Posted in Event Duel, Fiction, First - Winner, Science-Fiction - Genre, Wattpad - Story

Decision [Science-Fiction]

​Giandra menutup mulutnya tidak percaya ketika melihat sebuah berita pada layar besar di hadapannya. Sebuah gempa bumi dengan kekuatan 7.8 SR lagi, di daerah pinggir pantai bagian selatan Indonesia.

Sudah belasan kali gempa terjadi hari ini, firasatnya tidak enak. Diliriknya jam di tangan kirinya, sudah dua puluh menit dia menunggu di sini namun sosok yang dinanti belum juga datang.

“Gia! Ayo!”

Giandra menoleh dengan kening berkerut memandang sosok laki-laki di hadapannya.

“Gia, come on. Kita harus pergi dari sini karena-”

Perkataan laki-laki itu terputus, sebuah getaran terjadi lagi dengan kekuatan yang cukup keras hingga membuat retakan di tanah muncul.

“Ga, ini apa?” kata Giandra panik sementara situasi di sekitarnya semakin berantakan.

Ganesha, laki-laki di hadapannya menatap Giandra dengan panik. Digenggamnya tangan Giandra erat berusaha melangkah di tengah getaran yang perlahan mereda.

Sebuah hologram berwujud pria berperawakan tegap muncul di hadapan mereka.

“Ganesha, waktumu dua jam sebelum kapsul waktu itu berangkat,” kata pria hologram itu.

Ganesha menekan headset di telinganya dan berbicara, “Saya akan segera ke sana.”

“Daftarkan identitasmu dengan Decla secepatnya,” kata pria itu sebelum akhirnya menghilang.

“Dia siapa?”

“Profesor Geya, atasanku di laboratorium,” jelas Ganesha singkat sambil terus menekan sebuah benda persegi pipih yang penuh dengan layar atau biasa disebut dengan Decla.

“Berikan aku jarimu,” perintah Ganesha.

Giandra mengulurkan telunjuknya pada Ganesha kemudian Ganesha mengarahkannya pada layar benda itu. Seketika dari salah satu sisi Decla muncul hologram berisi data singkat Giandra termasuk warna iris mata hingga golongan darahnya.

Ganesha mengerutkan keningnya bingung, mengapa data diri Giandra sudah terdaftar sebagai salah satu penumpang kapsul waktu padahal seharusnya nama Giandra belum terdaftar?

“Selesai. Sekarang kita harus segera ke Galeri Nasional.” Ganesha membuang pikiran anehnya dan menarik tangan Giandra membelah kerumunan orang yang tampak saling acuh di hadapannya.

“Tunggu, maksud semua ini apa? Kapsul waktu? Decla?” tuntut Giandra dengan kesal.

“Gia, dengar. Bumi akan segera hancur, kau harusnya tahu itu.”

Giandra mengangguk, memang keadaan sudah semakin kacau sejak perang dunia yang melibatkan nuklir beberapa puluh tahun yang lalu. Indonesia termasuk negara yang beruntung karena tidak mencecap sakitnya dijajah atau dimerdekakan oleh negara lain lagi.

Semenjak permainan nuklir menjadi hal yang lumrah terjadi di dunia, berbagai macam keanehan terus muncul. Bencana alam yang nyaris terjadi setiap hari, kriminalitas yang tinggi, pergeseran sifat alami manusia, serta munculnya beberapa spesies aneh yang entah akibat nuklir atau kecerobohan para peneliti.

Hanya segelintir orang yang cukup memiliki kekayaan yang bertahan hidup normal sesuai dengan kemajuan teknologi yang ada. Ya, selain menjadi rapuh, dunia pun semakin maju di berbagai bidang yang sayangnya malah mematikan hati manusia sebagai manusia; tidak lagi ada rasa sosial dan keinginan menolong satu sama lain.

“Aku tahu,” sahut Giandra. “Tapi apa maksud semua ini?”

“Kapsul waktu akan diberangkatkan dua jam lagi, dan hanya orang tertentu yang bisa menaikinya,” kata Ganesha sambil terus menarik Giandra menuju lorong salah satu alat transportasi terdekat.

Wait. Aku harus menemui adikku, kau tahu itu.”

Ganesha menatap Giandra sekilas. “Maaf, Gi. Daerah rumah kita sudah hancur, terisolasi dan dikuasai Lyctans.”

“Apa?” pekik Giandra.

Giandra mendesah penuh sesal. Lyctans adalah sekumpulan manusia tidak beruntung yang terinfeksi oleh lintah penghisap, berasal dari daerah kumuh yang tidak tersentuh pemerintah. Infeksi Lyctans sangat cepat dan cenderung terlalu mudah menular.

“Gia, kita harus cepat.”

Giandra tersadar, sakit di dadanya perlahan dia hilangkan. Dilangkahkan kakinya dengan cepat mengikuti Ganesha. Sesaat sebelum keduanya memasuki peron stasiun, tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Ganesha! Lama sekali,” kata suara itu sarkas.

Ganesha mendengus kesal dan menjawab, “Apa yang kau lakukan, eh?”

“Mencarimu dan Giandra. Kau tahu Giandra juga penting bagiku,” jawab suara itu.

