Posted in Challenge, Comedy - Genre, Fiction, Wattpad - Story

Ko – Yem [Comedy]

​Langit cerah berwarna biru menjadi saksi atas penantianku. Aku sudah berdiri lama di depan gerbang sekolah. Setia menunggu seseorang yang tak kunjung tiba.

Aku terus melihat jam yang melingkar di tangan cantikku. Ku lihat banyak murid sudah memasuki area sekolah.

“Lama nih si Kokom!” Decakku.

Kokom Markonang. Sahabatku yang super duper lebay bin ribet. Hobinya ngerepotin orang. Bahkan aku selalu jadi tameng atas keterlambatannya.

Tak lama, sebuah angkutan umum berwarna merah berhenti di depan gerbang. Seorang gadis turun dengan anggunnya. Tidak salah lagi, itu adalah Kokom manusia lebay.

“Neng kurang nih ongkosnya!” Supir angkutan itu berteriak.

“Eh bang, anak sekolah tuh emang tarif nya dua rebu kan? Kurang apaan lagi?” Balas kokom.

Aku hanya melihat dari kejauhan pertarungan antar Kokom dan supir angkot.

“Iya, emang dua rebu neng! Tapi eneng ngasih saya uangnya recehan dan saya hitung cuma seribu delapan ratus, jadi kurang dua ratus,” teriak abang itu lagi.

Akhirnya aku menghampiri mereka. Aku tak bisa menunggu lama, semakin Kokom lama aku semakin terlambat masuk.

“Ada apaan sih, Kom?” Tanyaku.

“Abangnya ribet tuh, Yem.”

“Woy, kenapa sih bang?”

“Temen non tuh, bayarnya kurang dua ratus perak!”

Aku melotot memandang Kokom. Bisa-bisanya kurang dua ratus perak segala!

“Eh pea! Cabe aje udah naik harganya, lu masih kurang bayar angkot, huh?” Aku menoyor kepala Kokom.

“Apaan? Cabe-cabean?” Tanya kokom polos.

Ndasmu Cabe!”

Tanpa pikir panjang ku keluarkan uang dari saku bajuku dan ku berikan kepada supir angkot tadi. Angkot pun pergi meninggalkan sekolah.

“Eh Kokom tuyul! Gara-gara lu lama nih, kita telatnya jadi tambah banyak, tuyul ribet emang!” Seru ku.

“Gue kan pake baju, sedangkan tuyul cuma pake kolor. Jadi gue bukan tuyul,” balas Kokom.

“Tuyul pake popok bukan kolor! Kan dia masih kecil. Kalo pake kolor tuh si kolor ijo.” Aku berusaha memperbaiki ucapan Kokom.

“Ah gue bingung, Yem. Kalo gitu mending ntar kita buat penelitian tuyul aja yuk?”

“Ogah! Gue lebih tertarik zombie daripada tuyul.”

Aku dan Kokom terus berdebat tentang tuyul, zombie, dan kolor ijo. Sampai aku tak sadar, ada seseorang berdiri diantara kami.

“Kalian!!!” Teriak orang itu, membuat aku dan Kokom berhenti berdebat.

“Astaga, kuntilanak!” Ujar Kokom, membuat orang tadi semakin geram.

“Gila lu Kom, kepala sekola lu kata kuntilanak,” bisikku pada Kokom.

“Gue keceplosan, Yem. Tadi kan kita lagi bahas hantu, eh hantu beneran malah muncul.”

Bu Tanti. Kepala sekolah yang selalu bilang dirinya hits selalu menganggap dirinya adalah penyanyi Syahrini yang cetar membahenol, eh salah membahana.

Bu Tanti mempunyai penyakit darah tinggi akut. Tapi akan berubah menjadi darah rendah, kalau udah ketemu pasangannya. 
Pak Jono, pasangan bu Tanti. Aku heran kenapa bu Tanti suka Pak Jono. Apa ia tak pernah dengar lagu Gotik yang judulnya Bang Jono? Bang Jono sama Bang Toyib pasti sahabatan. Ketemu di jalan dan gak pulang-pulang. Bu Tanti gak takut emang di tinggal Pak Jono?

