Posted in Event Duel, Fiction, Science-Fiction - Genre, Second - Winner, Wattpad - Story

Escape Pillar [Science-Fiction]

Ku kerjapkan mataku berkali-kali, menatap langit-langit malam  dari tempat yang gelap. Aku terbangun di suatu tempat yang tak ku kenali sebelumnya. Aneh, padahal jelas-jelas baru saja aku menutup mata untuk menenangkan diri di atas ranjang, namun entah mengapa tiba-tiba saat ku membuka mata sudah berakhir di tempat ini.

Segera ku angkat punggungku perlahan, lalu kugerakan kedua tangan dan kakiku. Memastikan tak ada sesuatu yang berubah atau cidera pada diriku. Selepas itu, segera aku bangkit dan melihat keadaan sekitar, sambil melangkahkan kaki selangkah-dua langkah ke depan.


Sampai pada saat ku lihat sebuah cahaya jauh di depan. Ku percepat langkah kakiku dengan sangat hati-hati. Mengingat di sekitarku yang amat gelap. Entah apa yang akan ada di depanku nanti, bisa saja aku menabrak pohon bila ceroboh.
Duk.
Tiba-tiba saja aku terjatuh terhampas ke rerumputan, aku yakin sekali yang barusan menabrak aku itu manusia! Aku segera bangkit, lalu menepuk-nepuk celanaku untuk membersihkan kotoran akibat terjatuh tadi.
Selepas itu, aku mendengar suara seorang perempuan dari kejauhan, menggema. Namun, yang pasti suara itu mengisyaratkan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

“MENUNDUK!”


Lantas aku langsung menunduk, seraya bergetar ketakutan. Dan benar saja, sesudah ku menunduk terdengar bunyi lemparan pisau yang mendarat, sepertinya menancap di pohon?

“Ikut aku!”

Suara yang sama. Tiba-tiba saja seseorang menarik lengan kananku dan memaksaku untuk mengikutinya.

“Eh! kenapa sih, kok aku ditarik-tarik gini! Terus tadi siapa yang lempar pisaunya?” tanyaku geram.

Aku benar-benar tak mengerti apa sebenarnya terjadi. Apa ini mimpi buruk? Tapi mengapa terasa sangat nyata?

“Akan ku jelaskan nanti, lebih baik sekarang kita pergi dari tempat berbahaya ini. Percayalah! saat ini nyawa kita sedang dipertaruhkan.”

Sedetik jantungku berhenti berdetak saat mendengar perkataan terakhirnya. Apa maksud dibalik sebenarnya? Apa benar aku akan mati jika aku berhenti melangkah? Tapi kenapa bisa? Ini kan hanya mimpi!

* * *



Sorak ramai serta dentuman gendang terdengar riuh, sampai-sampai telingaku rasanya mau lepas mendengarnya. Aku, berdiri di tengah-tengah kerumunan orang asing yang sedang menyambutku layaknya keluarga. Senyuman mereka tulus, membuatku hanyut dalam suasana nyaman, membuatku tenang untuk sementara waktu.

“Selamat datang, sepertinya kau orang terpilih yang tak beruntung,” celetuk seorang perempuan remeh yang entah asal suaranya dari mana.

“Eh, Tamara, tutup mulutmu!” sahut perempuan yang berada di sampingku, orang yang menyeretku ke tempat ini.

“Bukannya memang benar?” sahut perempuan yang diketahui bernama Tamara itu, lagi. Tak lama terlihat seorang perempuan datang menghampiriku dengan membelah kerumunan orang. Sepertinya orang yang bernama Tamara. 

“Toh kita semua ini hanya dipermainkan saja, bukan?” lanjutnya.

“Apa maksudmu, San?” tanya perempuan di sampingku. 

“Luna, Luna. Apa kau sudah lupa tentang mimpi Salsa kemarin malam? kita ini hanya sekumpulan peninggalan produk gagal si Mr. Jhonson!” tegas Tamara, sambil tersenyum remeh.

“Lantas, memangnya kenapa kalau kita produk gagal! Apa salahnya kalau kita mendapat kesempatan kedua untuk hidup lama!” sahut sampingku yang ternyata bernama Luna, juga tak mau kalah.

“Eh, bentar … bentar. Apa tadi kamu menyebut nama Mr.Jhonson?” tanyaku bingung. Apakah Jhonson yang dimaksud Tamara itu ayahku?

“Ya! si brengsek yang mengirim kita ke dalam dinding besar ini! Orang yang membuat kami bersusah payah untuk hidup di tengah-tengah kepungan para Zombie di luar sana!”

Aku terdiam, masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kalau benar Jhonson yang dimaksudnya ayah lantas, di mana ayah sekarang? Aku harus bertemu dengan ayah, aku harus bertanya langsung padanya.

“Jaga mulutmu, Tamara! Mr. Jhonson pasti mempunyai alasan, tak mungkin ia mengurung orang terdahulu di balik dinding ini dengan sengaja!”

 Tamara berjalan mendekati Luna dengan ekspresi menantang. “Ha? apa kau bergurau? jadi maksudmu tanpa sengaja, gitu?” ujarnya sambil menaruh lengannya di pundak Luna, namun segera di tepis oleh  Luna.

“Apa kamu lupa? Jelas-jelas di mimpi Salsa, Mr. Johnson lah yang menciptakan monster-monster haus akan darah itu! dan apa dengan mengurung kita di tempat seperti ini menyelesaikan semua kekacauan yang ia buat? Ha? Enggak kan!” lanjutnya, diakhiri dengan dorongan di pundak Luna.

Hahaha … engga lucu, pasti Mr. Johnson yang dimaksud bukan ayah! ya kan?

“Eh … anu … kalau aku boleh tau di mana Mr. Jhonson yang kalian bicarakan sekarang?” 

Seketika semua orang mengalihkan pandangannya dari Luna dan Tamara, malah beralih memandangiku.

“Eh? kenapa?” tanyaku sedikit risih karena menjadi pusat perhatian.

“Dia sudah tewas sejak lama, sebelum berhasil menyelesaikan penawarnya.” Aku lihat Luna menjawabnya sendu, kemudian berlalu begitu saja. 

Entah aku harus percaya atau tidak. Namun setelah melihat Luna yang barusan, membuatku semakin gusar. Takut kalau Mr. Jhonson yang dimaksud itu benar-benar ayah. 
     

Kerumunan orang yang mengelilingiku perlahan satu persatu pergi dan kembali melakukan aktifitas seperti biasa, sepertinya. Dan sekarang aku ditinggalkan sendirian di sini, tanpa ada yang menjelaskan tempat apa ini dan sebenarnya mengapa aku ada di sini.
     

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari informasi tentang tempat apa ini sebenarnya. Tapi, hasilnya nihil. Dan pada akhirnya aku menepi di bawah sebuah pohon yang belum pernah ku ketahui sebelumnya. Melipat kedua kaki dan menguncinya dengan kedua tangan. Aku membenamkan kepalaku di atas dengkul, sambil merenungi nasibku sekarang yang terjebak di tempat aneh. Benar-benar aneh.

* * *



Bulan dan bintang, setidaknya ada dua hal yang masih terlihat masuk akal saat malam hari di tempat ini. Mau tau apa yang tak masuk akal? kalau begitu lihat ke bawah sekarang. Ada banyak ratusan hewan pengerat yang membanjiri di bawah bangunan ini. Seakan siap menyantap seseorang bila ada yang turun.
     

“Hai,” sapa Miya, perempuan yang mengajakku bermalam di tempatnya saat aku berada di bawah pohon sore tadi.
     

Aku sangat berhutang budi padanya, bila saja ia tak mengajaku ke tempat ini, mungkin saja aku akan lenyap di tengah kerumunan tikus-tikus gila itu.
“Hai,” sapaku juga.
     

Aku tersenyum membalasnya. Sekarang dia duduk di sebelahku, sambil menyeruput sesuatu yang ada di dalam batuk kelapa. 
     

“Mau?” tanyanya saat memergoki aku yang sedang melirik ke arah batok kelapa yang sedang di pegangnya.
     