“Sudahlah, Gerry. Ayo cepat berangkat. Galeri Nasional mulai riuh,” kata Ganesha enggan mendebat.

Ketiganya memasuki peron dan berjalan menuju peron tempat kereta dengan tujuan stasiun Gambir ada. Ganesha terus melirik jam di tangannya, sementara Giandra masih dirundung kaget juga rasa kehilangan. Gerry memainkan senapan di tangannya dengan acuh, seolah tidak peduli dengan apa pun.

“Kudengar adikmu dimakan Lyctans,” kata Gerry memecah keheningan.

“Bodoh!” seru Ganesha ketus.

“Kau harusnya meminta pertanggungjawaban pada sosok di sebelahmu, Gi. Dialah yang membuat wabah Lyctans di Jakarta,” lanjut Gerry.

Giandra menggigit bibirnya keras meredam isakan tangis. Ganesha menyentuh pundaknya pelan, berusaha menenangkan.

Tidak lama sebuah kereta tiba dan ketiganya menaiki salah satu gerbongnya. Suasana sangat sepi, bahkan alat transportasi yang dulu ramai ini kian sepi karena hanya orang yang cukup kaya yang bisa menggunakannya.

“Mau ke mana kalian?” tanya seorang bapak berumur sekitar tujuh puluh tahun.

“Ke-”

“Bukan urusan Anda, Tuan,” potong Gerry.

Pria itu tersenyum ke arah Gerry. “Semoga Tuhan memberkatimu, Nak.” Kemudian pandangannya dialihkan pada Giandra dan Ganesha. “Saya juga berharap kalian selamat, tanpa ada niatan buruk yang terlaksana di antara kalian.”

Giandra menatap Ganesha, curiga. Sementara bapak itu beranjak pergi meninggalkan mereka.

* * *
“Apa yang ada di pikiranmu, Ga?” tuntut Giandra dengan nada mengancam. 

Ganesha menggeleng. “Aku hanya ingin kita selamat. Tidak usah kau pikirkan ucapan bapak tadi, kita tidak bisa memercayai siapa pun.”

“Ah, ya, bahkan kau membiarkan adik dari pacarmu mati akibat Lyctans,” kata Gerry ikut campur.

“Kau!” Ganesha maju mendesak Gerry ke dinding gerbong, dicengkeramnya kerah kemeja Gerry.

Chill out, Ganesha. Akuilah, kita tidak bisa memercayai siapa pun,” sahut Gerry masih dengan senyum.

Giandra menatap keduanya dengan bingung. Tidak ada keinginan di hatinya untuk menghentikan perdebatan itu, benar kata Gerry, Ganesha membiarkan adiknya mati begitu saja. Harusnya Ganesha menjemput adiknya terlebih dulu.

Sebuah hologram tiba-tiba muncul dari Decla yang digenggam Gerry.

“Waktu kalian kurang dari satu jam lagi, wilayah kapsul waktu saat ini terbebas dari Verck. Tapi saya tidak bisa menjamin bagaimana saat nanti keberadaan kapsul waktu sudah mulai tercium masyarakat dan Verck. Cepatlah, karena saya tidak ingin kehilangan orang-orang berbakat milik saya.”

Kemudian hologram itu hilang. Gerry mendengus melepas cengkeraman Ganesha pada kerahnya. Sementara Giandra memilin ujung kemejanya panik. 

Verck, makhluk penghisap darah yang akan membuat manusia mati perlahan, hasil percobaan pemerintah dengan menggabungkan gen kelelawar dan manusia. Awalnya Verck akan dijadikan tentara terdepan Indonesia saat menghadapi perang, tapi nyatanya Verck tidak bisa dikuasai dengan mudah dan malah memberontak.

“Sesampainya di stasiun Gambir nanti, kita masih harus berjalan sekitar lima kilometer dan itu akan sangat sulit.” Gerry menekan Decla-nya dan memunculkan sebuah hologram denah dari Galeri Nasional.

“Kapsul waktu terdapat di bagian belakang Galeri Nasional, dan lihat beberapa titik merah itu adalah tanda daerah yang dikuasai Verck,” jelas Gerry.

Ganesha menarik Giandra mendekat saat sebuah getaran terasa lagi. Gempa bumi yang cukup kencang. Namun untungnya gempa itu hanya terjadi beberapa menit dan situasi kembali normal.

“Sebentar lagi kita sampai. Make a decision. Dare yourself to kill,” kata Ganesha singkat.
Or being kill,” lanjut Gerry.

* * *

Ketiganya berjalan dengan cepat dan hati-hati menuju Galeri Nasional. Cukup jauh sebenarnya, namun jika mereka menumpang kendaraan lain akan semakin banyak orang yang tahu, dan keberadaan kapsul waktu tidak boleh diketahui masyarakat.

Kapsul waktu ternyata sudah direncanakan oleh seluruh pemimpin negara di dunia sejak sepuluh tahun lalu; peneliti sudah membuat perkiraan jika kiamat akan menghampiri dunia tahun ini. Setiap negara hanya memiliki dua kapsul waktu berkapasitas 250 orang. Nantinya kapsul waktu akan diterbangkan ke luar angkasa hingga proses kiamat selesai, kemudian mereka yang selamat akan membentuk peradaban baru lagi nantinya.