“Maaf, Bu,” ucapku.

“Kokom, Tiyem! Ngapain masih di luar, huh? Gak denger bel telolet udah bunyi?”

Aku dan Kokom hanya diam, menundukkan kepala. Ini adalah cara ampuh bagi semua murid yang sedang dimarahi. Konon katanya, kalau kita menunduk bak mengheningkan cipta seperti ini, para guru akan kasihan dan akan mengampuni kita.

“Kokom, kamu ngapain!” Bentak bu Tanti.

Aku menoleh ke arah Kokom. Astaga! manusia lebay dasar! Aku selalu mengajarkan dia menunduk, tapi sekarang dia malah bersujud. Dasar lebay!!!

Aku menarik kerah baju Kokom, memaksanya berdiri.

“Gila lu ndro! Lu ngapain sujud? Bikin kanjeng makin marah aje,” bisikku.

“Gue mules, Yem.”

Aku terperangah mendengar ucapan Kokom.

“Kalian berdua, ikut saya!”

Bu Tanti berjalan memasuki gerbang sekolah. Aku dan Kokom mengekor di belakangnya.

Aku tahu, pasti bu Tanti mengajak kita ke ruangan kepsek, atau ke ruangan BK untuk memberikan hukuman.

Tapi, selama kita berjalan, aku merasa ini bukan ke arah ruang kepala sekolah atau ruang BK. Ini adalah arah toilet.

Aku menduga bu Tanti punya ikatan batin dengan Kokom. Ia tau apa yang Kokom butuhkan.

* * *
TOILET

Tulisan itu tertera di tembok bercat putih.

“Bu, kok kita disuruh kesini?” Tanyaku.

“Kalian harus bersihkan toilet ini,” jawab Bu Tanti.

“Toilet cowok juga?” Tanyaku lagi.

Bu Tanti mengangguk.

Cobaan apalagi ini Tuhan? Ini semua gara-gara Kokom Markonang!
Ku lihat Kokom masih memasang wajah santainya. Sementara Bu Tanti sudah pergi meninggalkan kita.

Aku kesal dengan Kokom. Kalau saja ia bukan sahabatku, mungkin sudah ku mutilasi dan ku buang di kloset potongan tubuhnya.

“Eh, mikir ape lu? Gue bisa baca pikiran lu nih!” Ucap Kokom.

“Masa? Coba tebak gue mikir apa?”

“Mikirin cabe yang harganya naik kan?”

“IYE KOM IYE. GUE MAU BIKIN SAMBALADO ALA AYU TING TONG.”

Aku benar-benar kesal dengan si Kokom. Yang selalu memasang wajah polos padahal hatinya biadab. Yang selalu bilang dirinya baik bak ibu peri, padahal iblis neraka.

Dan saat ini, aku mempunyai firasat buruk untuk hukuman ini.

“Kom? Ini toilet banyak banget, kita gimana bersihinnya?”

“Ye di elap bego!” Jawab Kokom dengan lantang.

Tanpa sadar kini tanganku sudah menarik rambut Kokom dengan lincahnya. Membuat ia berteriak Aw aw aw.

“Sumpah! Lu vangke! Rasanya mau gue bacok!” Aku berteriak di kuping Kokom.

“Ampun, Yem. Ini sakit bukan main,” mohon Kokom.

“Sakitan mana Kom, di jenggut apa ditinggalin tanpa sebab?”

Aku melepaskan tanganku dari rambut Kokom. Aku terjatuh, aku menangis.

Aku butuh Wafer karena kini aku sudah sangat Bafer.

“Udah, Yem. Dia udah bahagia dengan orang lain. Walaupun muka pacar barunya lebih somplak dari muka gue, mungkin ia bisa memberi kebahagiaan buat Parjo.” Kokom menenangkanku, sambil menepuk kecil punggungku.

Aku terus menangis, kini aku sudah menangis sambil tertidur diatas lantai toilet. Aku memang tak memandang tempat untuk menangis.

“Kom, gue sediiiihhhhh.”

“Gue tau kok perasaan lu. Parjo emang sadis.”