Ku picingkan mataku seraya membalas. “Ah … iya, bila kamu tak keberatan.” 
     

Miya langsung menyodorkannya padaku. Lalu aku meraihnya lalu meneguknya. Tak berselang lama, terdengar teriakan serta bunyi kentungan dari arah jam sepuluh. Sepertinya baru saja terjadi sesuatu. Ku lihat Miya refleks bangkit dari duduknya lalu berlari ke dalam kamar, kemudian keluar lagi membawa dua buah obor yang sudah dilapisi minyak dan korek api yang bentuknya aneh menurutku.
     

“Ayo, kita ke sana.”
     

Lantas aku bangkit dari duduk dan langsung saja disodorkan salah satu obor dari tangan Miya. Aku pun menerimanya tanpa ragu, meskipun terlihat sangat aneh menggunakan obor di zaman modern.
     

“Nyalakan apinya, arahkan ke depan untuk membelah kerumunan tikus-tikus itu, dan yang lebih penting tetaplah di belakangku,” pungkasnya.
     

Aku mengangguk seraya mengekorinya sambil mencoba menyalakan api pada obor. Setelah apinya menyala, segera ku arahkan ke depan sesuai intruksi Miya. Dan ternyata benar! para tikus-tikus haus akan darah itu menyingkir ketika aku arahkan api yang menyala ini.
     

Sampai-sampai aku terkagum-kagum pada diriku sendiri, bangga karena bisa membelah segerombolan vampire kecil inu yang mencoba menghisap darahku. Pencapaian yang paling tertinggi, sesudah ranking 20 dari 24 anak di kelas Matematika. Akhirnya aku bisa membuktikan pada dunia kalau aku benar-benar anak dari seorang ilmuwan terkenal, Mr. Jhonson Gralleleo.

* * *

Sesampainya di suatu tempat, di depan kamar salah satu seorang dari mereka yang tinggal di tempat ini. Ramai, kumpulan orang berkerumun di depan pintu masuk. Aku dan Miya bahkan sulit membelah kerumunan orang itu untuk bisa masuk ke dalam. Butuh waktu sedikit lama.
     

“Ada apa?” tanya Miya khawatir di ambang pintu.
     

“Salsa bermimpi lagi!” sambar salah seorang yang tak ku kenal.
     

Aku yang tak paham lebih memilih menyembunyikan diri di belakang Miya. Lebih baik mendengarkan dan mengamati situasinya terlebih dahulu, untuk memastikan ada hubungannya dengan aku atau tidak.
     

“Kali ini apa mimpinya?”
     

“Masih ada kesempatan. Kita masih ada kesempatan untuk keluar dari dinding,” seru yang lainnya, lagi-lagi aku tak mengenalnya.
     

“Maksudmu? sekarang di mana Salsa?” 
     

“Jangan khawatir, Miya. Dia baik-baik saja,” jawab perempuan itu sambil tersenyum, seperti tidak terjadi hal yang buruk.

Tak lama kemudian dua orang datang dari balik salah pintu di sudut ruangan. Dengan salah satunya sedang merangkul serta menompang yang satunya lagi. 
     

“Salsa!” Miya berlari menghampiri orang yang sedang dirangkul itu. Alhasil aku terlihat oleh yang lainnya.
     

“Selamat datang, Dera,” sapa orang yang di panggil Salsa oleh Miya barusan.
     

Anehnya, bagaimana dia bisa tahu namaku? Aku bahkan belum sempat memberi tahu kepada siapa pun dari awal menginjakan kaki di dalam dinding besar ini.
     

“Kamu ngomong sama aku?” tanyaku meragu.
     

“Iya, kamu, anak Mr. Jhonson. Alasan sebenarnya kami dikirim beliau je tempat ini,” tandas Salsa.
     

“Ha? Maksudnya?” 
     

Aku bingung! Apa maksudnya aku alasan mereka ada di sini? Dan ayah, Apa yang sebenarnya terjadi? Semua orang sekarang menatap aku lekat. Seperti melihat cahaya di tengah kegelapan, terkecuali Tamara.
     

“Dia? dia Dera Clarisa?” celetuk Tamara sambil membuang muka ke arah sudut ruangan.
     

“Ya, dia anak Mr. Jhonson yang diutus ayahnya dari zamannya.”
     

Aku masih tak mengerti, apaan sih maksud si Salsa itu? Aku dikirim? Ayah yang mengirim aku?
     

“Dera, Ayahmu mengutusmu ke tempat ini untuk menyelesaikan tugasnya yang belum terselesaikan. Menanggung beban mengembalikan kondisi atas ketidak sengajaannya menciptakan mahkluk yang di sebut zombie di luaran sana. Mr. Jhonson percaya padamu, Dera. Beliau mengirimmu ke tempat ini karena yakin hanya kamu, anaknya yang bisa mengakhirinya.”

* * *
     

Namaku Dera, sekali lagi ku tegaskan namaku Dera. Anak dari Mr. Jhonson yang tiba-tiba saja mendadak menjadi kepala suku yang memimpin ratusan orang yang berada di balik dinding besar ini.
    

Sudah lama sejak dua tahun yang lalu, saat pertama kali aku mengetahui kebenarannya tentang keberadaanku di tempat ini. Aku, saat terbaring di nakas, ayah dengan terpaksa membius dan mengurimku ke dua puluh tahun yang akan mendatang dengan menggunakan mesin waktu yang membuat dirinya terkenal itu. Ayah mengirimku karena suatu alasan. Namun, ternyata ayah yang merupakan ilmuwan hebat melakukan kesalahan yang fatal, sampai-sampai mengakibatkan kepunahan umat manusia. 
    

Aku, Dera. Orang yang bertanggung jawab mengakhirinya, sekaligus mengembalikan keadaan seperti dua puluh tiga tahun yang lalu.
     

Sekarang, aku bersama ketiga puluh orang lainnya yang telah menjalani latihan dan persiapan yang matang, keluar dari dinding besar selama tiga puluh hari untuk menjalani misi besar. Aku dibantu oleh Miya, Luna, Salsa, dan Tamara, berpencar memimpin beberapa orang lainnya untuk menulusuri kota demi kota terdekat. Misi untuk menetralkan para zombie dengan alunan nada ritme musik yang dibuat sedemikian rupa olehku. Sesuatu yang bisa mengubah dan menyelamatkan dunia.

* * *


– R P I –

Posted in Event Duel, Fiction, First - Winner, Science-Fiction - Genre, Wattpad - Story

Decision [Science-Fiction]

​Giandra menutup mulutnya tidak percaya ketika melihat sebuah berita pada layar besar di hadapannya. Sebuah gempa bumi dengan kekuatan 7.8 SR lagi, di daerah pinggir pantai bagian selatan Indonesia.

Sudah belasan kali gempa terjadi hari ini, firasatnya tidak enak. Diliriknya jam di tangan kirinya, sudah dua puluh menit dia menunggu di sini namun sosok yang dinanti belum juga datang.

“Gia! Ayo!”

Giandra menoleh dengan kening berkerut memandang sosok laki-laki di hadapannya.

“Gia, come on. Kita harus pergi dari sini karena-”

Perkataan laki-laki itu terputus, sebuah getaran terjadi lagi dengan kekuatan yang cukup keras hingga membuat retakan di tanah muncul.

“Ga, ini apa?” kata Giandra panik sementara situasi di sekitarnya semakin berantakan.

Ganesha, laki-laki di hadapannya menatap Giandra dengan panik. Digenggamnya tangan Giandra erat berusaha melangkah di tengah getaran yang perlahan mereda.

Sebuah hologram berwujud pria berperawakan tegap muncul di hadapan mereka.

“Ganesha, waktumu dua jam sebelum kapsul waktu itu berangkat,” kata pria hologram itu.

Ganesha menekan headset di telinganya dan berbicara, “Saya akan segera ke sana.”

“Daftarkan identitasmu dengan Decla secepatnya,” kata pria itu sebelum akhirnya menghilang.

“Dia siapa?”