Egois, tapi logis. Siapa yang mau bertahan dengan pasrah menerima kehancuran dunia ketika ada pilihan lain menyelamatkan diri meski dengan mengorbankan banyak orang?

“Giandra awas!” Gerry mendorong tubuh Giandra hingga Giandra terpental ke sebuah trotoar.

“Verck sialan!”

Gerry memaki dan menembak Verck tersebut tepat di jantungnya. Giandra yang masih shock hanya terdiam melihatnya, baru kali ini Giandra melihat Verck. Ternyata Verck umumnya terlihat seperti manusia biasa, hanya saja iris matanya kemerahan dan pendengarannya sangat peka.

“Pegang ini,” kata Gerry sambil memberikan sebuah senapan pada Giandra. “Tembak setiap Verck yang mendekatimu, aku tahu kau tidak membawa peralatanmu.”

Giandra mengangguk. Dari ekor matanya dia melihat Ganesha menghampirinya sehingga dia dengan cepat segera memasukan senapan itu pada selipan bajunya.

“Giandra? Kau baik-baik saja, kan?” tanya Ganesha panik.

“Aku pikir kau akan membiarkanku mati juga. Memang bukan dengan menjadi Lyctans, tapi mati oleh Verck,” sahut Giandra sarkas.

Ganesha mendesah kesal, dia tahu Giandra sangat kehilangan adiknya. Tapi seharusnya Giandra mengerti, Ganesha juga kehilangan keluarganya. Ganesha memilih menyelamatkan Giandra dan harusnya itu udah sudah cukup.

Giandra berjalan dengan cepat mendahului Ganesha dan Gerry. Mereka berjalan memutar ke arah belakang Galeri Nasional. Sekilas Galeri Nasional tampak baik-baik saja, hanya beberapa lukisan terjatuh mungkin efek gempa beberapa waktu lalu. Namun bau amis darah tercium dengan kuat membuat Giandra harus menutup hidungnya.

Ganesha menguatkan dirinya menerima kemarahan Giandra, dia menghampiri Giandra dan menarik Giandra ke sisinya berusaha melindungi. Giandra hanya tersenyum miring sekilas namun tidak menolak, sementara Gerry berjalan di belakang mereka sambil tetap siaga.

Gerry tahu pasti apa kelemahan Verck dan apa yang menjadi tanda-tanda kehadiran Verck karena Gerry adalah peneliti yang mentransfer gen kelelewar dengan gen manusia sehingga menghasilkan Verck.

Gerry, Giandra dan Ganesha merupakan teman semasa sekolah dan sebenarnya mereka cukup dekat mengingat mereka juga tinggal di daerah yang sama. Namun ambisi Gerry dan Ganesha membuat keduanya bertabrakan.

“Pintu masuk sudah dekat,” kata Ganesha.

“Dan kehadiran Verck semakin banyak,” lanjut Gerry.

Giandra melengos berjalan mendahului keduanya, dia merasa lelah dan ingin secepatnya sampai pada kapsul waktu, memikirkan bagaimana hidupnya tanpa adiknya sudah membuatnya cukup terpukul.

“Giandra!”

Giandra menoleh, sesosok Verck wanita ada di sebelahnya. Di sudut bibirnya terdapat noda merah mengering membuat Giandra ngeri.

“Mau ke mana, Nona?” tanya Verck itu sambil mendesis membuat Giandra mundur ketakutan.

“Tidak,” desis Gerry. “Verck itu memanggil kawanannya. Mereka tahu kita mengejar kapsul waktu dan mereka tidak akan membiarkan kita lolos.”

“Waktu kita hanya lima menit lagi,” keluh Ganesha kesal.

Benar yang dikatakan Gerry, sekawanan Verck muncul dan mengepung mereka bertiga. Gerry sudah siap dengan senapan di tangannya, Ganesha juga memegang belati perak di tangan kanannya.

“Waktu kalian tiga menit lagi,” suara profesor Greya terdengar melalui headset di telinga Gerry dan Ganesha.

Kill, now!” sentak Gerry.

Gerry menembakkan senapannya ke jantung kawanan Verck sementara Ganesha menerjang Verck itu dengan belatinya. Verck hanya bisa dikalahkan dengan perak. Ketika kawanan Verck mulai berkurang, Ganesha mendorong Giandra untuk segera berjalan ke arah pintu masuk kapsul waktu.

Giandra berlari kemudian sensor di sebelah pintu kapsul waktu memindai iris mata Giandra dan terbuka. Giandra melihat Gerry sudah berjalan mendekat sementara Ganesha masih sibuk bergelut dengan satu Verck.

Dorr!

Giandra menembak Verck yang bergelut dengan Ganesha dan membuat Ganesha terkejut.

“Gia? Dari mana kamu-”

“Gia, cepat!” Gerry mendorong Giandra masuk ke dalam kapsul.

Dorr!

“Lupakan, Ger. Aku tidak butuh siapa pun. Aku bisa selamat seorang diri,” bisik Giandra pada Gerry, dan kemudian dia melepas sebuah tembakan lagi pada kening Gerry.

