Posted in Event Duel, Fiction, Science-Fiction - Genre, Second - Winner, Wattpad - Story

Escape Pillar [Science-Fiction]

Ku kerjapkan mataku berkali-kali, menatap langit-langit malam  dari tempat yang gelap. Aku terbangun di suatu tempat yang tak ku kenali sebelumnya. Aneh, padahal jelas-jelas baru saja aku menutup mata untuk menenangkan diri di atas ranjang, namun entah mengapa tiba-tiba saat ku membuka mata sudah berakhir di tempat ini.

Segera ku angkat punggungku perlahan, lalu kugerakan kedua tangan dan kakiku. Memastikan tak ada sesuatu yang berubah atau cidera pada diriku. Selepas itu, segera aku bangkit dan melihat keadaan sekitar, sambil melangkahkan kaki selangkah-dua langkah ke depan.


Sampai pada saat ku lihat sebuah cahaya jauh di depan. Ku percepat langkah kakiku dengan sangat hati-hati. Mengingat di sekitarku yang amat gelap. Entah apa yang akan ada di depanku nanti, bisa saja aku menabrak pohon bila ceroboh.
Duk.
Tiba-tiba saja aku terjatuh terhampas ke rerumputan, aku yakin sekali yang barusan menabrak aku itu manusia! Aku segera bangkit, lalu menepuk-nepuk celanaku untuk membersihkan kotoran akibat terjatuh tadi.
Selepas itu, aku mendengar suara seorang perempuan dari kejauhan, menggema. Namun, yang pasti suara itu mengisyaratkan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

“MENUNDUK!”


Lantas aku langsung menunduk, seraya bergetar ketakutan. Dan benar saja, sesudah ku menunduk terdengar bunyi lemparan pisau yang mendarat, sepertinya menancap di pohon?

“Ikut aku!”

Suara yang sama. Tiba-tiba saja seseorang menarik lengan kananku dan memaksaku untuk mengikutinya.

“Eh! kenapa sih, kok aku ditarik-tarik gini! Terus tadi siapa yang lempar pisaunya?” tanyaku geram.

Aku benar-benar tak mengerti apa sebenarnya terjadi. Apa ini mimpi buruk? Tapi mengapa terasa sangat nyata?

“Akan ku jelaskan nanti, lebih baik sekarang kita pergi dari tempat berbahaya ini. Percayalah! saat ini nyawa kita sedang dipertaruhkan.”

Sedetik jantungku berhenti berdetak saat mendengar perkataan terakhirnya. Apa maksud dibalik sebenarnya? Apa benar aku akan mati jika aku berhenti melangkah? Tapi kenapa bisa? Ini kan hanya mimpi!

* * *



Sorak ramai serta dentuman gendang terdengar riuh, sampai-sampai telingaku rasanya mau lepas mendengarnya. Aku, berdiri di tengah-tengah kerumunan orang asing yang sedang menyambutku layaknya keluarga. Senyuman mereka tulus, membuatku hanyut dalam suasana nyaman, membuatku tenang untuk sementara waktu.

“Selamat datang, sepertinya kau orang terpilih yang tak beruntung,” celetuk seorang perempuan remeh yang entah asal suaranya dari mana.

“Eh, Tamara, tutup mulutmu!” sahut perempuan yang berada di sampingku, orang yang menyeretku ke tempat ini.

“Bukannya memang benar?” sahut perempuan yang diketahui bernama Tamara itu, lagi. Tak lama terlihat seorang perempuan datang menghampiriku dengan membelah kerumunan orang. Sepertinya orang yang bernama Tamara. 

“Toh kita semua ini hanya dipermainkan saja, bukan?” lanjutnya.

“Apa maksudmu, San?” tanya perempuan di sampingku. 

“Luna, Luna. Apa kau sudah lupa tentang mimpi Salsa kemarin malam? kita ini hanya sekumpulan peninggalan produk gagal si Mr. Jhonson!” tegas Tamara, sambil tersenyum remeh.

“Lantas, memangnya kenapa kalau kita produk gagal! Apa salahnya kalau kita mendapat kesempatan kedua untuk hidup lama!” sahut sampingku yang ternyata bernama Luna, juga tak mau kalah.

“Eh, bentar … bentar. Apa tadi kamu menyebut nama Mr.Jhonson?” tanyaku bingung. Apakah Jhonson yang dimaksud Tamara itu ayahku?

“Ya! si brengsek yang mengirim kita ke dalam dinding besar ini! Orang yang membuat kami bersusah payah untuk hidup di tengah-tengah kepungan para Zombie di luar sana!”

Aku terdiam, masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kalau benar Jhonson yang dimaksudnya ayah lantas, di mana ayah sekarang? Aku harus bertemu dengan ayah, aku harus bertanya langsung padanya.