“Profesor Geya, atasanku di laboratorium,” jelas Ganesha singkat sambil terus menekan sebuah benda persegi pipih yang penuh dengan layar atau biasa disebut dengan Decla.

“Berikan aku jarimu,” perintah Ganesha.

Giandra mengulurkan telunjuknya pada Ganesha kemudian Ganesha mengarahkannya pada layar benda itu. Seketika dari salah satu sisi Decla muncul hologram berisi data singkat Giandra termasuk warna iris mata hingga golongan darahnya.

Ganesha mengerutkan keningnya bingung, mengapa data diri Giandra sudah terdaftar sebagai salah satu penumpang kapsul waktu padahal seharusnya nama Giandra belum terdaftar?

“Selesai. Sekarang kita harus segera ke Galeri Nasional.” Ganesha membuang pikiran anehnya dan menarik tangan Giandra membelah kerumunan orang yang tampak saling acuh di hadapannya.

“Tunggu, maksud semua ini apa? Kapsul waktu? Decla?” tuntut Giandra dengan kesal.

“Gia, dengar. Bumi akan segera hancur, kau harusnya tahu itu.”

Giandra mengangguk, memang keadaan sudah semakin kacau sejak perang dunia yang melibatkan nuklir beberapa puluh tahun yang lalu. Indonesia termasuk negara yang beruntung karena tidak mencecap sakitnya dijajah atau dimerdekakan oleh negara lain lagi.

Semenjak permainan nuklir menjadi hal yang lumrah terjadi di dunia, berbagai macam keanehan terus muncul. Bencana alam yang nyaris terjadi setiap hari, kriminalitas yang tinggi, pergeseran sifat alami manusia, serta munculnya beberapa spesies aneh yang entah akibat nuklir atau kecerobohan para peneliti.

Hanya segelintir orang yang cukup memiliki kekayaan yang bertahan hidup normal sesuai dengan kemajuan teknologi yang ada. Ya, selain menjadi rapuh, dunia pun semakin maju di berbagai bidang yang sayangnya malah mematikan hati manusia sebagai manusia; tidak lagi ada rasa sosial dan keinginan menolong satu sama lain.

“Aku tahu,” sahut Giandra. “Tapi apa maksud semua ini?”

“Kapsul waktu akan diberangkatkan dua jam lagi, dan hanya orang tertentu yang bisa menaikinya,” kata Ganesha sambil terus menarik Giandra menuju lorong salah satu alat transportasi terdekat.

Wait. Aku harus menemui adikku, kau tahu itu.”

Ganesha menatap Giandra sekilas. “Maaf, Gi. Daerah rumah kita sudah hancur, terisolasi dan dikuasai Lyctans.”

“Apa?” pekik Giandra.

Giandra mendesah penuh sesal. Lyctans adalah sekumpulan manusia tidak beruntung yang terinfeksi oleh lintah penghisap, berasal dari daerah kumuh yang tidak tersentuh pemerintah. Infeksi Lyctans sangat cepat dan cenderung terlalu mudah menular.

“Gia, kita harus cepat.”

Giandra tersadar, sakit di dadanya perlahan dia hilangkan. Dilangkahkan kakinya dengan cepat mengikuti Ganesha. Sesaat sebelum keduanya memasuki peron stasiun, tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Ganesha! Lama sekali,” kata suara itu sarkas.

Ganesha mendengus kesal dan menjawab, “Apa yang kau lakukan, eh?”

“Mencarimu dan Giandra. Kau tahu Giandra juga penting bagiku,” jawab suara itu.

“Sudahlah, Gerry. Ayo cepat berangkat. Galeri Nasional mulai riuh,” kata Ganesha enggan mendebat.

Ketiganya memasuki peron dan berjalan menuju peron tempat kereta dengan tujuan stasiun Gambir ada. Ganesha terus melirik jam di tangannya, sementara Giandra masih dirundung kaget juga rasa kehilangan. Gerry memainkan senapan di tangannya dengan acuh, seolah tidak peduli dengan apa pun.

“Kudengar adikmu dimakan Lyctans,” kata Gerry memecah keheningan.

“Bodoh!” seru Ganesha ketus.

“Kau harusnya meminta pertanggungjawaban pada sosok di sebelahmu, Gi. Dialah yang membuat wabah Lyctans di Jakarta,” lanjut Gerry.

Giandra menggigit bibirnya keras meredam isakan tangis. Ganesha menyentuh pundaknya pelan, berusaha menenangkan.

Tidak lama sebuah kereta tiba dan ketiganya menaiki salah satu gerbongnya. Suasana sangat sepi, bahkan alat transportasi yang dulu ramai ini kian sepi karena hanya orang yang cukup kaya yang bisa menggunakannya.

“Mau ke mana kalian?” tanya seorang bapak berumur sekitar tujuh puluh tahun.

“Ke-”

“Bukan urusan Anda, Tuan,” potong Gerry.

Pria itu tersenyum ke arah Gerry. “Semoga Tuhan memberkatimu, Nak.” Kemudian pandangannya dialihkan pada Giandra dan Ganesha. “Saya juga berharap kalian selamat, tanpa ada niatan buruk yang terlaksana di antara kalian.”

Giandra menatap Ganesha, curiga. Sementara bapak itu beranjak pergi meninggalkan mereka.

* * *
“Apa yang ada di pikiranmu, Ga?” tuntut Giandra dengan nada mengancam. 

Ganesha menggeleng. “Aku hanya ingin kita selamat. Tidak usah kau pikirkan ucapan bapak tadi, kita tidak bisa memercayai siapa pun.”

“Ah, ya, bahkan kau membiarkan adik dari pacarmu mati akibat Lyctans,” kata Gerry ikut campur.

“Kau!” Ganesha maju mendesak Gerry ke dinding gerbong, dicengkeramnya kerah kemeja Gerry.

Chill out, Ganesha. Akuilah, kita tidak bisa memercayai siapa pun,” sahut Gerry masih dengan senyum.

Giandra menatap keduanya dengan bingung. Tidak ada keinginan di hatinya untuk menghentikan perdebatan itu, benar kata Gerry, Ganesha membiarkan adiknya mati begitu saja. Harusnya Ganesha menjemput adiknya terlebih dulu.

Sebuah hologram tiba-tiba muncul dari Decla yang digenggam Gerry.

“Waktu kalian kurang dari satu jam lagi, wilayah kapsul waktu saat ini terbebas dari Verck. Tapi saya tidak bisa menjamin bagaimana saat nanti keberadaan kapsul waktu sudah mulai tercium masyarakat dan Verck. Cepatlah, karena saya tidak ingin kehilangan orang-orang berbakat milik saya.”

Kemudian hologram itu hilang. Gerry mendengus melepas cengkeraman Ganesha pada kerahnya. Sementara Giandra memilin ujung kemejanya panik. 

Verck, makhluk penghisap darah yang akan membuat manusia mati perlahan, hasil percobaan pemerintah dengan menggabungkan gen kelelawar dan manusia. Awalnya Verck akan dijadikan tentara terdepan Indonesia saat menghadapi perang, tapi nyatanya Verck tidak bisa dikuasai dengan mudah dan malah memberontak.

“Sesampainya di stasiun Gambir nanti, kita masih harus berjalan sekitar lima kilometer dan itu akan sangat sulit.” Gerry menekan Decla-nya dan memunculkan sebuah hologram denah dari Galeri Nasional.

“Kapsul waktu terdapat di bagian belakang Galeri Nasional, dan lihat beberapa titik merah itu adalah tanda daerah yang dikuasai Verck,” jelas Gerry.

Ganesha menarik Giandra mendekat saat sebuah getaran terasa lagi. Gempa bumi yang cukup kencang. Namun untungnya gempa itu hanya terjadi beberapa menit dan situasi kembali normal.

“Sebentar lagi kita sampai. Make a decision. Dare yourself to kill,” kata Ganesha singkat.
Or being kill,” lanjut Gerry.

* * *

Ketiganya berjalan dengan cepat dan hati-hati menuju Galeri Nasional. Cukup jauh sebenarnya, namun jika mereka menumpang kendaraan lain akan semakin banyak orang yang tahu, dan keberadaan kapsul waktu tidak boleh diketahui masyarakat.