“Kommmmmm.”

Aku terus berteriak. Kokom masih memelukku.

“Sabar, Yem.”

“Ini bukan soal Parjo, Kom.”

Kokom terdiam, begitupun denganku. Kini kita saling memandang lekat, seperti dua orang yang saling mencintai.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku meringis.

“Ada nyamuk, Yem.”

Aku menangis merasakan panasnya tamparan itu.

“Kokom gilaaaa! Gue laporin lu ya melakukan KDP.”

“Apa tuh?”

“Kekerasan dalam pertemanan.”

Aku dan Kokom terus berdebat tentang hal yang gak akan bisa di mengerti siapapun. Hanya Kokom yang mengerti aku. Begitupun sebaliknya.

Kami saling mengerti. Hingga kami tak bisa lagi membedakan, mana hinaan mana pujian yang saling kami lontarkan.

Aku mulai membersihkan toilet. Dengan seenaknya Kokom menyuruhku membersihkan toilet pria. Sedangkan ia membersihkan toilet wanita.

Aku mengumpulkan tekad untuk memasuki toilet pria.

Saat tekadku sudah bulat seperti tahu bulat, aku mulai memasuki toilet itu.

“Permisi…” ucapku, namun tak ada jawaban. Dan aku lega mengetahui tak ada orang di dalam toilet ini.

Aku mulai membersihkan toilet. Hingga sebuah suara membuatku berhenri.

Haaaaa

Hiiiiiiiii


Haaaaa

Hiiiiiiiii

Aku terus mendengarkan suar itu. Kini bulu kudukku mulai berdiri. Aku membayangkan ada hantu di salah satu bilik toilet itu.

Banyak beredar gosip kalau di toilet pria ini memang berhantu.

Suara itu kini menghilang. Tak terdengar apapun lagi. Aku pun melanjutkan lagi tugasku.

Aku mulai menyetel lagu yang ada di list music smartphone ku.

Kesana kemari membawa alamat

Namun yang ku temui bukan dirinya
Sayaaaanggg…

Yang ku terimaaaaa alamaaat palsu…
Ku tanya pada teman-teman semua 

Namun mereka bilang tidak tahu

Sayaaaanggg… mungkin diriku 

Telah tertipu….

Aku bernyanyi mengikuti irama lagu Ayu Ting Tong itu. Itu adalah lagu kesukaanku.

Syalalala syalalala syalalala

Aku mendengar suara lain. Itu bukan suaraku, bukan juga suara Ayu Ting Tong di HP ku.

Aku semakin geram, aku dengarkan suara itu dengan seksama.

Ku ikuti arah suara itu berasal. Dan ternyata suara itu dari bilik keempat. Bilik yang tertulis ‘Rusak’ di pintunya.

Aku semakin takut. Aku ingin sekali mendobrak pintu itu dan melihat siapa yang ada di dalamnya. Tapi aku sangat penakut.

Aku putuskan berlari menemui Kokom. Meminta bantuan Kokom untuk melihat bilik keempat itu.

“Koooommmmm,” terikku.

“Kenape lu? Di kejar cabe?”

“Cabe mulu lu! Ini lebih dari cabe! Ini serem.”

“Ah lu mah kecoak terbang aja lu bilang serem!”

“Emang kecoak terbang serem bego! Sama seremnya sama lu Kom.”

“Sa ae! Eh lau kenape?”

Aku tak berniat untuk menjelaskan panjang lebar. Ku tarik Kokom ke dalam toilet pria. Dan ku tunjukkan ia bilik keempat.

“Ada apaan? Lu mau bersihin toilet rusak?”

“Rajin banget gue oy! Ada setan di dalem.”

“Hah? Ketan? Masa makanan di toilet!”

“Setan oy setan!!! Lu setan Kom setan!!! Setan telolet setan!!!”

Aku berteriak di kuping Kokom biadab itu. Bisa-bisanya ia bercanda disaat seperti ini.

“Coba ceritain dulu, Yem. Gak lucu kan kalo gue dobrak terus gak ada apa-apa! Ntar gue suruh ganti nih pintu.”