Giandra tertawa. “Aku tahu mengenai kapsul ini sejak lama karena aku merupakan salah satu mata-mata pemerintah, dan aku memanfaatkan kalian agar aku juga adik-adikku bisa selamat! Harusnya kau sadar, Ga, tidak ada cinta untukmu! Aku memacarimu dan Gerry hanya agar aku bisa mendapat akses kapsul waktu ini untuk dua adikku. Sebagai mata-mata aku hanya memiliki satu akses menaiki kapsul ini untukku sendiri.”

“Maksudmu apa? Jadi selama ini Gerry tahu semuanya? Termasuk statusmu sebagai mata-mata?” tanya Ganesha sambil berjalan menghampirinya, sekarang ia mulai mengerti mengapa Giandra sudah terdaftar sebagai penumpang kapsul waktu tadi.

“Jangan mendekat atau aku akan menembakmu,” desis Giandra. “Aku tadi menunggu adikku, bukan menunggumu. Harusnya yang datang adikku, bukan kau! Aku sudah menyiapkan akses untuknya, tentu saja berkat bantuan Gerry.”

Ganesha menatap Giandra tidak percaya. Giandra yang ingin diselamatkannya ternyata memilih mengkhianatinya.

“Adikku mati sebagai Lyctans. Akan adil jika kau menikmati sensasi mati akibat Verck. Daripada membunuhmu dengan senapan ini, aku memilih membiarkanmu mati dengan sendirinya, Ga. Anggap saja sebagai bukti cinta terakhirku.”

“Psikopat!” Ganesha mendesis.

Ganesha berusaha berlari menuju kapsul waktu namun satu Verck berhasil menggigitnya dan menimbulkan rasa nyeri, darahnya terhisap membuat Ganesha linglung dan kesakitan melandanya.

I love you too, sayang,” kata Giandra sesaat sebelum pintu kapsul tertutup.

* * * 

– Tamara Sarlita –

Posted in Event Duel, Fiction, First - Winner, Horror - Genre, Wattpad - Story

The Elevator [Horror]


“Mau coba?” tawar Gilang pada Farhan. Gilang sedang artikel yang ia baca.

“Gak. Gue ga mau nyia-nyiain nyawa,” tolak Farhan.

“Pecundang! Ayolah,” paksa Gilang.

“Kalo kita terjebak di sana gimana?” tanya Farhan khawatir.

Gilang tampak berpikir seraya membaca ulang artikel itu. “Ga bakal. Lagian pasti gagal, karena kita main berdua. Peraturannya main sendiri,” jelasnya.

Farhan diam sejenak.

“Gimana?” tanya Gilang lagi. 

Farhan akhirnya menyerah dan mengangguk. “Oke. Tapi serius kita ga bakal kejebak?” tanya lelaki itu memastikan.

Gilang mengangguk. “Pasti!” jawabnya mantap.

Dua sahabat yang kini sedang menikmati masa libur kuliahnya itu memang dari kecil hobi mencoba permainan yang menyeramkan. 

Tapi,  permainan kali ini yang menurut mereka paling menyeramkan. Mereka akan bermain The Elevator. Permainan yang taruhannya jika mereka gagal akan terjebak di dunia lain.

“Kapan?” tanya Farhan seraya meminum jus jeruk kesukaannya.

Gilang mematikan televisi. “Sekarang?” tawarnya.

Farhan tampak ragu, tapi akhirnya lelaki dengan rambut acak-acakan itu mengangguk.

Kebetulan, mereka sekarang berada di hotel berlantai dua puluh. Menurut artikel itu, syarat tempat permainan itu adalah minimal berlantai sepuluh.

“Ayo!” ajak Gilang yang kini sedang berjalan ke arah pintu. Farhan mengekori dari belakang.

Setelah mengunci pintu, Gilang mengajak Farhan masuk ke lift untuk turun ke lantai satu. Permainan ini memang harus dimulai dari lantai satu.

Ting!

Terdengar bunyi yang menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuan.

“Siap?” tanya Gilang.

Farhan yang tadinya takut kini tampak lebih berani. “Siap,” jawabnya tegas.

Gilang yang memang sudah membaca artikel itu berulang-ulang hafal apa saja yang harus ia lakukan.

Lelaki itu menekan angka empat. Lift langsung tertutup dan menuju ke lantai empat.

Ting!

Terdengar suara yang menandakan mereka sudah sampai di lantai empat.

“Tekan angka dua,” perintah Gilang pada Farhan.

Farhan langsung menekan angka dua. Pintu lift tertutup lagi dan benda itu segera turun ke lantai dua. 

Ting!

Terdengar lagi bunyi itu, artinya sekarang mereka ada di lantai dua. Pintu lift terbuka, namun Gilang buru-buru menekan angka enam.

Ting!

Mereka sudah ada di lantai enam.

“Kok aneh, ya? Ga ada yang mau naik lift gitu?” tanya Farhan heran. Gilang hanya menggeleng tanda ia tak tahu.

Gilang kembali menekan angka dua.

Ting!

Mereka kembali lagi ke lantai dua. Baik Farhan maupun Gilang belum melihat keanehan. Gilang lalu menekan angka sepuluh.

Ting!

Mereka sekarang ada di lantai sepuluh.