Kapsul waktu ternyata sudah direncanakan oleh seluruh pemimpin negara di dunia sejak sepuluh tahun lalu; peneliti sudah membuat perkiraan jika kiamat akan menghampiri dunia tahun ini. Setiap negara hanya memiliki dua kapsul waktu berkapasitas 250 orang. Nantinya kapsul waktu akan diterbangkan ke luar angkasa hingga proses kiamat selesai, kemudian mereka yang selamat akan membentuk peradaban baru lagi nantinya.

Egois, tapi logis. Siapa yang mau bertahan dengan pasrah menerima kehancuran dunia ketika ada pilihan lain menyelamatkan diri meski dengan mengorbankan banyak orang?

“Giandra awas!” Gerry mendorong tubuh Giandra hingga Giandra terpental ke sebuah trotoar.

“Verck sialan!”

Gerry memaki dan menembak Verck tersebut tepat di jantungnya. Giandra yang masih shock hanya terdiam melihatnya, baru kali ini Giandra melihat Verck. Ternyata Verck umumnya terlihat seperti manusia biasa, hanya saja iris matanya kemerahan dan pendengarannya sangat peka.

“Pegang ini,” kata Gerry sambil memberikan sebuah senapan pada Giandra. “Tembak setiap Verck yang mendekatimu, aku tahu kau tidak membawa peralatanmu.”

Giandra mengangguk. Dari ekor matanya dia melihat Ganesha menghampirinya sehingga dia dengan cepat segera memasukan senapan itu pada selipan bajunya.

“Giandra? Kau baik-baik saja, kan?” tanya Ganesha panik.

“Aku pikir kau akan membiarkanku mati juga. Memang bukan dengan menjadi Lyctans, tapi mati oleh Verck,” sahut Giandra sarkas.

Ganesha mendesah kesal, dia tahu Giandra sangat kehilangan adiknya. Tapi seharusnya Giandra mengerti, Ganesha juga kehilangan keluarganya. Ganesha memilih menyelamatkan Giandra dan harusnya itu udah sudah cukup.

Giandra berjalan dengan cepat mendahului Ganesha dan Gerry. Mereka berjalan memutar ke arah belakang Galeri Nasional. Sekilas Galeri Nasional tampak baik-baik saja, hanya beberapa lukisan terjatuh mungkin efek gempa beberapa waktu lalu. Namun bau amis darah tercium dengan kuat membuat Giandra harus menutup hidungnya.

Ganesha menguatkan dirinya menerima kemarahan Giandra, dia menghampiri Giandra dan menarik Giandra ke sisinya berusaha melindungi. Giandra hanya tersenyum miring sekilas namun tidak menolak, sementara Gerry berjalan di belakang mereka sambil tetap siaga.

Gerry tahu pasti apa kelemahan Verck dan apa yang menjadi tanda-tanda kehadiran Verck karena Gerry adalah peneliti yang mentransfer gen kelelewar dengan gen manusia sehingga menghasilkan Verck.

Gerry, Giandra dan Ganesha merupakan teman semasa sekolah dan sebenarnya mereka cukup dekat mengingat mereka juga tinggal di daerah yang sama. Namun ambisi Gerry dan Ganesha membuat keduanya bertabrakan.

“Pintu masuk sudah dekat,” kata Ganesha.

“Dan kehadiran Verck semakin banyak,” lanjut Gerry.

Giandra melengos berjalan mendahului keduanya, dia merasa lelah dan ingin secepatnya sampai pada kapsul waktu, memikirkan bagaimana hidupnya tanpa adiknya sudah membuatnya cukup terpukul.

“Giandra!”

Giandra menoleh, sesosok Verck wanita ada di sebelahnya. Di sudut bibirnya terdapat noda merah mengering membuat Giandra ngeri.

“Mau ke mana, Nona?” tanya Verck itu sambil mendesis membuat Giandra mundur ketakutan.

“Tidak,” desis Gerry. “Verck itu memanggil kawanannya. Mereka tahu kita mengejar kapsul waktu dan mereka tidak akan membiarkan kita lolos.”

“Waktu kita hanya lima menit lagi,” keluh Ganesha kesal.

Benar yang dikatakan Gerry, sekawanan Verck muncul dan mengepung mereka bertiga. Gerry sudah siap dengan senapan di tangannya, Ganesha juga memegang belati perak di tangan kanannya.

“Waktu kalian tiga menit lagi,” suara profesor Greya terdengar melalui headset di telinga Gerry dan Ganesha.

Kill, now!” sentak Gerry.

Gerry menembakkan senapannya ke jantung kawanan Verck sementara Ganesha menerjang Verck itu dengan belatinya. Verck hanya bisa dikalahkan dengan perak. Ketika kawanan Verck mulai berkurang, Ganesha mendorong Giandra untuk segera berjalan ke arah pintu masuk kapsul waktu.

Giandra berlari kemudian sensor di sebelah pintu kapsul waktu memindai iris mata Giandra dan terbuka. Giandra melihat Gerry sudah berjalan mendekat sementara Ganesha masih sibuk bergelut dengan satu Verck.

Dorr!

Giandra menembak Verck yang bergelut dengan Ganesha dan membuat Ganesha terkejut.

“Gia? Dari mana kamu-”

“Gia, cepat!” Gerry mendorong Giandra masuk ke dalam kapsul.

Dorr!

“Lupakan, Ger. Aku tidak butuh siapa pun. Aku bisa selamat seorang diri,” bisik Giandra pada Gerry, dan kemudian dia melepas sebuah tembakan lagi pada kening Gerry.

Giandra tertawa. “Aku tahu mengenai kapsul ini sejak lama karena aku merupakan salah satu mata-mata pemerintah, dan aku memanfaatkan kalian agar aku juga adik-adikku bisa selamat! Harusnya kau sadar, Ga, tidak ada cinta untukmu! Aku memacarimu dan Gerry hanya agar aku bisa mendapat akses kapsul waktu ini untuk dua adikku. Sebagai mata-mata aku hanya memiliki satu akses menaiki kapsul ini untukku sendiri.”

“Maksudmu apa? Jadi selama ini Gerry tahu semuanya? Termasuk statusmu sebagai mata-mata?” tanya Ganesha sambil berjalan menghampirinya, sekarang ia mulai mengerti mengapa Giandra sudah terdaftar sebagai penumpang kapsul waktu tadi.

“Jangan mendekat atau aku akan menembakmu,” desis Giandra. “Aku tadi menunggu adikku, bukan menunggumu. Harusnya yang datang adikku, bukan kau! Aku sudah menyiapkan akses untuknya, tentu saja berkat bantuan Gerry.”

Ganesha menatap Giandra tidak percaya. Giandra yang ingin diselamatkannya ternyata memilih mengkhianatinya.

“Adikku mati sebagai Lyctans. Akan adil jika kau menikmati sensasi mati akibat Verck. Daripada membunuhmu dengan senapan ini, aku memilih membiarkanmu mati dengan sendirinya, Ga. Anggap saja sebagai bukti cinta terakhirku.”

“Psikopat!” Ganesha mendesis.

Ganesha berusaha berlari menuju kapsul waktu namun satu Verck berhasil menggigitnya dan menimbulkan rasa nyeri, darahnya terhisap membuat Ganesha linglung dan kesakitan melandanya.

I love you too, sayang,” kata Giandra sesaat sebelum pintu kapsul tertutup.

* * * 

– Tamara Sarlita –

Posted in Event Duel, Fiction, Horror - Genre, Second - Winner, Wattpad - Story

Pojok Ruangan [Horror]

Semilir angin dingin terasa di dalam sebuah kelas yang sunyi membuat merinding bagi siapa saja yang merasakannya. Namun, siapa sangka hawa dingin itu menyimpan sebuah misteri. Misteri yang sudah menjadi rahasia umum di sekolah itu. 

“Kami akan menunggu kalian!” terdengar suara lirihan dari dalam kelas itu. 