“Tadi gue lagi bersihin toilet sambil nyanyi lagu alamat palsu. Nah, ada suara yang ikut nyanyi dari dalam sini.”

Tanpa basa-basi Kokom menendang pintu toilet itu dengan tenaga dalam yang luar biasa. Bisa dibilang Kokom itu manusia super, satu tendangan saja bisa membuat pintu ini rusak.

“Ah upil! Apaan hantu, noh liat!!” Kokom menunjuk ke dalam bilik toilet yang ia dobrak.

Aku melihat dengan seksama, ternyata di dalam sana ada Pak Jono sedang tertidur, atau bahkan pingsan.

“Pak Jono mati kali ye? Kok gak bergerak?” Ucapku.

“Coba jedotin palanya, Yem.”

“Mati ntar bego!”

Aku mendorong-dorong tubuh Pak Jono, berusaha menyadarkannya.

Tak lama, Pak Jono pun tersadar.

“Akhirnya… ” ucapnya bahagia.

“Bapak ngapain disini? Nungguin bu Tanti?”

“Selama ini saya terkunci disini. Gak ada yang mau menolong saya, semua malah lari ketakutan,” jelas Pak Jono.

“Lah iya lah takut! Wong suaranya serem gitu,” ujarku.

Aku menarik Pak Jono keluar dari toilet itu.

“Btw, udah berapa lama di toilet?” Tanya Kokom.

“Dua bulan.”

“Haaaaah!” Aku dan Kokom teriak bersama.

Sungguh luar biasa Pak Jono cem eman Bu Tanti ini. Kasus Keluarga di Sandera di Toilet aja cuma bisa bertahan dua hari. Lah ini? Dua bulan coyyy!!! Bapak yang luar biasa.

Kita bertiga pun kelur dari toilet. Aku dan Kokom menunjukan senyum bahagia karena sudah menjadi dewa penolong Pak Jono.

* * *


– Nisa –

Posted in Challenge, Comedy - Genre, Fiction, Wattpad - Story

Stand Up yang Pesimis [Comedy]

Di sebuah kafe terdapat remaja kuliahan yang sedang berkumpul, remaja – remaja itu sangat aneh. Salah satu remaja perempuan baru datang, masuk ke dalam kafe itu.

“Hai gengss…” panggil Google  (GOlongan Orang sinGLE).

“Hai juga, Gle. Ada ape? Tumben gembira sangat lu.” sahut si Pesut. (PEmuda SUka kentuT), sebenarnya si Pesut ini nama aslinya adalah Riky Irawan, cuma dia tukang kentut tak tahu tempat makanya di panggil Pesut sama teman – temannya.

Dan si Google ini nama aslinya adalah Clara Chyntia Dewi, kenapa dipanggil Google alias GOlongan Orang sinGLE? Dia sebenernya jones sejati, tapi dia yang ga ngakuin mantannya dan mengaku single. Padahal mah? Hemeh bullshit’-‘ (Bull → Bufallo → Kerbau) (Shit → Tai) Jadi, bullshit itu artinya tai kebo😂

“Gue, dapet brosur tadi pas di WC.” Teman – temannya menatap Google horor, di WC dia mu gut brosur?

“Lu mungut ini di WC? Di mananya? Jangan – jangan di closetnya lu kobok.” tanya si Bejo (BErtahan JOmblo).

Berbeda dengan Google si Bejo ini mengakui dirinya jomblo, tapi kalau ia dipanggil jones dia akan benar – benar mangamuk. Nama asli dia sebenarnya adalah Benedict Johanson, dia padahal ganteng banget, tinggi, ya mirip sama Shawn Mendes lah ¹¹/¹² ga beda jauh. Bedanya dia koplak banget, terlalu jujur. Bukan masalah di jujurnya tapi, ini orang jujurnya nyelekit semua. Jadi dia pacaran paling lama 1 minggu’-‘

Miris? Emang.

“Enak aja lu, Bejo. Ini ada di tembok sebelum gue masuk WC peak.” jawab Google dengan sebal. Ya kali dia tukang sedot WC, walau dirinya ini ya rada – rada kurang waras tapi Google ini masih ngerawat penampilannya. Bisa jatuh harga dirinya.