“Tekan lima,” perintah Gilang pada Farhan.

Farhan segera melakukan apa yang diperintahkan Gilang. Lelaki itu langsung menekan angka lima.

“Kalo nanti ada cewe, gue mohon jangan diajak bicara,” gumam Gilang takut.

Farhan menatap Gilang heran. Biasanya lelaki itu malah lebih berani dari dirinya. Baru kali ini ia melihat Gilang ketakutan begini.

“Kena–”

Ting!

Farhan yang tadinya hendak menanyakan alasan Gilang melarangnya keburu dipotong oleh suara lift. Berarti mereka sekarang sudah berada di lantai lima.

Saat pintu lift terbuka, benar kata Gilang. Ada seorang wanita ikut masuk. Farhan memperhatikan wanita itu dari kepala sampai kaki, tak ada yang aneh.

Farhan menatap Gilang dengan tatapan bingung. Bukannya membalas, Gilang malah menekan angka satu kemudian menundukkan kepalanya.

Farhan langsung beranggapan, mungkin lantai lift ini lebih menarik daripada wanita misterius di sebelahnya.

Farhan berani bersumpah, tidak ada yang aneh dari wanita itu. Rambut panjang, baju gaun. Layaknya wanita yang baru pulang berpesta. Sayangnya, wajah wanita itu tidak mengarah kepada dirinya.

Keringat mengalir di pelipis Gilang. Ia memandang Farhan gugup. Wanita itu memang berdiri di antara mereka.

“Lihat ini,” Gilang berbicara tanpa mengeluarkan suara. Dia melirik ke arah papan yang biasa digunakan untuk mengatur kemana lift akan pergi.

Di papan itu terdapat layar digital yang biasanya menunjukkan lantai tujuan mereka. 

Farhan berubah pucat pasi saat melihat yang tertera di sana adalah angka sepuluh. Ia yakin tadi melihat Gilang menekan angka satu.

Gilang kembali melirik Farhan takut. Kini bukan hanya Gilang yang berkeringat, Farhan juga ikutan berkeringat.

Tiba-tiba wanita misterius itu menekan angka tujuh disaat mereka baru mencapai lantai lima.  

Gilang menghela nafas lega. Menurut permainan, wanita itu seharusnya tidak berhenti di lantai lain.

Ting!

Wanita itu langsung keluar begitu pintu lift terbuka.

“Untunglah!” syukur Gilang dengan senyum lebar. 

Pintu lift kembali tertutup untuk menuju ke lantai sepuluh, karena kamar mereka ada di lantai sepuluh.

Ting!

Gilang dan Farhan langsung berebutan keluar dari lift

“Selamat kita!” seru Farhan.

Gilang mengangguk. “Gue kira gue gabakal hidup lagi.”

Farhan tergelak.

Mereka  segera melangkahkan kaki ke kamar mereka yang terletak di pojok lorong ini.

“Malam!” sapa petugas kebersihan yang lewat. Farhan dan Gilang membalas dengan senyuman.

Gilang yang memang memegang kartu kamar mereka langsung menempelkannya di dekat gagang. Pintu kamar mereka pun terbuka.

“Han,” panggil Gilang setelah menutup pintu. 

Farhan yang baru saja duduk langsung menoleh dengan tatapan bertanya.

Gilang lagi-lagi terlihat gugup. “Lo ngerasa ada yang aneh, ga?” tanya Gilang hati-hati.

Farhan menatap Gilang tajam. “Lo jangan nakut-nakutin!”

“Gue serius,” ujar Gilang meyakinkan.

Gilang duduk di atas tempat tidur yang memang berhadapan ke sofa.

“Lo sadar, ga? Hotel ini ga punya lantai tujuh, Han!” kata Gilang.

Farhan tampak terkejut. “Lo benar! Gue pas nekan tadi ga ngeliat angka tujuh!” katanya kaget.

Mata Gilang bergerak liar menatap sekelilingnya.

“Hotel ini ga punya petugas kebersihan yang kerja malam,” tambahnya lagi.

Keringat mulai mengucur di pelipis mereka. Padahal,  mereka baru saja merasakan kelegaan.

Farhan berdiri dan mengintip dibalik tirai jendela mereka perlahan. Tak puas, lelaki itu membuka tirai.

“GILANG! LO HARUS LIHAT!” teriaknya tiba-tiba.

Gilang langsung bangkit dan berlari ke arah jendela. Matanya terbelak ketika melihat jendela.

Tidak ada jalan di bawah. Tidak ada cahaya. Tidak ada keramaian. Semuanya gelap, seolah-olah kamar mereka adalah suatu tempat yang melayang bebas.

“AYO!” ajak Gilang yang kini berlari ke arah pintu kamar. Farhan ikut berlari di belakangnya.

“Malam.”

Lagi-lagi petugas itu menyapa mereka saat baru saja Gilang menutup pintu. Ada yang beda kali ini, sapaan itu disertai seringai.

Persetan dengan petugas dan senyum anehnya. Keluar dari dunia aneh ini yang menjadi pikiran utama Gilang dan Farhan sekarang.

Dua sahabat itu berlari sekencang mungkin ke arah lift. Dengan tak sabar ia menekan tombol lift itu agar terbuka.

Ting!