* * *

Sinar mentari datang menyambangi bumi dan menyinari sebuah bangunan sekolah yang sering di kenal dengan nama Accross School. Terlihat seorang anak perempuan melewati pintu gerbang dengan cardigan hitamnya. Entah mengapa dari semua anak yang melewati gerbang bersamaan denganya, tak ada seorang pun yang menyapanya. Mungkin, karena ia sudah terbiasa jadi, ia tak ambil pusing dengan sikap teman-teman padanya. 

Ia tiba di depan ruang kelasnya. Kelas X-3. Keadaan kelasnya kosong dan tenang, namun mencekam. Apalagi saat ia tak sengaja memandangi salah satu pojok ruangan dikelasnya yang konon, katanya bagi siapa yang memasuki kelas  dan mendekati pojok ruangan itu berjumlah genap, maka mereka bisa membuka sebuah misteri. Misteri sebuah pintu waktu. Karena hal itu, ia mengurungkan niatnya untuk memasuki kelasnya. Pasti kalian bertanya-tanya bukankah dia sendirian? Sendirian itu bukanlah angka genap. Dan  bukannya ia takut, tapi ia juga mengetahui sebuah rahasia lagi tentang mitos itu yang membuat dirinya harus menunggu para sahabatnya yang akan datang beberapa menit setelah ia datang. Ia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi panjang di depan kelasnya. 

“Hai, Kinan,” sapa Edel, Orlan, Rayhan, dan Alfy bersamaan.

“Hai, juga,” balas Kinan yang mempunyai nama lengkap Kinanthi Angelica. Mereka lalu duduk di sebelah Kinan. 

“Masuk kelas yuk!” ajak Edel dan disetujui oleh mereka semua. Namun, tiba-tiba Edel berhenti di depan pintu sambil membentangkan tangan nya yang menyebabkan insiden tabrakan beruntun di belakangnya. 

“Ish, Del. Lo ngapain sih. Berhenti tiba-tiba!” kesal Kinan sambil mengusap keningnya karena menabrak punggung keras milik Rayhan. 

Edel, lalu berbalik sambil nyengir kuda. “Gue cuman mau mastiin. Kita ganjil atau engga,” ujarnya.

“Iya,” jawab mereka kompak. 

Okay, let’s go guys.” 

Mereka memasuki kelas dan disambut oleh hawa dingin yang bisa dirasakan oleh mereka semua terutama, Kinanthi Angelica. Dari mereka berlima hanya Kinan yang sangat peka merasakan energi gaib. 

“Tunggu deh, guys. Gue ngerasa ada hawa negatif kuat disekitar sini,” ucapnya sambil memperhatikan ke sekelilingnya.

“Kinanthi Angelica, di kelas kita kan ada mitos “Pojokan Kelas” wajarlah lo ngerasain itu,” ujar Edel. 

“Tapi, ini beda, Del. Gue ngerasa ada yang aneh sama kedatangan kita barusan. Seperti… ada yang menyambut kita.” 

“Apa!!” kaget mereka. Lalu seseorang datang. Orang itu melihat sekilas ke arah Alfy yang juga sedang menatapnya. Orang itu lalu membuang mukanya dan duduk di kursinya. 

“Iya… gue yakin. Gue gak salah.” 

“Udahlah semoga gak ada apa-apa. Siapa tau dia nyambut semua anak-anak kelas ini yang mau masuk.  Kita gak ada yang tahu, kan? Bentar lagi bel masuk. Kelas juga rame,” terang Rayhan mencoba postive thingking

Tak lama murid-murid berdatangan. Setelah itu seorang guru memasuki kelas. Pelajaran pun dimulai dengan tertib. 

Selama setengah jam acara KBM itu berlanggsung. Alfy tetap meperhatikan seorang cewek yang pendiam di kelasnya. Jarang berbicara dan tak mempunyai teman. Cewek itu memiliki banyak misteri yang membuat Alfy penasaran. Kegiatan Alfy teralihkan oleh seorang laki-laki bertubuh tegap dan tinggi memasuki kelas mereka. 

“Assalamualaikum anak-anak dan Bu Isma. Maaf bapak menganggu kegiatan belajar kalian. Bapak disini hadir untuk menginformasikan bahwa ada kegiatan Persami untuk anak kelas 10 dan 11 yang akan diadakan hari jumat minggu ini. Di mohon partisipasinya. Terimakasih.” jelas laki-laki paruh baya itu yang mereka ketahui adalah Kepala Sekolah mereka. Setelah berterimakasih pada murid di kelas. Pak KepSek keluar dari kelas. 

Terdengar bisik-bisik membicarakan kegiatan Persami yang akan di laksanakan pada hari Jumat. Terutama Kinan dan kawan-kawannya. 

Bisik-bisik ria pun dihentikan dengan suara penggaris yang yang menghantam meja dengan kerasnya. Kelas pun menjadi hening. 

* * *
“Kita ikut persami, kan?” tanya Edel. Mereka sekarang berada di rumah Edel untuk membicarakan Persami dan sekalian kumpul seperti biasa. 

“Yup,” jawab Orlan singkat.

“Rayhan, lo kenapa? Dari tadi diem aja? Lo denger gak? Kita tadi lagi ngomongin apaan?”

“Eh… emangnya kalian lagi ngomongin apa?” tanya Rayhan. 

“Lagi mikirin, apaan sih lo?”

“Lo semua tau kan? Kalau ada misteri hilangnya kak Devras dan kak Nico, anak kelas 12?” Mereka mengangguk bersamaan. 

“Gue penasaran. Kenapa mereka bisa hilang dan sampai sekarang belum ditemukan jejaknya.”

“Sama gue juga. Katanya mereka hilangnya karena gak sengaja masuk ke kelas kita. Dan mereka mendekati pojok ruangan itu.” 

“Gimana kalau besok pas kita Persami kita mecahin misterinya?”

“Gak!” protes Kinan. 

Why? Kita kan cuman mecahkan misteri aja. Emangnya lo gak penasaran tentang Misteri Pintu Waktu?”

“Iya tuh. Kayaknya seru. Siapa tau aja kita menemukan seseuatu disana. Sekalian petualangan. Kita bisa kemana-mana pastinya,” ujar Edel semangat. 

“Lo semua gak tahu, kan? Asal usul mitos itu? Kalaupun kita tau. Apakah kalian juga tahu bagaimana cara keluarnya?” 

“Menurut dokumen yang gue dapat. Cara keluarnya yaitu dengan kita masuk dulu nanti disana kita akan diberitahukan,” kata Rayhan.

“Cara keluarnya aja kita gak tau. Kalau gitu, memangnya kalian bisa jamin. Kita akan balik lagi ke dunia asal kita?” 

“Gue yakin bisa. Karena itu hanya pintu waktu.” Rayhan membuka kembali dokumen yang ada di tangannya. Tapi, sebuah kertas jatuh. Ia pun mengambil kertas itu dan membacanya. 

Misteri Pintu Waktu



Semua ini hanya ilusi. Ingat dengan baik kata-kata itu. 
Masa lalu memang sebuah masa terjauh dari kita. 
Masa depan adalah masa yang akan menghampiri kita. Bisa menjadi sangat dekat ataupun jauh. Kita tak ada yang tahu. 
Tapi, ingatlah satu hal. Semua ini hanya ilusi dan hanya orang-orang spesial yang akan mengerti maksud dari kata-kata itu. 098762′


“Apa maksudnya? Gue gak ngerti.” 

“Sama gue juga. Yaudahlah ya, intinya kita bawa surat ini dan dokumen-dokumennya. Dan kita akan tetap untuk memecahkan misteri ini.” 

Semua setuju kecuali, Kinan. 
* * *



Hari yang ditunggu-tunggu mereka pun tiba. Terkecuali, Kinan. Ia bahkan tak mau berganti hari jika hari itu. Hari yang telah ditunggu-tunggu para sahabatnya. 

Mereka berangkat ke sekolah pukul 17:00. Sebelumnya mereka sudah mempersiapkan segalanya bukan untuk kemah, melainkan untuk petualangan yang akan mereka lakukana. Termasuk, Kinan yang tak setuju. Ia juga sudah mempersiapkan semuanya. 