“Brosur apaan sih ini?” Josgan merebut brosur itu dan membacanya dengan ekspresi sok serius. Sekali lagi ditekankan kata “SOK”.
(Josgan: JOmblo Sok eleGAN). Josgan ini nama aslinya adalah Tiwi Marsha Bieber.

Melihat Josgan seperti itu, yang lain jadi ikut membacanya.

“HAH? LOMBA STAND UP?” ucap mereka bersamaan dengan kompak. Mereka langsung  menatap Google secara bersamaan.

* * *


Ini adalah kisah 4 sekawan yang mengikuti kegiatan tambahan (ekstrakurikuler) mereka mengambil ekstrakurikuler stand up. Entah mengapa mereka mengambil itu, karena saat demo ekstrakulikuler pertama masuk kuliah mereka merasa tertarik, dan mereka pertama kali bertemu saat pertemuan ekstrakulikuler stand up. Sebenarnya, mereka berada di jurusan yang berbeda – beda. Menurut mereka, stand up adalah hal yang menyenangkan bisa menghibur orang banyak. Kata – kata yang disampaikan menyakiti hati tak usah dianggap serius.

“Jadi, kalian mau pada ikutan?” tanya Josgan. Mereka sedang berjalan menuju perpustakaan. Walau mereka semua gesrek, tapi tugas kuliah tak boleh di abaikan.

“Ikutan stand up itu? Pasti dong.” jawab mereka serempak, kecuali si Google. Dia tidak menjawab ‘iya’ ataupun menjawab ‘tidak’. Dia hanya diam dan menundukkan kepalanya melihat ke bawah.

“Cla, kenapa lu engga jawab? Engga mau ikut lu?” Google diam, ia sebenarnya mau ikut. Tetapi, ia kurang percaya diri. Kemampuan stand up nya tidak terlalu buruk padahal, yah masih terbilang lumayan. Tapi apalah daya. Sifat kepesimisannya lebih besar dari semangatnya itu.

“Keknya gue engga ikut deh.” Semua langsung menoleh secara refleks.

“Lu kan yang paling kocak.” 

“Iye, lu diem aja pada ketawa.”

“Bener lu engga ikutan?”

Google yang diserbu dengan kata – kata yang menurutnya itu seperti membangunkan semangatnya.

Dia akan mempertimbangkan dia akan ikut stand up atau tidak.

“Gue pikirkan lagi nanti deh gengs.” jawab Google.

Kemudian, mereka masuk ke dalam perpustakaan untuk mencari buku yang mereka butuhkan.

* * *


Lomba stand up di brosur tertulis tanggal 22 Januari, yang berarti hari Minggu. Sekarang sudah tanggal 16, berarti kami hanya punya waktu 1 minggu untuk berlatih stand up?

“Woi, lomba stand up tinggal 1 minggu lagi nih.” ucap Clara.

“Emang kenapa sih Clar? Tumben amat lu menggebu – gebu, sebelumnya aja lu engga ada niatan ikut.” sahut Tiwi.

‘Iya ya, kenapa sekarang gue antusias banget.” batin Clara.

“Gue ikut kok.” putus Clara spontan (kata – katanya rada aneh disini).

Seriously?” tanya Riky. Bejo yang sedang memainkan ponselnya langsung berhenti.
Clara tersenyum tulus, lalu mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan teman – temannya.

* * *


H – 4

“Woiiii, ayok latihan.” ajak Clara.

“Maaf Gle, gue ada kerpok nih.” Bejo dan Riky menjawab bersamaan.

“Dih? Terus Josgan kemana tah?” Bejo dan Riky mengendikkan bahu, dan Clara pun merasa kesal sendiri. Dia pergi begitu saja.

* * *


H – 1

“Eh, kita udah H – 1 gimana atuh? Masa gue udah mau ikutan, tapiiii kalian malah kaga ada yang mau latihan bareng. Sedih gue sedih. Ini lebih menyedihkan daripada gue jones.” cerocos Clara.


Dia udah kesal tingkat dewa krisna atau dewa yang sering disebut neneknya Tapasha.