Dua lelaki itu langsung menerobos lift itu dengan tak sabaran. Gilang langsung menekan angka empat.

“Mau kemana kalian!” seru petugas kebersihan tadi. 

Tampangnya sekarang lebih menyeramkan. Matanya merah, membuat Gilang semakin beringas menekan angka empat.

Akhirnya pintu lift itu tertutup tepat saat petugas itu hendak menggapai lift.

“KITA HARUS APA?!” tanya Farhan panik.

Tangan Gilang gemetaran. Jarinya sudah siaga di angka dua.

“Kita harus ngulang yang tadi, kemudian membatalkan sebelum sampai di sepuluh.” 

Ting!

Suasana semakin mencekam. Mereka kini berada di lantai empat. Gilang langsung menekan angka dua. 

Yang dapat Farhan lihat, lantai empat ini berbeda dengan lantai sepuluh. Darah berceceran. Tubuh terbaring di lantai. Bukan satu atau dua, tapi puluhan tubuh.

Pintu lift langsung tertutup lagi. Jari Gilang kini sudah siaga di angka enam.

Ting!

Baru setengah pintu terbuka, sudah ada tangan terselip di celah pintu itu. Gilang dengan panik menekan angka enam. Farhan berusaha mencegah tangan itu untuk menggapai mereka.

Untunglah pintu lift langsung tertutup. Kini jari Gilang yang bergetar sudah mengarah di angka dua.

Ting!

Mereka ada di lantai enam. 

“TEKAN CEPAT! GUE GAMAU MATI SEKARANG!” teriak Farhan yang membuat Gilang menekan angka dua.

Manusia mana yang tidak panik melihat zombie di hadapan mereka.

“SETAN LO!” teriak Gilang seraya menendang salah satu zombie yang hendak masuk ke dalam lift.

Begitu zombie itu terpental, pintu lift langsung tertutup.

Sekarang, giliran jari Farhan yang siaga di angka sepuluh.

Ting!

Mereka sampai di lantai dua. Tak terbayang betapa cemasnya mereka sekarang. 

Begitu pintu lift baru terbuka setengah, Farhan langsung menekan angka sepuluh.

Beruntung, pintu lift  tertutup kembali. 

“Gue masih pengen hidup,” gumam Gilang yang sudah bersiap menekan angka lima. 

Ting!

Bunyi itu menandakan mereka sudah sampai di lantai sepuluh.

Gilang langsung menekan angka lima dengan brutal. 

Pintu lift langsung tertutup. 

Gilang sudah bersiap menekan angka satu.  Namun, darah mengalir di celah pintu lift.

“GUE BELUM MAU MATI!” seru Farhan.

Ting!

Mereka sekarang ada di lantai lima. Gilang langsung menekan angka satu, tak perduli lagi dengan darah yang sudah menggenang di kaki mereka.

Setelah terbuka sedikit, pintu lift kembali tertutup.

“DIA NAIK LAGI KE SEPULUH!” teriak Gilang panik melihat layar digitalnya menunjukkan angka sepuluh.

Farhan yang sudah berada di titik sangat panik langsung menekan angka apapun yang bisa ia tekan.

Tiba-tiba mati lampu. Gelap dan bau amis darah, lengkap sudah.

Tangan Farhan masih menekan angka di lift.

“GUE BELUM SIAP MATI!” teriak Gilang histeris.

Ting!

Lampu lift kembali menyala, seiring dengan pintu lift yang terbuka.

Farhan melirik ke arah layar digital. Layar itu menunjukkan angka satu. Gilang melihat ke bawah. Kemana perginya darah itu?

Gilang menyembulkan kepalanya ke luar. Setelah merasa aman, ia mengajak Farhan keluar. Mereka layaknya orang bingung.

“Ini dunia beneran, kan?” tanya Farhan tidak yakin, takut jika kejadian tadi terulang lagi.

Gilang memandang sekelilingnya. “Gue yakin kali ini memang dunia asli.”

Gilang mengajak Farhan ke cafe hotel itu. Tampak cafe itu ramai. Mereka kemudian mengambil meja di pojok.

“Iya, memang asli,” ujar Farhan sambil menyesap kopi hangatnya.

Gilang terkekeh. “Sumpah, gue tobat main gituan!”

Farhan terkekeh.

Mereka berjanji ini terakhir kalinya mencoba permainan mencekam. Nyawa mereka tadi menjadi taruhannya.

* * *


– Litha –

Posted in Event Duel, Fiction, First - Winner, Thriller - Genre, Wattpad - Story

Siapa Dia? [Thriller]

“Tolong!” Terdengar suara seseorang teriak dari sebuah lorong tak jauh dari tempatku sedang berjalan sekarang.

Kontan aku bergeming sejenak. Melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada seseorang yang mengikutiku. Kau tahu kalau sekarang sudah tengah malam? Ya, jalanan sekarang amat sepi.

Kira-kira tiga puluh meter dari tempatku sekarang ada seseorang yang teriak meminta tolong. Aku menyisir trotoar jalan sampai ke mulut lorong sekarang.

Melihat sejenak ke dalam lorong tersebut, lalu bersandar ke dinding bangunan seraya menelan ludah. Karena jujur aku sedang deg-degan saat ini.