Sekitar 15 menit mereka sudah sampai di sekolah. Mereka mengikuti semua kegiatan Persami pada sore itu. Karena petualangan mereka akan dilaksanakan pada malam hari. 

Kegiatan itu selesai sampai  jam 10 malam. Mereka diperbolehkan beristirahat di dalam kelas yang telah dipersiapkan. Karena Perasami ini tidak menggunakan tenda seperti Persami pada umumnya. Hampir semua kelas di lantai bawah terpakai. Kecuali, kelas X-3. Kelas satu-satunya yang tak terpakai atau bahkan tak diperbolehkan untuk di pakai pada malam hari. 

Sekitar jam 11.30 semua orang sudah tertidur dan saatnya Rayhan dkk menjalankan petualangan mereka yang sudah dipersiapkan matang-matang. 

Kinan dan Edel keluar kelas  mengendap-endap sambil membawa tas mereka. Disaat yang bersamaan Rayhan, Alfy, dan Orlan melakukan hal yang sama seperti Kinan dan Edel. 

Mereka bertemu di koridor samping kelas X-1. 

“Udah lengkap, kan kita? Gak ada yang kurang?” tanya Orlan sambil memperhatikan keselilingnya dengan pandangan ngeri.

“Udah,” jawab Rayhan santai. Edel tiba-tiba menjitak Rayhan. Ringisan pun terdengar dari mulut Rayhan.

“Belum, menurut mitos itu. Kita harus genap. Tapi kita sekarangan kita ganjil.” 

“Astaga… kenapa kita bisa lupa tentang ganjil genap.” Mereka yang sedang sibuk-sibuknya memikirkan siapa yang akan menjadi orang ke enam. Mata Alfy tak sengaja melihat sesosok manusia yang sedang berjalan. Dengan cepat ia mengenali sosok itu. Ia pun mengejar sosok tersebut. Di ikuti oleh Kinan dan yang lainnya.

“Adlina, lo mau ikut kita engga?” kata Alfy to the point setelah memegang tangan Adlina.

“Untuk apa aku ikut bersama kalian?” tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka semua lalu menjelaskan pada Adlina dan terus meyakinkan Adlina. Sekitar setengah jam mereka bisa meyakinkan Adlina. Jadilah orang keenam adalah Adlina. 

“Karena semua udah lengkap. Ayo deh kita langgsung kesana. Bentar lagi udah jam 12,” ujar Rayhan. Mereka semua berjalan di iringi dengan pembicaraan santai. Kecuali Alfy, Kinan, dan Adlina. 

Tak lama mereka sampai di depan kelas. Jantung mereka tiba-tiba berdegub kencang. 

“Okay kita buka pintunya bareng-bareng dan kita langgsung masuk. Satu… dua… go.” Mereka membuka pintu kemudian masuk ke kelas. Hawa dingin menyambut kedatangan mereka. Walaupun mereka sudah memakai jaket. Namun, tetap saja. Karena itu bukan hawa dingin biasa. Mata mereka langgsung  tertuju pada pojok ruangan. Perlahan tapi pasti mereka mendekati pojok ruangan tersebut. Sampai akhirnya mereka sampai tepat di depan. Tak mau membuang-buang waktu. Mereka segera menyentuh tembok secara bersamaan. Tiba-tiba sebuah pintu muncul dan terbuka. Kinan dan Rayhan masuk terlebih dahulu, lalu Edel dan Orlan, terakhir Alfy dan Adlina. Setelah mereka masuk pintu pun tertutup. 

“Akhirnya kalian datang. Hahaha… silahkan berpetualangan di dunia ilusi. Karena ‘Semua ini hanyalah ilusi’ Masa lalu adalah masa terjauh kita dan kita tak mungkin untuk kembali lagi…,” suara lirihan itu terdengar lagi.

* * *


– Febriana –

Posted in Event Duel, Fiction, First - Winner, Horror - Genre, Wattpad - Story

The Elevator [Horror]


“Mau coba?” tawar Gilang pada Farhan. Gilang sedang artikel yang ia baca.

“Gak. Gue ga mau nyia-nyiain nyawa,” tolak Farhan.

“Pecundang! Ayolah,” paksa Gilang.

“Kalo kita terjebak di sana gimana?” tanya Farhan khawatir.

Gilang tampak berpikir seraya membaca ulang artikel itu. “Ga bakal. Lagian pasti gagal, karena kita main berdua. Peraturannya main sendiri,” jelasnya.

Farhan diam sejenak.

“Gimana?” tanya Gilang lagi. 

Farhan akhirnya menyerah dan mengangguk. “Oke. Tapi serius kita ga bakal kejebak?” tanya lelaki itu memastikan.

Gilang mengangguk. “Pasti!” jawabnya mantap.

Dua sahabat yang kini sedang menikmati masa libur kuliahnya itu memang dari kecil hobi mencoba permainan yang menyeramkan. 

Tapi,  permainan kali ini yang menurut mereka paling menyeramkan. Mereka akan bermain The Elevator. Permainan yang taruhannya jika mereka gagal akan terjebak di dunia lain.

“Kapan?” tanya Farhan seraya meminum jus jeruk kesukaannya.

Gilang mematikan televisi. “Sekarang?” tawarnya.

Farhan tampak ragu, tapi akhirnya lelaki dengan rambut acak-acakan itu mengangguk.

Kebetulan, mereka sekarang berada di hotel berlantai dua puluh. Menurut artikel itu, syarat tempat permainan itu adalah minimal berlantai sepuluh.

“Ayo!” ajak Gilang yang kini sedang berjalan ke arah pintu. Farhan mengekori dari belakang.

Setelah mengunci pintu, Gilang mengajak Farhan masuk ke lift untuk turun ke lantai satu. Permainan ini memang harus dimulai dari lantai satu.

Ting!

Terdengar bunyi yang menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuan.

“Siap?” tanya Gilang.

Farhan yang tadinya takut kini tampak lebih berani. “Siap,” jawabnya tegas.

Gilang yang memang sudah membaca artikel itu berulang-ulang hafal apa saja yang harus ia lakukan.

Lelaki itu menekan angka empat. Lift langsung tertutup dan menuju ke lantai empat.

Ting!

Terdengar suara yang menandakan mereka sudah sampai di lantai empat.

“Tekan angka dua,” perintah Gilang pada Farhan.

Farhan langsung menekan angka dua. Pintu lift tertutup lagi dan benda itu segera turun ke lantai dua. 

Ting!

Terdengar lagi bunyi itu, artinya sekarang mereka ada di lantai dua. Pintu lift terbuka, namun Gilang buru-buru menekan angka enam.

Ting!

Mereka sudah ada di lantai enam.

“Kok aneh, ya? Ga ada yang mau naik lift gitu?” tanya Farhan heran. Gilang hanya menggeleng tanda ia tak tahu.

Gilang kembali menekan angka dua.

Ting!

Mereka kembali lagi ke lantai dua. Baik Farhan maupun Gilang belum melihat keanehan. Gilang lalu menekan angka sepuluh.

Ting!

Mereka sekarang ada di lantai sepuluh.

“Tekan lima,” perintah Gilang pada Farhan.

Farhan segera melakukan apa yang diperintahkan Gilang. Lelaki itu langsung menekan angka lima.

“Kalo nanti ada cewe, gue mohon jangan diajak bicara,” gumam Gilang takut.

Farhan menatap Gilang heran. Biasanya lelaki itu malah lebih berani dari dirinya. Baru kali ini ia melihat Gilang ketakutan begini.

“Kena–”

Ting!

Farhan yang tadinya hendak menanyakan alasan Gilang melarangnya keburu dipotong oleh suara lift. Berarti mereka sekarang sudah berada di lantai lima.

Saat pintu lift terbuka, benar kata Gilang. Ada seorang wanita ikut masuk. Farhan memperhatikan wanita itu dari kepala sampai kaki, tak ada yang aneh.

Farhan menatap Gilang dengan tatapan bingung. Bukannya membalas, Gilang malah menekan angka satu kemudian menundukkan kepalanya.

