life. Romance konon memiliki ciri khas dimana diksi-diksi yang tertulis di dalamnya terbaca begitu puitis dan romantis sehingga mampu menciptakan suasana heart-warming yang mengakibatkan pembacanya dapat menikmati keindahannya. adapun bagian hidup yang selalu dirasakan setiap orang adalah jatuh cinta, melihat cinta dan cinta.

contoh : Ayat-ayat cinta, Biarkan kereta itu berlalu, Karmila, Tenggelamnya Kapal Van der Vick

5. Fanfiction

adalah sebuah cerita yang dibuat sebagai tribute untuk sesuatu yang memiliki copy right, alias sesuatu yang sudah ada. Mengurai dari makna katanya, fan = fans, fiction = fiksi. Fanfiction bisa berarti “imajinasi fans”. Jadi apabila kau membuat cerita berdasarkan boyband atau film animasi favoritmu, dan masih menggunakan dunia, konsep, karakter dan beberapa aspek cerita aslinya, itu disebut fanfiction.

6. Humor

adalah genre yang menekankan pada unsur komedi dan parodi. Humor lebih menekankan pada unsur jenaka dan bertujuan utama untuk membuat pembaca menjadi tertawa dan terhibur. Beberapa penulis menggunakan trik seperti menggunakan bahasa gaul atau bahasa slang dan susunan kalimat seperti ucapan sehari-hari yang terkesan ngawur dan ringan. Namun sesungguhnya humor juga bisa menjadi jenaka dengan tetap menggunakan kata-kata sastra.

contoh : Kambing Jantan (tapi ragu juga ini fiksi atau non fiksi), Sketsa

7. Misteri

belum tentu horor. misteri adalah cerita yang bertugas untuk membuat pembaca merasa penasaran sepanjang cerita karena banyak hal yang ditutupi dan terbongkar satu persatu. 
Cerita misteri menekankan pada unsur twist dan membutuhkan trick yang kuat untuk mempertahankan kemisteriannya. Chekov gun, red herring seringkali adalah teknik yang dipakai para penulis misteri dalam menuliskan cerita genre ini.

contoh : sherlock holmes, detective conan

8. Historical fiction

adalah sebuah genre cerita yang memiliki setting di dunia sesungguhnya, namun di masa yang berbeda. biasanya di masa lampau. menulis genre ini tidak boleh sembarangan kecuali penulis memiliki teori lain mengenai fakta yang telah terjadi. Bila ingin sukses menuliskan cerita pada genre ini, seorang penulis harus memiliki riset yang sangat kuat.

contoh : The Death to Come

9. Adventure

adalah sebuah genre bertema petualangan. Sebuah petualangan tidak harus mengembara ke tempat yang jauh, tapi bisa memiliki sebuah peristiwa yang mampu mengubah sesuatu, baik itu diri sendiri atau orang lain. Petualangan adalah kejadian/peristiwa penting yang terjadi dalam hidup seseorang.

contoh : lima sekawan

10. Thriller



novel thriller selalu menceritakan tentang masalah hidup atau mati. Seringkali cerita dalam novel berkaitan dengan kejahatan atau tindakan supranatural, namun akar cerita tetap pada bagaimana tokoh utama dapat bertahan hidup. 

Macam Genre Novel Berdasarkan Isi dan Tokohnya

  • Novel Teenlit

Novel ini mengambil cerita tentang kehidupan remaja. Kebanyakan dari genre ini mengangkat kisah persahabatan, percintaan dan cita-cita. Latar yang dipakai kebanyakan adalah sekolah dan kampus. Contohnya adalah Dealova.

  • Novel Chicklit

Novel ini sering disamakan dengan teenlit, padahal berbeda. Chicklit menggunakan cerita bertemakan kehidupan wanita muda dan segala permasalahannya. Latar yang dipakai biasanya adalah kamar tidur, kafe, restoran dan taman. Contohnya adalah Nyawa.

  • Novel Metropop

Novel yang ditulis berdasarkan cerita tentang wanita kosmopolitan yang berkutat dengan perkantoran. Biasanya tokoh di dalamnya mempunyai masalah yang kompleks seputar kehidupan, percintaan, karir dan ambisi. Contohnya adalah Perahu Kertas

  • Novel Songlit

Novel yang ditulis berdasarkan sebuah lagu. Bisa dikatan bahwa novel ini merupakan pengkisahan dari lirik lagu dan imajinasi penulisnya . Contohnya adalah Sebelum Cahaya

  • Novel Dewasa

Novel yang bercerita tentang kehidupan orang dewasa. Isu-isu dan tema yang diangkat hanya bisa dipahami oleh orag dewasa. Tentu saja sejak awal memang ditujukan untuk pembaca dewasa. Contohnya adalah Ronggeng Dukuh Paruk.

* * *


Sumber :
http://bitread.co.id/blog/2014/09/macam-macam-genre

http://omnibussenja.com/macam-genre-novel/