“Tolong!”

Sial, suara itu ternyata suara seorang perempuan. Aku membatin mengetahui bahwa perempuan tersebut dalam situasi bahaya saat ini.

Aku melirik arlojiku sesaat, dan sekarang sudah jam dua pagi. Aku menerka-nerka apa yang sedang terjadi di ujung lorong sana.

Pikiranku menebak kalau perempuan itu sedang mengalami pelecehan seksual. Namun semua itu belum tentu benar sampai aku sendiri yang melihatnya.

Jalanan di depanku amat sepi, dua bangunan yang mengapit lorong ini sangat besar. Di dalam lorong tersebut hanya ada satu cahaya yang temaram. Aku menebak kalau lampu yang memancarkan sinarnya itu bohlam kuning.

Entah mengapa rasanya aku ingin lari sekarang, namun kakiku tak bisa bergerak seakan diam terpaku. Tubuhku merasakan semilir angin malam yang amat tajam menembus pakaian yang kukenakan.

Dua jam lagi dari sekarang sudah memasuki waktu subuh, atau waktu fajar tak lama lagi akan menjelang. Kalau aku menunggu sampai dua jam lagi, jalanan di depanku pasti sudah sedikit ramai. Setidaknya ketika aku menemui seseorang di jalanan ini aku bisa meminta bantuannya, siapa pun itu.

Kalau aku memasuki lorong tersebut dan memastikan apa yang terjadi, aku takut sesuatu yang tak kuinginkan menimpa diriku. Risiko yang aku ambil terlalu berat untuk itu. Sekarang pilihannya hanya dua, maju atau lari.

* * *

Jam 23.45. Di suatu restoran dekat jalan cinta.

“Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin menikah denganmu!”

“Kau hanya gadis miskin Olla, mau tak mau kau harus menikah denganku supaya hutang keluargamu bisa lunas semua.”

“Aku bisa melunasi hutang keluargaku padamu, kau hanya perlu menunggu sampai aku melunasinya, Don.” Olla amat percaya diri dengan keyakinannya.

“Tidak mungkin Olla,” kata Don menyeringai, “mana mungkin perempuan sepertimu bisa melunasi hutang yang sangat banyak kepadaku. Mestinya kau bersyukur menjadi istriku, karena semua kebutuhanmu dan keluargamu sudah terjamin.”

“Aku bilang, aku tidak setuju menjadi istrimu Doni!” teriak Olla keras.

Suasana ribut ini kian menjadi, seakan Olla sudah amat marah mencapai puncaknya; Doni hanya terus-menerus menampakkan senyum seringainya.

Doni memajukan kepalanya sampai ke telinga Olla. “Begini saja, jika kau menyetujui permintaanku. Maka hutangmu akan lunas semuanya.”

“Apa itu?” tanya Olla seraya menelan ludah, seolah firasat buruk akan menghampiri dirinya.

“Kau harus mau bercinta dengaku,” bisik Doni lirih.

“APA!” Olla terkejut, dan tangannya langsung menampar pipi Doni yang tak jauh darinya.

“Hahaha!” Doni tertawa dan mengelus pipinya.

“Kau memang benar-benar kurang ajar Doni!” tegas Olla. “Aku ingin pulang.”

Olla bangkit dari duduknya, dan meninggalkan Doni di restoran tersebut. Di restoran ini hanya ada mereka berdua, karena Doni telah menyewanya untuk spesial dinner bersama Olla.

Doni mengambil ponsel dari saku celananya. “Hallo, laksanakan tugas kalian secepatnya.”

“Baik bos.”

* * *

Jam 00.45. Olla berjalan seraya mencari taksi di dekat jalan yang ia lalui. Sudah dua puluh menit ia menunggu di depan restoran, namun tak kunjung juga menemui satu pun taksi yang lewat.

Olla adalah wanita berumur 22 tahun. Dia memiliki wajah cantik bak model, tubuh tinggi semampai dan rambut panjang berwarna hitam kecokelatan bergelombang sepunggung. Kakinya jenjang, kulitnya putih dan iris cokelat menghiasi kencatikannya yang bagaikan bidadari itu.

Tetapi nasib tak berpihak dengannya. Ia lahir dari keluarga miskin yang tinggal di pinggiran kota. Orang tuanya hanya bekerja serabutan saja. Kadang ayahnya menjadi pemulung, tukang becak, kuli dan pekerjaan lainnya yang bisa dikerjakan. Sedangkan ibunya hanya seorang pembantu rumah tangga. Buruh cuci keliling, dan kadang membantu suaminya memulung.

Sejak kecil Olla hidup dengan kekurangan, namun ia tak malu mempunyai orang tua yang seperti itu. Dirinya bertekad kalau sudah besar nanti akan mengubah keadaan keluarganya menjadi lebih baik.

Sampai sesuatu hal terjadi yang menemukan dirinya dengan Doni. Seorang rentenir muda tak berperikemanusiaan. Di dekat rumah Olla, jika ingin meminta bantuan, maka temuilah Doni.

Doni dianggap sebagai dewa penolong di lingkungannya. Dirinya menolong sekaligus menyengsarakan orang-orang yang meminta bantuan kepadanya.