Farhan langsung beranggapan, mungkin lantai lift ini lebih menarik daripada wanita misterius di sebelahnya.

Farhan berani bersumpah, tidak ada yang aneh dari wanita itu. Rambut panjang, baju gaun. Layaknya wanita yang baru pulang berpesta. Sayangnya, wajah wanita itu tidak mengarah kepada dirinya.

Keringat mengalir di pelipis Gilang. Ia memandang Farhan gugup. Wanita itu memang berdiri di antara mereka.

“Lihat ini,” Gilang berbicara tanpa mengeluarkan suara. Dia melirik ke arah papan yang biasa digunakan untuk mengatur kemana lift akan pergi.

Di papan itu terdapat layar digital yang biasanya menunjukkan lantai tujuan mereka. 

Farhan berubah pucat pasi saat melihat yang tertera di sana adalah angka sepuluh. Ia yakin tadi melihat Gilang menekan angka satu.

Gilang kembali melirik Farhan takut. Kini bukan hanya Gilang yang berkeringat, Farhan juga ikutan berkeringat.

Tiba-tiba wanita misterius itu menekan angka tujuh disaat mereka baru mencapai lantai lima.  

Gilang menghela nafas lega. Menurut permainan, wanita itu seharusnya tidak berhenti di lantai lain.

Ting!

Wanita itu langsung keluar begitu pintu lift terbuka.

“Untunglah!” syukur Gilang dengan senyum lebar. 

Pintu lift kembali tertutup untuk menuju ke lantai sepuluh, karena kamar mereka ada di lantai sepuluh.

Ting!

Gilang dan Farhan langsung berebutan keluar dari lift

“Selamat kita!” seru Farhan.

Gilang mengangguk. “Gue kira gue gabakal hidup lagi.”

Farhan tergelak.

Mereka  segera melangkahkan kaki ke kamar mereka yang terletak di pojok lorong ini.

“Malam!” sapa petugas kebersihan yang lewat. Farhan dan Gilang membalas dengan senyuman.

Gilang yang memang memegang kartu kamar mereka langsung menempelkannya di dekat gagang. Pintu kamar mereka pun terbuka.

“Han,” panggil Gilang setelah menutup pintu. 

Farhan yang baru saja duduk langsung menoleh dengan tatapan bertanya.

Gilang lagi-lagi terlihat gugup. “Lo ngerasa ada yang aneh, ga?” tanya Gilang hati-hati.

Farhan menatap Gilang tajam. “Lo jangan nakut-nakutin!”

“Gue serius,” ujar Gilang meyakinkan.

Gilang duduk di atas tempat tidur yang memang berhadapan ke sofa.

“Lo sadar, ga? Hotel ini ga punya lantai tujuh, Han!” kata Gilang.

Farhan tampak terkejut. “Lo benar! Gue pas nekan tadi ga ngeliat angka tujuh!” katanya kaget.

Mata Gilang bergerak liar menatap sekelilingnya.

“Hotel ini ga punya petugas kebersihan yang kerja malam,” tambahnya lagi.

Keringat mulai mengucur di pelipis mereka. Padahal,  mereka baru saja merasakan kelegaan.

Farhan berdiri dan mengintip dibalik tirai jendela mereka perlahan. Tak puas, lelaki itu membuka tirai.

“GILANG! LO HARUS LIHAT!” teriaknya tiba-tiba.

Gilang langsung bangkit dan berlari ke arah jendela. Matanya terbelak ketika melihat jendela.

Tidak ada jalan di bawah. Tidak ada cahaya. Tidak ada keramaian. Semuanya gelap, seolah-olah kamar mereka adalah suatu tempat yang melayang bebas.

“AYO!” ajak Gilang yang kini berlari ke arah pintu kamar. Farhan ikut berlari di belakangnya.

“Malam.”

Lagi-lagi petugas itu menyapa mereka saat baru saja Gilang menutup pintu. Ada yang beda kali ini, sapaan itu disertai seringai.

Persetan dengan petugas dan senyum anehnya. Keluar dari dunia aneh ini yang menjadi pikiran utama Gilang dan Farhan sekarang.

Dua sahabat itu berlari sekencang mungkin ke arah lift. Dengan tak sabar ia menekan tombol lift itu agar terbuka.

Ting!

Dua lelaki itu langsung menerobos lift itu dengan tak sabaran. Gilang langsung menekan angka empat.

“Mau kemana kalian!” seru petugas kebersihan tadi. 

Tampangnya sekarang lebih menyeramkan. Matanya merah, membuat Gilang semakin beringas menekan angka empat.

Akhirnya pintu lift itu tertutup tepat saat petugas itu hendak menggapai lift.

“KITA HARUS APA?!” tanya Farhan panik.

Tangan Gilang gemetaran. Jarinya sudah siaga di angka dua.

“Kita harus ngulang yang tadi, kemudian membatalkan sebelum sampai di sepuluh.” 

Ting!

Suasana semakin mencekam. Mereka kini berada di lantai empat. Gilang langsung menekan angka dua. 

Yang dapat Farhan lihat, lantai empat ini berbeda dengan lantai sepuluh. Darah berceceran. Tubuh terbaring di lantai. Bukan satu atau dua, tapi puluhan tubuh.

Pintu lift langsung tertutup lagi. Jari Gilang kini sudah siaga di angka enam.

Ting!

Baru setengah pintu terbuka, sudah ada tangan terselip di celah pintu itu. Gilang dengan panik menekan angka enam. Farhan berusaha mencegah tangan itu untuk menggapai mereka.

Untunglah pintu lift langsung tertutup. Kini jari Gilang yang bergetar sudah mengarah di angka dua.

Ting!

Mereka ada di lantai enam. 

“TEKAN CEPAT! GUE GAMAU MATI SEKARANG!” teriak Farhan yang membuat Gilang menekan angka dua.

Manusia mana yang tidak panik melihat zombie di hadapan mereka.

“SETAN LO!” teriak Gilang seraya menendang salah satu zombie yang hendak masuk ke dalam lift.

Begitu zombie itu terpental, pintu lift langsung tertutup.

Sekarang, giliran jari Farhan yang siaga di angka sepuluh.

Ting!

Mereka sampai di lantai dua. Tak terbayang betapa cemasnya mereka sekarang. 

Begitu pintu lift baru terbuka setengah, Farhan langsung menekan angka sepuluh.

Beruntung, pintu lift  tertutup kembali. 

“Gue masih pengen hidup,” gumam Gilang yang sudah bersiap menekan angka lima. 

Ting!

Bunyi itu menandakan mereka sudah sampai di lantai sepuluh.

Gilang langsung menekan angka lima dengan brutal. 

Pintu lift langsung tertutup. 

Gilang sudah bersiap menekan angka satu.  Namun, darah mengalir di celah pintu lift.

“GUE BELUM MAU MATI!” seru Farhan.

Ting!

Mereka sekarang ada di lantai lima. Gilang langsung menekan angka satu, tak perduli lagi dengan darah yang sudah menggenang di kaki mereka.

Setelah terbuka sedikit, pintu lift kembali tertutup.

“DIA NAIK LAGI KE SEPULUH!” teriak Gilang panik melihat layar digitalnya menunjukkan angka sepuluh.

Farhan yang sudah berada di titik sangat panik langsung menekan angka apapun yang bisa ia tekan.

Tiba-tiba mati lampu. Gelap dan bau amis darah, lengkap sudah.

Tangan Farhan masih menekan angka di lift.

“GUE BELUM SIAP MATI!” teriak Gilang histeris.

Ting!

Lampu lift kembali menyala, seiring dengan pintu lift yang terbuka.

Farhan melirik ke arah layar digital. Layar itu menunjukkan angka satu. Gilang melihat ke bawah. Kemana perginya darah itu?

Gilang menyembulkan kepalanya ke luar. Setelah merasa aman, ia mengajak Farhan keluar. Mereka layaknya orang bingung.

“Ini dunia beneran, kan?” tanya Farhan tidak yakin, takut jika kejadian tadi terulang lagi.