“Jaga mulutmu, Tamara! Mr. Jhonson pasti mempunyai alasan, tak mungkin ia mengurung orang terdahulu di balik dinding ini dengan sengaja!”

 Tamara berjalan mendekati Luna dengan ekspresi menantang. “Ha? apa kau bergurau? jadi maksudmu tanpa sengaja, gitu?” ujarnya sambil menaruh lengannya di pundak Luna, namun segera di tepis oleh  Luna.

“Apa kamu lupa? Jelas-jelas di mimpi Salsa, Mr. Johnson lah yang menciptakan monster-monster haus akan darah itu! dan apa dengan mengurung kita di tempat seperti ini menyelesaikan semua kekacauan yang ia buat? Ha? Enggak kan!” lanjutnya, diakhiri dengan dorongan di pundak Luna.

Hahaha … engga lucu, pasti Mr. Johnson yang dimaksud bukan ayah! ya kan?

“Eh … anu … kalau aku boleh tau di mana Mr. Jhonson yang kalian bicarakan sekarang?” 

Seketika semua orang mengalihkan pandangannya dari Luna dan Tamara, malah beralih memandangiku.

“Eh? kenapa?” tanyaku sedikit risih karena menjadi pusat perhatian.

“Dia sudah tewas sejak lama, sebelum berhasil menyelesaikan penawarnya.” Aku lihat Luna menjawabnya sendu, kemudian berlalu begitu saja. 

Entah aku harus percaya atau tidak. Namun setelah melihat Luna yang barusan, membuatku semakin gusar. Takut kalau Mr. Jhonson yang dimaksud itu benar-benar ayah. 
     

Kerumunan orang yang mengelilingiku perlahan satu persatu pergi dan kembali melakukan aktifitas seperti biasa, sepertinya. Dan sekarang aku ditinggalkan sendirian di sini, tanpa ada yang menjelaskan tempat apa ini dan sebenarnya mengapa aku ada di sini.
     

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari informasi tentang tempat apa ini sebenarnya. Tapi, hasilnya nihil. Dan pada akhirnya aku menepi di bawah sebuah pohon yang belum pernah ku ketahui sebelumnya. Melipat kedua kaki dan menguncinya dengan kedua tangan. Aku membenamkan kepalaku di atas dengkul, sambil merenungi nasibku sekarang yang terjebak di tempat aneh. Benar-benar aneh.

* * *



Bulan dan bintang, setidaknya ada dua hal yang masih terlihat masuk akal saat malam hari di tempat ini. Mau tau apa yang tak masuk akal? kalau begitu lihat ke bawah sekarang. Ada banyak ratusan hewan pengerat yang membanjiri di bawah bangunan ini. Seakan siap menyantap seseorang bila ada yang turun.
     

“Hai,” sapa Miya, perempuan yang mengajakku bermalam di tempatnya saat aku berada di bawah pohon sore tadi.
     

Aku sangat berhutang budi padanya, bila saja ia tak mengajaku ke tempat ini, mungkin saja aku akan lenyap di tengah kerumunan tikus-tikus gila itu.
“Hai,” sapaku juga.
     

Aku tersenyum membalasnya. Sekarang dia duduk di sebelahku, sambil menyeruput sesuatu yang ada di dalam batuk kelapa. 
     

“Mau?” tanyanya saat memergoki aku yang sedang melirik ke arah batok kelapa yang sedang di pegangnya.
     

Ku picingkan mataku seraya membalas. “Ah … iya, bila kamu tak keberatan.” 
     

Miya langsung menyodorkannya padaku. Lalu aku meraihnya lalu meneguknya. Tak berselang lama, terdengar teriakan serta bunyi kentungan dari arah jam sepuluh. Sepertinya baru saja terjadi sesuatu. Ku lihat Miya refleks bangkit dari duduknya lalu berlari ke dalam kamar, kemudian keluar lagi membawa dua buah obor yang sudah dilapisi minyak dan korek api yang bentuknya aneh menurutku.
     

“Ayo, kita ke sana.”
     

Lantas aku bangkit dari duduk dan langsung saja disodorkan salah satu obor dari tangan Miya. Aku pun menerimanya tanpa ragu, meskipun terlihat sangat aneh menggunakan obor di zaman modern.
     

“Nyalakan apinya, arahkan ke depan untuk membelah kerumunan tikus-tikus itu, dan yang lebih penting tetaplah di belakangku,” pungkasnya.
     

Aku mengangguk seraya mengekorinya sambil mencoba menyalakan api pada obor. Setelah apinya menyala, segera ku arahkan ke depan sesuai intruksi Miya. Dan ternyata benar! para tikus-tikus haus akan darah itu menyingkir ketika aku arahkan api yang menyala ini.
     