Sebenarnya Olla tidak mau meminta bantuan kepada Doni, karena beberapa orang di sekitar rumahnya yang meminta tolong pada Doni, tak lama kemudian akan sengsara.

Ada yang bunuh diri, ada yang masuk penjara. Bahkan terdengar kabar bahwa ada yang dibunuh olehnya. Akan tetapi, pilihannya hanya satu ketika itu. Olla harus memakai jasa Doni untuk menolong keadaanya saat itu.

“Dia wanita yang dibilang bos kan?” tanya seseorang di dalam mobil.

“Iya benar.”

“Bos menyuruh kita menyekapnya, dan membawanya ke belakang gedung OL.” Pria di samping pria yang menyetir, berbicara.

“Baiklah,” kata pria yang menyetir itu.

Kenapa firasatku tidak enak ya, seperti ada yang mengikutiku, bantin Olla.

Cittt!!

Sebuah mobil sedan memblokir jalan Olla, lalu seorang pria keluar dari dalam mobil dan membekap mulut Olla dengan sapu tangan, kemudian dia membawanya ke dalam mobil.

* * *

“Hai, Olla.” Suara tak asing menyapa Olla.

Olla masih mengerjap-ngerjapkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa yang ada di depannya. “DONI!”

“Baru dua jam kutinggal, kau sudah seperti ini ya, Olla.” Doni tersenyum menyeringai ke arahnya.

“Doni, lepaskan ikatan ini,” seru Olla memberontakan dirinya yang sedang diikat kedua tangannya ke belakang. Dirinya diikat dalam keadaan duduk, dan kakinya juga diikat.

“Kau banyak bermain denganku Olla,” kata Doni, wajahnya tampak serius. Tidak ada lagi tawa atau pun seringainya.

“Maksudmu apa, Don?”

“Sudahlah Olla, hasratku ingin menidurimu sudah tidak ada lagi.” Doni merunduk, wajahnya kali ini amat dekat dengan wajah Olla.

Cuih!

Olla meludahi Doni.

Tetapi Doni mengelap ludah itu dari wajahnya.

“Kurang ajar kau Doni! Maksudmu apa berkata seperti itu?” kata Olla dengan nada keras sampai tampak urat-uratnya.

Parrr!!

Doni tak segan menampar Olla amat keras. Rona merah menyala, menghiasi pipi mulus Olla.

Doni menarik wajahnya, dan sudah berdiri tegak di tempatnya sekarang yang hanya terpaut beberapa senti saja dari tempat Olla.

Olla hanya merundukkan kepalanya sehabis ditampar. Rambut yang basah menutupi raut wajahnya. Olla tak bergumam sepatah kata pun. Dia tampak duduk lesu setelah itu.


Doni mengambil pisau lipat dari saku jaketnya.


“Bos, kau serius akan membunuhnya?” kata rekannya yang tadi disuruh menculik Olla.

“Apa kita tidak memperkosanya terlebih dahulu bos?” seru seorang rekan lainnya, yang juga tadi disuruh menculik Olla.

“Diam kau budak!” tegas Doni.

“Baik, bos,” ucap kedua rekan Doni secara bersamaan.

Doni memegang dagu Olla. Olla hanya menatap kosong kepada Doni. Tangan Doni yang memegang pisau lipat tersebut perlahan menyayat pipi Olla.

“ARGHHH!” Olla berteriak sekuat tenaga.

“Sial, bos tidak mengizinkan kita meniduri perempuan cantik itu,” ucap orang suruhan Doni yang hanya bisa menyaksikan di belakangnya.

“Iya, benar.” Rekan di sampingnya menyahuti.

“Tolong!” Olla berteriak meminta tolong. Doni berhenti menyayat pipi Olla sejenak, seakan menikmati teriakan yang penuh kesakitan itu.

* * *
Jam 02.48. Di depan mulut lorong.

“Aku sudah diam lama seperti ini sambil terus mendengar teriakan perempuan itu, entah untuk yang keberapa kalinya.”

Aku seakan hampa tak bisa melakukan apa-apa selama ini. Aku harus siap mengambil risiko seberat apa pun, ketika aku sudah melihat apa yang terjadi di ujung lorong sana.

Aku harus memastikan secepatnya, baiklah aku akan memasuki lorong gelap ini secara perlahan. Ya, sudah hampir setengah jalan kulalui. Bohlam temaram sekarang telah berada di atas kepalaku. Tak lama lagi aku akan sampai pada ujung lorong ini.

“To … long ….”

Suara itu dari sini masih terdengar, namun semakin kecil suaranya. Akhirnya aku tiba di ujung lorong ini.

Siapa itu? Kenapa tubuhnya sudah berlumur banyak darah? Tangannya ke mana? Sial, itu hewan atau orang. Aku tak pernah sepanik ini, walau melakukan apa pun yang sulit pasti tak pernah sampai begini.

Siapa kedua orang yang hanya menyaksikan itu, sebenarnya apa yang terjadi di sini? Sungguh membuatku takut.

Tap!!! 

Siapa yang menyentuhku?

“Rupanya ada seorang saksi di sini, ya.”

Suaranya amat menakutkan, siapa dia ….

* * *


– Gusti Andalan –