“Gue udah bikin teksnya Gle,” ucap mereka bersama. Reaksi Clara?

Matanya melotot lebar, mulutnya menganga. Dia syok, gimana gak? Dia kaga bikin mau nungguin temennya. Tapi—

‘Dasar teman – teman laknat.’ batin Clara.

* * *


Clara PoV


Emang teman laknat sebel gue. Mana belum bikin. Apa gue ga ikut ya?

Lagian ikut juga belum tentu menang, udah cape mikir ga menang lagi. 

Tepar da‘-‘

Ditengah jalan, gue sadar, buat apa gue ngedumel gini. Mending gue bikin naskah buat stand up nanti. Menang ga menang urusan belakangan.

Biarlah ga menang, yang penting bawa enjoy.


* * *


Author PoV


Lomba – 

“Duh dag – dig – dug guee.” batin Clara.

“Bahkan ini lebih parah daripada gue berhadapan ama doi.” batin Clara lagi.

“Apa gue balik aja ya?” ucapp Clara dengan suara yang lirih.

“Tapi– kalau gue di diskualifikasi, gue bakal malu. Nama gue juga yang ternodai.” Clara mengacak – acak rambutnya. Ia jingkrak – jingkrak kesana – kemari. Tidak peduli rambutnya akan rusak, penampilannya kacau. Rasanya tuh, waktu ini lamaaaaaaa banget. Berasa 1 abad.

“Hai, Gle. Lu masih belom dipanggil?” ucap Riky, sedangkan ketiga temannya menganggukinya.

“Blom.” jawab Clara dengan raut wajah yang sedih. 

“Kalian sih, udah belum?” tanya Clara balik.

“Udah dong, semua disana juga tertawa. Meski ga semuanya tertawa.” jawab Tiwi mewakili yang lain.

“Oh iya Gle, kita keluar dulu ya mau cari minum.” Bejo kali ini angkat bicara. Clara mengangguk, lalu yang lainnya pergi.

Tak lama kemudian – 

“Clara Chyntia Dewi.” panggil panitia.

“Itu nama gue? Nama gue dipanggil, duh.” Clara bukannya maju untuk tampil, malah mengoceh sendiri.

“Mba maaf, itu nama mba bukan yang dipanggil?” Seseorang menepuk pundak Clara.

“Ha? Ah iya, itu nama saya. Maafkan saya.”
Setelah berbicara seperti itu, Clara melangkahkan tubuhnya ke atas panggung. Dan berdiri diantara para juri, para penonton. 
Seketika Clara termenung, dan dia ingin membunuh dirinya sendiri saat itu.

“Silahkan mulai,” ucap salah satu juri disitu.

“Ekhem, tes – tes.” memulai pengetesan.
“Selamat malam semuaa.” Clara menyapa semua yang ada disitu.

“Selamat malam juga.” jawab para penonton dan juri.

“Kenalin nama gue Clara, keren kan nama gue.” ucap Clara dag – dig – dug.

Krik – krik

“Nah gue punya temen, masa gue dipanggil Google. Kalian tau ga kenapa?” tanya Clara.
Semua refleks menggeleng, ada juga yang menjawab tidak.

“Yailah kalian gatau, kan gue belum bilang.” jawab Clara.

Orang – orang mendesah kecewa, ada yang sedikit tertawa, ada juga yang memasang ekspresi bete atau kesal.

“Hahaha, ya iya gue kasih tau. Gue dipanggil begitu, karena gue masih alone alias sendiri alias jomblo– eh? Ga deng gue single. Kan arti google tuh golongan orang – orang single.”jelas Clara.

“Oh iya, tema gue hari ini adalah jomblo.” ucap Clara.

“Sebelumnya maaf kawan, kalau ini ga lucu.” batin Clara.

“Ada yang bilang jomblo sama single itu berbeda. Katanya jomblo itu nasib, tapi single itu prinsip. Bagi gue sama aja, cuma beda bahasa aja, dua – duanya juga sama – sama nggak punya pasangan.” ucap Clara singkat.
Sementara yang lain masih pada diam menunggu kata – akta selanjutnya.