Sampai-sampai aku terkagum-kagum pada diriku sendiri, bangga karena bisa membelah segerombolan vampire kecil inu yang mencoba menghisap darahku. Pencapaian yang paling tertinggi, sesudah ranking 20 dari 24 anak di kelas Matematika. Akhirnya aku bisa membuktikan pada dunia kalau aku benar-benar anak dari seorang ilmuwan terkenal, Mr. Jhonson Gralleleo.

* * *

Sesampainya di suatu tempat, di depan kamar salah satu seorang dari mereka yang tinggal di tempat ini. Ramai, kumpulan orang berkerumun di depan pintu masuk. Aku dan Miya bahkan sulit membelah kerumunan orang itu untuk bisa masuk ke dalam. Butuh waktu sedikit lama.
     

“Ada apa?” tanya Miya khawatir di ambang pintu.
     

“Salsa bermimpi lagi!” sambar salah seorang yang tak ku kenal.
     

Aku yang tak paham lebih memilih menyembunyikan diri di belakang Miya. Lebih baik mendengarkan dan mengamati situasinya terlebih dahulu, untuk memastikan ada hubungannya dengan aku atau tidak.
     

“Kali ini apa mimpinya?”
     

“Masih ada kesempatan. Kita masih ada kesempatan untuk keluar dari dinding,” seru yang lainnya, lagi-lagi aku tak mengenalnya.
     

“Maksudmu? sekarang di mana Salsa?” 
     

“Jangan khawatir, Miya. Dia baik-baik saja,” jawab perempuan itu sambil tersenyum, seperti tidak terjadi hal yang buruk.

Tak lama kemudian dua orang datang dari balik salah pintu di sudut ruangan. Dengan salah satunya sedang merangkul serta menompang yang satunya lagi. 
     

“Salsa!” Miya berlari menghampiri orang yang sedang dirangkul itu. Alhasil aku terlihat oleh yang lainnya.
     

“Selamat datang, Dera,” sapa orang yang di panggil Salsa oleh Miya barusan.
     

Anehnya, bagaimana dia bisa tahu namaku? Aku bahkan belum sempat memberi tahu kepada siapa pun dari awal menginjakan kaki di dalam dinding besar ini.
     

“Kamu ngomong sama aku?” tanyaku meragu.
     

“Iya, kamu, anak Mr. Jhonson. Alasan sebenarnya kami dikirim beliau je tempat ini,” tandas Salsa.
     

“Ha? Maksudnya?” 
     

Aku bingung! Apa maksudnya aku alasan mereka ada di sini? Dan ayah, Apa yang sebenarnya terjadi? Semua orang sekarang menatap aku lekat. Seperti melihat cahaya di tengah kegelapan, terkecuali Tamara.
     

“Dia? dia Dera Clarisa?” celetuk Tamara sambil membuang muka ke arah sudut ruangan.
     

“Ya, dia anak Mr. Jhonson yang diutus ayahnya dari zamannya.”
     

Aku masih tak mengerti, apaan sih maksud si Salsa itu? Aku dikirim? Ayah yang mengirim aku?
     

“Dera, Ayahmu mengutusmu ke tempat ini untuk menyelesaikan tugasnya yang belum terselesaikan. Menanggung beban mengembalikan kondisi atas ketidak sengajaannya menciptakan mahkluk yang di sebut zombie di luaran sana. Mr. Jhonson percaya padamu, Dera. Beliau mengirimmu ke tempat ini karena yakin hanya kamu, anaknya yang bisa mengakhirinya.”

* * *
     

Namaku Dera, sekali lagi ku tegaskan namaku Dera. Anak dari Mr. Jhonson yang tiba-tiba saja mendadak menjadi kepala suku yang memimpin ratusan orang yang berada di balik dinding besar ini.
    

Sudah lama sejak dua tahun yang lalu, saat pertama kali aku mengetahui kebenarannya tentang keberadaanku di tempat ini. Aku, saat terbaring di nakas, ayah dengan terpaksa membius dan mengurimku ke dua puluh tahun yang akan mendatang dengan menggunakan mesin waktu yang membuat dirinya terkenal itu. Ayah mengirimku karena suatu alasan. Namun, ternyata ayah yang merupakan ilmuwan hebat melakukan kesalahan yang fatal, sampai-sampai mengakibatkan kepunahan umat manusia. 
    

Aku, Dera. Orang yang bertanggung jawab mengakhirinya, sekaligus mengembalikan keadaan seperti dua puluh tiga tahun yang lalu.
     

Sekarang, aku bersama ketiga puluh orang lainnya yang telah menjalani latihan dan persiapan yang matang, keluar dari dinding besar selama tiga puluh hari untuk menjalani misi besar. Aku dibantu oleh Miya, Luna, Salsa, dan Tamara, berpencar memimpin beberapa orang lainnya untuk menulusuri kota demi kota terdekat. Misi untuk menetralkan para zombie dengan alunan nada ritme musik yang dibuat sedemikian rupa olehku. Sesuatu yang bisa mengubah dan menyelamatkan dunia.

* * *


– R P I –

Posted in Event Duel, Fiction, Horror - Genre, Second - Winner, Wattpad - Story

Pojok Ruangan [Horror]

Semilir angin dingin terasa di dalam sebuah kelas yang sunyi membuat merinding bagi siapa saja yang merasakannya. Namun, siapa sangka hawa dingin itu menyimpan sebuah misteri. Misteri yang sudah menjadi rahasia umum di sekolah itu. 

“Kami akan menunggu kalian!” terdengar suara lirihan dari dalam kelas itu. 

* * *

Sinar mentari datang menyambangi bumi dan menyinari sebuah bangunan sekolah yang sering di kenal dengan nama Accross School. Terlihat seorang anak perempuan melewati pintu gerbang dengan cardigan hitamnya. Entah mengapa dari semua anak yang melewati gerbang bersamaan denganya, tak ada seorang pun yang menyapanya. Mungkin, karena ia sudah terbiasa jadi, ia tak ambil pusing dengan sikap teman-teman padanya. 

Ia tiba di depan ruang kelasnya. Kelas X-3. Keadaan kelasnya kosong dan tenang, namun mencekam. Apalagi saat ia tak sengaja memandangi salah satu pojok ruangan dikelasnya yang konon, katanya bagi siapa yang memasuki kelas  dan mendekati pojok ruangan itu berjumlah genap, maka mereka bisa membuka sebuah misteri. Misteri sebuah pintu waktu. Karena hal itu, ia mengurungkan niatnya untuk memasuki kelasnya. Pasti kalian bertanya-tanya bukankah dia sendirian? Sendirian itu bukanlah angka genap. Dan  bukannya ia takut, tapi ia juga mengetahui sebuah rahasia lagi tentang mitos itu yang membuat dirinya harus menunggu para sahabatnya yang akan datang beberapa menit setelah ia datang. Ia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi panjang di depan kelasnya. 

“Hai, Kinan,” sapa Edel, Orlan, Rayhan, dan Alfy bersamaan.

“Hai, juga,” balas Kinan yang mempunyai nama lengkap Kinanthi Angelica. Mereka lalu duduk di sebelah Kinan. 

“Masuk kelas yuk!” ajak Edel dan disetujui oleh mereka semua. Namun, tiba-tiba Edel berhenti di depan pintu sambil membentangkan tangan nya yang menyebabkan insiden tabrakan beruntun di belakangnya. 

“Ish, Del. Lo ngapain sih. Berhenti tiba-tiba!” kesal Kinan sambil mengusap keningnya karena menabrak punggung keras milik Rayhan. 

Edel, lalu berbalik sambil nyengir kuda. “Gue cuman mau mastiin. Kita ganjil atau engga,” ujarnya.

“Iya,” jawab mereka kompak. 

Okay, let’s go guys.” 

Mereka memasuki kelas dan disambut oleh hawa dingin yang bisa dirasakan oleh mereka semua terutama, Kinanthi Angelica. Dari mereka berlima hanya Kinan yang sangat peka merasakan energi gaib. 

“Tunggu deh, guys. Gue ngerasa ada hawa negatif kuat disekitar sini,” ucapnya sambil memperhatikan ke sekelilingnya.

“Kinanthi Angelica, di kelas kita kan ada mitos “Pojokan Kelas” wajarlah lo ngerasain itu,” ujar Edel. 

“Tapi, ini beda, Del. Gue ngerasa ada yang aneh sama kedatangan kita barusan. Seperti… ada yang menyambut kita.” 

“Apa!!” kaget mereka. Lalu seseorang datang. Orang itu melihat sekilas ke arah Alfy yang juga sedang menatapnya. Orang itu lalu membuang mukanya dan duduk di kursinya. 

“Iya… gue yakin. Gue gak salah.” 

“Udahlah semoga gak ada apa-apa. Siapa tau dia nyambut semua anak-anak kelas ini yang mau masuk.  Kita gak ada yang tahu, kan? Bentar lagi bel masuk. Kelas juga rame,” terang Rayhan mencoba postive thingking

Tak lama murid-murid berdatangan. Setelah itu seorang guru memasuki kelas. Pelajaran pun dimulai dengan tertib. 