“Jadi jomblo itu nggak enak menurut sebagian orang. Yang pacaran asik nungguin SMS pacar, yang jomblo dapet SMS–” Clara sengaja memotong melihat ekspresi yang lain. A Kebanyakan memasang ekspresi penasaran akan kelanjutannya. Ada juga yang berfikir alias menduga – duga.

“Seneng banget tuh si jomblo dapet sms taunya isi sms ituu—” sengaja Clara potong juga.

“Apa sih kak? Penasaran tingkat dewa nih.” Ada yang berteriak seperti itu di ujung kursi penonton.

Clara melanjutkan stand up nya. “Sisa pusa Anda tinggal sedikit lagi, silahkan isi ulang dengan mengetik *111#” Clara menirukan suara operator yang biasa berbicara, kalau ketika nelfon seseorang taunya pulsa yang ia punya sudah habis. Karena sms tak bisa disuarakan, makanya ia menirukan ketika sedang menelfon.

Para juri dan penonton tertawa semua. Bahkan ada yang tertawa terbahak – bahak. 

Ketika suara tawa itu telah reda Clara melanjutkan stand up nya.

“Jadi jomblo itu nggak enaknya gini, kalau kita sedang nongkrong sama teman yang sudah punya pacar, nggak enaknya lagi ngobrol – ngobrol, eh dia ditelpon pacar. Dia asyik telponan, gue cuma bengong, sambil ngenes. 

Pegang HP cuma geser – geser menu doang. Buka Facebook, ada yang pasang foto couple
Buka profil mantan, status dia udah berpacaran. Tambah ngenes deh.” jelas Clara dengan menirukan ekspresi bengong yang sangat kocak ditambah menirukan ekspresi ngenes yang ngeliat mantannya udah punya pacar lagi sambil memegang hp ditangannya.

“Tapi, yang pacaran jangan bangga dulu.” Clara berbicara sedikit.

“Kalian semua juga dulunya jomblo. Nggak ada manusia begitu lahir langsung dapet pasangan. 

Nabi Adam aja dulunya jomblo sebelum akhirnya Siti Hawa diciptakan. Bagi yang jomblo, tenang aja, tahun ini jomblo, siapa tahu tahun depan—” Clara sengaja menggantungkan kalimatnya, walaupun dia tau digantung itu ga enak. 

Sakit coyyyy!

Penonton dan juri pun kesal yang digantung begitu saja. Sebelum Clara diamuk masa, dia melanjutkan kata – katanya.

“masih jomblo juga.” Clara tertawa yang lain pun tertawa. 

Terdengar suara dari penonton, “tuh kan bener masih jomblo juga. Hahahaha.”

Clara tersenyum.

“Orang yang pacaran juga nggak selamanya seneng. Masalah kecil bisa bikin berantem. 
Permintaan pacar nggak diturutin, pacar minta putus. 

Pacaran itu kayak makan tebu, awalnya aja manis, lama-lama hambar.

Sedangkan kalau jomblo ibarat minum jamu, dari awal sampai akhir pahit. 

Tapi— 

Jangan lihat pahitnya, lihat khasiatnya. Sekian dari Clara golongan orang single, selamat malam. Sampai jumpa.”

Tepuk tangan sangat riuh di aula situ, karena penampilan Clara yang sangat menghibur mereka. Meskipun stand up nya sangat sederhana tapi, itu lebih dari cukup untuk sebuah audisi.

* * *


“Wuihhh, keren lu Gle.” Pujian Bejo kepada Clara.

“Ia lu keren abis, meski awalnya garing tapi tepuk tangan itu WOW pake B.G.T.” sambung Tiwi.

Kemudian mereka bercakap – cakap hingga pengumuman pemenang ditempel di tempat pengumuman dekat dengan pintu masuk.

Dan ternyataaaa….

Clara yang menang, ia juara utama.

Nah kawan, janganlah menjadi orang yang pesimis. Meski engkau tidak berhasil, cobalah itu dulu. Karena lebih baik kau menyesal sesudah mencoba. Daripada kau menyesal karena tak pernah mencobanya.

* * *


– Debiana –