Selama setengah jam acara KBM itu berlanggsung. Alfy tetap meperhatikan seorang cewek yang pendiam di kelasnya. Jarang berbicara dan tak mempunyai teman. Cewek itu memiliki banyak misteri yang membuat Alfy penasaran. Kegiatan Alfy teralihkan oleh seorang laki-laki bertubuh tegap dan tinggi memasuki kelas mereka. 

“Assalamualaikum anak-anak dan Bu Isma. Maaf bapak menganggu kegiatan belajar kalian. Bapak disini hadir untuk menginformasikan bahwa ada kegiatan Persami untuk anak kelas 10 dan 11 yang akan diadakan hari jumat minggu ini. Di mohon partisipasinya. Terimakasih.” jelas laki-laki paruh baya itu yang mereka ketahui adalah Kepala Sekolah mereka. Setelah berterimakasih pada murid di kelas. Pak KepSek keluar dari kelas. 

Terdengar bisik-bisik membicarakan kegiatan Persami yang akan di laksanakan pada hari Jumat. Terutama Kinan dan kawan-kawannya. 

Bisik-bisik ria pun dihentikan dengan suara penggaris yang yang menghantam meja dengan kerasnya. Kelas pun menjadi hening. 

* * *
“Kita ikut persami, kan?” tanya Edel. Mereka sekarang berada di rumah Edel untuk membicarakan Persami dan sekalian kumpul seperti biasa. 

“Yup,” jawab Orlan singkat.

“Rayhan, lo kenapa? Dari tadi diem aja? Lo denger gak? Kita tadi lagi ngomongin apaan?”

“Eh… emangnya kalian lagi ngomongin apa?” tanya Rayhan. 

“Lagi mikirin, apaan sih lo?”

“Lo semua tau kan? Kalau ada misteri hilangnya kak Devras dan kak Nico, anak kelas 12?” Mereka mengangguk bersamaan. 

“Gue penasaran. Kenapa mereka bisa hilang dan sampai sekarang belum ditemukan jejaknya.”

“Sama gue juga. Katanya mereka hilangnya karena gak sengaja masuk ke kelas kita. Dan mereka mendekati pojok ruangan itu.” 

“Gimana kalau besok pas kita Persami kita mecahin misterinya?”

“Gak!” protes Kinan. 

Why? Kita kan cuman mecahkan misteri aja. Emangnya lo gak penasaran tentang Misteri Pintu Waktu?”

“Iya tuh. Kayaknya seru. Siapa tau aja kita menemukan seseuatu disana. Sekalian petualangan. Kita bisa kemana-mana pastinya,” ujar Edel semangat. 

“Lo semua gak tahu, kan? Asal usul mitos itu? Kalaupun kita tau. Apakah kalian juga tahu bagaimana cara keluarnya?” 

“Menurut dokumen yang gue dapat. Cara keluarnya yaitu dengan kita masuk dulu nanti disana kita akan diberitahukan,” kata Rayhan.

“Cara keluarnya aja kita gak tau. Kalau gitu, memangnya kalian bisa jamin. Kita akan balik lagi ke dunia asal kita?” 

“Gue yakin bisa. Karena itu hanya pintu waktu.” Rayhan membuka kembali dokumen yang ada di tangannya. Tapi, sebuah kertas jatuh. Ia pun mengambil kertas itu dan membacanya. 

Misteri Pintu Waktu



Semua ini hanya ilusi. Ingat dengan baik kata-kata itu. 
Masa lalu memang sebuah masa terjauh dari kita. 
Masa depan adalah masa yang akan menghampiri kita. Bisa menjadi sangat dekat ataupun jauh. Kita tak ada yang tahu. 
Tapi, ingatlah satu hal. Semua ini hanya ilusi dan hanya orang-orang spesial yang akan mengerti maksud dari kata-kata itu. 098762′


“Apa maksudnya? Gue gak ngerti.” 

“Sama gue juga. Yaudahlah ya, intinya kita bawa surat ini dan dokumen-dokumennya. Dan kita akan tetap untuk memecahkan misteri ini.” 

Semua setuju kecuali, Kinan. 
* * *



Hari yang ditunggu-tunggu mereka pun tiba. Terkecuali, Kinan. Ia bahkan tak mau berganti hari jika hari itu. Hari yang telah ditunggu-tunggu para sahabatnya. 

Mereka berangkat ke sekolah pukul 17:00. Sebelumnya mereka sudah mempersiapkan segalanya bukan untuk kemah, melainkan untuk petualangan yang akan mereka lakukana. Termasuk, Kinan yang tak setuju. Ia juga sudah mempersiapkan semuanya. 

Sekitar 15 menit mereka sudah sampai di sekolah. Mereka mengikuti semua kegiatan Persami pada sore itu. Karena petualangan mereka akan dilaksanakan pada malam hari. 

Kegiatan itu selesai sampai  jam 10 malam. Mereka diperbolehkan beristirahat di dalam kelas yang telah dipersiapkan. Karena Perasami ini tidak menggunakan tenda seperti Persami pada umumnya. Hampir semua kelas di lantai bawah terpakai. Kecuali, kelas X-3. Kelas satu-satunya yang tak terpakai atau bahkan tak diperbolehkan untuk di pakai pada malam hari. 

Sekitar jam 11.30 semua orang sudah tertidur dan saatnya Rayhan dkk menjalankan petualangan mereka yang sudah dipersiapkan matang-matang. 

Kinan dan Edel keluar kelas  mengendap-endap sambil membawa tas mereka. Disaat yang bersamaan Rayhan, Alfy, dan Orlan melakukan hal yang sama seperti Kinan dan Edel. 

Mereka bertemu di koridor samping kelas X-1. 

“Udah lengkap, kan kita? Gak ada yang kurang?” tanya Orlan sambil memperhatikan keselilingnya dengan pandangan ngeri.

“Udah,” jawab Rayhan santai. Edel tiba-tiba menjitak Rayhan. Ringisan pun terdengar dari mulut Rayhan.

“Belum, menurut mitos itu. Kita harus genap. Tapi kita sekarangan kita ganjil.” 

“Astaga… kenapa kita bisa lupa tentang ganjil genap.” Mereka yang sedang sibuk-sibuknya memikirkan siapa yang akan menjadi orang ke enam. Mata Alfy tak sengaja melihat sesosok manusia yang sedang berjalan. Dengan cepat ia mengenali sosok itu. Ia pun mengejar sosok tersebut. Di ikuti oleh Kinan dan yang lainnya.

“Adlina, lo mau ikut kita engga?” kata Alfy to the point setelah memegang tangan Adlina.

“Untuk apa aku ikut bersama kalian?” tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka semua lalu menjelaskan pada Adlina dan terus meyakinkan Adlina. Sekitar setengah jam mereka bisa meyakinkan Adlina. Jadilah orang keenam adalah Adlina. 

“Karena semua udah lengkap. Ayo deh kita langgsung kesana. Bentar lagi udah jam 12,” ujar Rayhan. Mereka semua berjalan di iringi dengan pembicaraan santai. Kecuali Alfy, Kinan, dan Adlina. 

Tak lama mereka sampai di depan kelas. Jantung mereka tiba-tiba berdegub kencang. 

“Okay kita buka pintunya bareng-bareng dan kita langgsung masuk. Satu… dua… go.” Mereka membuka pintu kemudian masuk ke kelas. Hawa dingin menyambut kedatangan mereka. Walaupun mereka sudah memakai jaket. Namun, tetap saja. Karena itu bukan hawa dingin biasa. Mata mereka langgsung  tertuju pada pojok ruangan. Perlahan tapi pasti mereka mendekati pojok ruangan tersebut. Sampai akhirnya mereka sampai tepat di depan. Tak mau membuang-buang waktu. Mereka segera menyentuh tembok secara bersamaan. Tiba-tiba sebuah pintu muncul dan terbuka. Kinan dan Rayhan masuk terlebih dahulu, lalu Edel dan Orlan, terakhir Alfy dan Adlina. Setelah mereka masuk pintu pun tertutup. 

“Akhirnya kalian datang. Hahaha… silahkan berpetualangan di dunia ilusi. Karena ‘Semua ini hanyalah ilusi’ Masa lalu adalah masa terjauh kita dan kita tak mungkin untuk kembali lagi…,” suara lirihan itu terdengar lagi.

* * *


– Febriana –

Posted in Event Duel, Fiction, Second - Winner, Thriller - Genre, Wattpad - Story

Mangata [Thriller]

Sebuah rumah besar bergaya klasik dengan pilar-pilarnya yang berdiameter besar dan menjulang tinggi itu terlihat sangat sepi di hari biasa. Tetapi, hari ini rumah besar itu ramai oleh banyak orang yang berkerumun di depan pagar tinggi. Orang-orang itu melihat keadaan di dalam rumah dengan penasaran.

Beberapa waktu lalu rumah itu dijual dan kemudian dibeli oleh seorang artis papan atas. Keluarga yang semuanya entertaiment itu resmi pindah hari ini. Untuk itu ada banyak orang yang penasaran dan berkerumun di depan rumah keluarga si artis.

Sementara itu, dari seberang jalan sesorang dengan pakaian serba hitam dan kepala yang tertutup topi berdiri mengawasi rumah tersebut. Kedua tangannya tersembunyi di dalam kantung celana hitam yang dipakainya. Tiba-tiba laki-laki itu mengangkat pelan kepalanya dan tersenyum sinis entah kepada siapa.

Satu minggu setelah artis papan atas bernama Michael Jason pindah ke rumah barunya, dia mendapat tawaran bermain di sebuah film bergenre thriller. Sebuah film yang diadabtasi dari novel terlaris sejak beberapa tahun silam. Novel berjudul Mangata itu ditulis oleh seorang penulis terkenal bernama Andrew Harris.

“Mr Harris silakan masuk, Tuan Michael sudah menunggu di dalam,” seorang perempuan berpakaian formal mempersilahkan Andrew untuk masuk ke dalam kantor Michael.

“Mari duduk Mr Harris,” Michael langsung mempersilahkan Andrew untuk duduk di kursi tamu yang tersedia.

Senyum ramah Andrew berikan kepada Michael. “Jadi, akhirnya saya bertemu juga dengan pemeran utama novel saya,” kata Andrew memulai percakapan.

“Suatu kebanggaan yang luar biasa saya dapat dipilih untuk proyek besar ini,” ujar Michael yang merendah di hadapan Andrew.

Selanjutnya mereka larut dalam obrolan ringan dan seketika keduanya tampak sangat akrab. Pertemuan ini memang dicetuskan oleh Michael yang ingin mengucapkan terima kasih kepada Andrew yang telah memilihnya. Awalnya Michael ingin mengucapkan terima kasih dengan mungundang Andrew makan malam di rumahnya. Namun sayang, Andrew menolak ajakan Michael tersebut dan justru meminta bertemu di kantor Michael.

Michael pulang ke rumahnya saat jam makan malam. Dia mendapati anak dan istrinya sedang makan malam di ruang makan yang besar dan mewah. Memiliki keluarga kecil yang harmonis sangatlah menjadi kebanggaan Michael di depan publik, dia ingin memberitahu semua orang bahwa dia berbeda dengan artis lainnya yang hanya kawin-cerai saja kerjaannya.

Dad! Aku dengar Daddy dapat tawaran film novel Andrew Harris?” tanya Shopie anak tunggal Michael yang memang gemar membaca berbagai macam novel. Usia Shopie yang tergolong remaja saat ini saja sudah ratusan novel yang dia baca. Tak kurang dari 2 novel dia lahap setiap harinya.

Michael menatap sayang Shopie dan kemudian menjawab, “Tadi Daddy juga bertemu dengan Andrew Harris.” Michael dengan sengaja membuat mimik wajah menggoda Shopie yang tentunya akan menuai protes Shopie.

Daddy kenapa gak ajak Shopie!” protes Shopie yang langsung bangkit dari duduknya.

“Tenang sayang,” Michael berusaha menenangkan Shopie yang kemudian melanjutkan perkataannya, “Daddy akan ajak Shopie ke acara premier film nanti. Shopie bisa foto dan minta tanda tangan Andrew di sana nanti.”

“Janji?” Shopie menjulurkan jari kelingkingnya ke arah Michael.

Sementara itu, Lula hanya diam saja sambil membentuk senyum melihat keakraban ayah dan anak di depannya itu. Bagi Lula melihat Michael dan Shopie seperti sekarang seperti sedang berada di taman bermain yang penuh canda tawa. Lula membesarkan Shopie di tengah rutinitasnya sebagai model dan sekarang Shopie pun sudah merambah dunia tersebut meski tak sepadat jadwal dirinya.

* * *



Tengah malam, angin kencang bersamaan dengan hujan deras turun membasahi bumi. Bau tanah basah menguar di tengah malam, suara katak dan jangkrik tertutupi oleh derasnya air hujan. Semua itu seolah-olah memaksa orang-orang untuk tidak keluar rumah dan tetap tidur di balik selimut tebal masing-masing.

Tetapi, tidak dengan seseorang yang berdiri di depan rumah mewah yang sudah sering dia awasi belakangan ini. Dia berdiri di depan pintu besar dengan raut wajah dinginnya. Penjaga keamanan pun lewat olehnya, seonggok manusia tergeletak bersimbah darah di dalam pos jaga.

Kriet!

Suara derit pintu terdengar menyeramkan di malam mencekam itu. Gelap gulita ruang tamu saat dia membuka pintu. Hanya ada penerangan dari kilat-kilat menyambar berkali-kali di langit luar. Tidak ada siapa pun yang terbangun atau sadar bahwa ada orang asing di rumah tersebut. Baik itu pemilik rumah maupun pembantu, tidak ada yang sadar akan kehadiran ‘dia’ di sana.

Tuk!

Tuk!

Tuk!

Suara ketukan sepatu pantofel terdengar di sepanjang lantai yang dilalu dia. Lurus hingga ke bagian belakang tepat dekat dapur, dia berhenti di depan pintu kayu yang tertutup rapat. Bahkan dia tidak membutuhkan penerangan apa pun, seolah-olah dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini.

Sepuluh menit kemudian, setelah dia selesai dengan para pembantu rumah besar tersebut dia menaiki tangga menuju lantai dua rumah bergaya klasik itu. Pertama-tama dia masuk ke dalam kamar yang paling besar dan dihuni oleh sepasang suami istri. Lula Jason dan Michael Jason tertidur lelap di dalam kamar mereka.

* * *

Headline News:
Telah terjadi pembantaian di rumah artis ternama Michael Jason. Dilaporkan tidak ada yang selamat, diperkirakan pembunuhan terjadi saat malam hari. Saat ini pihak berwajib masih menyelidiki kasus ini.

Andrew melipat koran yang sedang dibacanya. Wajah shock tertara di wajah tampan laki-laki tersebut. Dia menatap pacaranya Angle yang duduk di sebelahnya. “Kau mau ikut aku ke rumah duka mengucapkan belasungkawa?” tanya Andrew kepada pacarnya.

“Tentu!” setuju Angle. “Pembunuhnya benar-benar tega sekali,” lanjut Angle lagi setelah sekilas melihat judul headline news di beberapa koran yang ada di meja ruang tamu apartemen Andrew.

“Ya aku juga tidak menyangka bahwa Michael akan pergi dengan cara tragis seperti ini,” tambah Andrew dari depan pintu apartemennya.

Andrew dan Angle tiba di lokasi kejadian yang terlihat ramai oleh awak media, pihak berwajib dan beberapa masyarakat yang penasaran ingin tahu. “Sepertinya kita tidak bisa turun,” ujar Andrew saat melihat keadaan yang sangat ramai dan sulit untuknya dan Angle turun.

Maka, Andrew dan Angle memutuskan untuk berlalu dari sana dan memilih untuk menghadiri acara pemakaman yang kemungkinan akan dilaksanakan setelah selesai proses autopsi selesai. “Aku dengar mereka semua mati dipenggal oleh pelaku,” gumam Angle yang merasa prihatin dan merinding melihat rumah besar keluarga Jason dari jauh.

Satu tahun setelah kejadiaan mengerikan tersebut, film Mangata resmi dirilis dengan aktor pengganti. Bersamaan dengan itu Andrew juga merilis novel terbarunya dengan tajuk Mangata 2. Nama Andrew melambung tinggi saat itu, film Mangata sukses menerima pujian dari banyak penikmat film.

Tetapi, ada yang aneh saat hari rilisnya novel Mangata 2 milik Andrew. Laki-laki itu tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Suasana ramai di ballroom sebuah hotel semakin berisik saat yang mereka tunggu-tunggu tidak ada.

Tiba-tiba di tengah kegaduhan para penggemar Andrew beberapa orang berseragam lengkap dengan pistol di pinggang mereka meberobos masuk ke dalam ballroom. “Tolong semuanya bersifat koorperatif, kami mencari Andrew Harris!” teriak seorang polisi dengan lantangnya.

“Ada apa ini?” tanya Angle yang heran dengan keberadaan dan tujuan para polisi. “Kenapa mencari Andrew?” lanjut Angle bertanya lagi.

“Andrew dinyatakan bersalah atas pembantaian yang dilakukannya di kediaman Michael Jason satu tahun lalu,” jelas salah satu polisi.

Angle menutup mulutnya tidak percaya. “Tidak mungkin!” teriak Angle tidak percaya.

“Itu semua benar Nona. Semua tertera di dalam buku terbaru Mr Harris,” kata polisi itu lagi.

Tanpa dikomando Angle segera berlari menuju operator layar lebar yang biasanya akan digunakan Andrew untuk menampilkan foto-foto hasil jepretan dirinya. Angle memasukkan sebuah flashdisk ke komputer operator dan memutar sebuah video yang telah disiapkan Andrew.

Di layar putih besar itu muncul sosok Andrew. “Mangata 2 merupakan buku terakhir dari seorang Andrew. Buku yang ditulis sesuai dengan pengalaman pribadi dan juga penuh perasaan. Tentunya Mangata 2 akan sangat spektakuler,” ujar Andrew yang ada di dalam video sambil tersenyum sinis.

“Kalian para pihak berwajib sunggu bodoh tidak dapat mengungkap semuanya lebih cepat. Silahkan ambil mayat Andrew Harris di pinggir pantai karena Andrew telah memilih mati,” kata Andrew yang mengakhiri video bergambar dirinya dengan lukisan bulan di atas air yang sangat indah. Terakhir sebelum video resmi berakhir terlihat foto sebuah novel Mangata di halaman terdepan yang tertulis ‘Sophie Jason‘ di bawah nama tersebut tertera tanda tangan Andrew Harris.

* * *


– Azizahazeha –