Gilang memandang sekelilingnya. “Gue yakin kali ini memang dunia asli.”

Gilang mengajak Farhan ke cafe hotel itu. Tampak cafe itu ramai. Mereka kemudian mengambil meja di pojok.

“Iya, memang asli,” ujar Farhan sambil menyesap kopi hangatnya.

Gilang terkekeh. “Sumpah, gue tobat main gituan!”

Farhan terkekeh.

Mereka berjanji ini terakhir kalinya mencoba permainan mencekam. Nyawa mereka tadi menjadi taruhannya.

* * *


– Litha –

Posted in Event Duel, Fiction, Second - Winner, Thriller - Genre, Wattpad - Story

Mangata [Thriller]

Sebuah rumah besar bergaya klasik dengan pilar-pilarnya yang berdiameter besar dan menjulang tinggi itu terlihat sangat sepi di hari biasa. Tetapi, hari ini rumah besar itu ramai oleh banyak orang yang berkerumun di depan pagar tinggi. Orang-orang itu melihat keadaan di dalam rumah dengan penasaran.

Beberapa waktu lalu rumah itu dijual dan kemudian dibeli oleh seorang artis papan atas. Keluarga yang semuanya entertaiment itu resmi pindah hari ini. Untuk itu ada banyak orang yang penasaran dan berkerumun di depan rumah keluarga si artis.

Sementara itu, dari seberang jalan sesorang dengan pakaian serba hitam dan kepala yang tertutup topi berdiri mengawasi rumah tersebut. Kedua tangannya tersembunyi di dalam kantung celana hitam yang dipakainya. Tiba-tiba laki-laki itu mengangkat pelan kepalanya dan tersenyum sinis entah kepada siapa.

Satu minggu setelah artis papan atas bernama Michael Jason pindah ke rumah barunya, dia mendapat tawaran bermain di sebuah film bergenre thriller. Sebuah film yang diadabtasi dari novel terlaris sejak beberapa tahun silam. Novel berjudul Mangata itu ditulis oleh seorang penulis terkenal bernama Andrew Harris.

“Mr Harris silakan masuk, Tuan Michael sudah menunggu di dalam,” seorang perempuan berpakaian formal mempersilahkan Andrew untuk masuk ke dalam kantor Michael.

“Mari duduk Mr Harris,” Michael langsung mempersilahkan Andrew untuk duduk di kursi tamu yang tersedia.

Senyum ramah Andrew berikan kepada Michael. “Jadi, akhirnya saya bertemu juga dengan pemeran utama novel saya,” kata Andrew memulai percakapan.

“Suatu kebanggaan yang luar biasa saya dapat dipilih untuk proyek besar ini,” ujar Michael yang merendah di hadapan Andrew.

Selanjutnya mereka larut dalam obrolan ringan dan seketika keduanya tampak sangat akrab. Pertemuan ini memang dicetuskan oleh Michael yang ingin mengucapkan terima kasih kepada Andrew yang telah memilihnya. Awalnya Michael ingin mengucapkan terima kasih dengan mungundang Andrew makan malam di rumahnya. Namun sayang, Andrew menolak ajakan Michael tersebut dan justru meminta bertemu di kantor Michael.

Michael pulang ke rumahnya saat jam makan malam. Dia mendapati anak dan istrinya sedang makan malam di ruang makan yang besar dan mewah. Memiliki keluarga kecil yang harmonis sangatlah menjadi kebanggaan Michael di depan publik, dia ingin memberitahu semua orang bahwa dia berbeda dengan artis lainnya yang hanya kawin-cerai saja kerjaannya.

Dad! Aku dengar Daddy dapat tawaran film novel Andrew Harris?” tanya Shopie anak tunggal Michael yang memang gemar membaca berbagai macam novel. Usia Shopie yang tergolong remaja saat ini saja sudah ratusan novel yang dia baca. Tak kurang dari 2 novel dia lahap setiap harinya.

Michael menatap sayang Shopie dan kemudian menjawab, “Tadi Daddy juga bertemu dengan Andrew Harris.” Michael dengan sengaja membuat mimik wajah menggoda Shopie yang tentunya akan menuai protes Shopie.

Daddy kenapa gak ajak Shopie!” protes Shopie yang langsung bangkit dari duduknya.

“Tenang sayang,” Michael berusaha menenangkan Shopie yang kemudian melanjutkan perkataannya, “Daddy akan ajak Shopie ke acara premier film nanti. Shopie bisa foto dan minta tanda tangan Andrew di sana nanti.”

“Janji?” Shopie menjulurkan jari kelingkingnya ke arah Michael.

Sementara itu, Lula hanya diam saja sambil membentuk senyum melihat keakraban ayah dan anak di depannya itu. Bagi Lula melihat Michael dan Shopie seperti sekarang seperti sedang berada di taman bermain yang penuh canda tawa. Lula membesarkan Shopie di tengah rutinitasnya sebagai model dan sekarang Shopie pun sudah merambah dunia tersebut meski tak sepadat jadwal dirinya.

* * *



Tengah malam, angin kencang bersamaan dengan hujan deras turun membasahi bumi. Bau tanah basah menguar di tengah malam, suara katak dan jangkrik tertutupi oleh derasnya air hujan. Semua itu seolah-olah memaksa orang-orang untuk tidak keluar rumah dan tetap tidur di balik selimut tebal masing-masing.

Tetapi, tidak dengan seseorang yang berdiri di depan rumah mewah yang sudah sering dia awasi belakangan ini. Dia berdiri di depan pintu besar dengan raut wajah dinginnya. Penjaga keamanan pun lewat olehnya, seonggok manusia tergeletak bersimbah darah di dalam pos jaga.

Kriet!

Suara derit pintu terdengar menyeramkan di malam mencekam itu. Gelap gulita ruang tamu saat dia membuka pintu. Hanya ada penerangan dari kilat-kilat menyambar berkali-kali di langit luar. Tidak ada siapa pun yang terbangun atau sadar bahwa ada orang asing di rumah tersebut. Baik itu pemilik rumah maupun pembantu, tidak ada yang sadar akan kehadiran ‘dia’ di sana.

Tuk!

Tuk!

Tuk!

Suara ketukan sepatu pantofel terdengar di sepanjang lantai yang dilalu dia. Lurus hingga ke bagian belakang tepat dekat dapur, dia berhenti di depan pintu kayu yang tertutup rapat. Bahkan dia tidak membutuhkan penerangan apa pun, seolah-olah dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini.

Sepuluh menit kemudian, setelah dia selesai dengan para pembantu rumah besar tersebut dia menaiki tangga menuju lantai dua rumah bergaya klasik itu. Pertama-tama dia masuk ke dalam kamar yang paling besar dan dihuni oleh sepasang suami istri. Lula Jason dan Michael Jason tertidur lelap di dalam kamar mereka.

* * *

Headline News:
Telah terjadi pembantaian di rumah artis ternama Michael Jason. Dilaporkan tidak ada yang selamat, diperkirakan pembunuhan terjadi saat malam hari. Saat ini pihak berwajib masih menyelidiki kasus ini.

Andrew melipat koran yang sedang dibacanya. Wajah shock tertara di wajah tampan laki-laki tersebut. Dia menatap pacaranya Angle yang duduk di sebelahnya. “Kau mau ikut aku ke rumah duka mengucapkan belasungkawa?” tanya Andrew kepada pacarnya.

“Tentu!” setuju Angle. “Pembunuhnya benar-benar tega sekali,” lanjut Angle lagi setelah sekilas melihat judul headline news di beberapa koran yang ada di meja ruang tamu apartemen Andrew.

“Ya aku juga tidak menyangka bahwa Michael akan pergi dengan cara tragis seperti ini,” tambah Andrew dari depan pintu apartemennya.

Andrew dan Angle tiba di lokasi kejadian yang terlihat ramai oleh awak media, pihak berwajib dan beberapa masyarakat yang penasaran ingin tahu. “Sepertinya kita tidak bisa turun,” ujar Andrew saat melihat keadaan yang sangat ramai dan sulit untuknya dan Angle turun.

Maka, Andrew dan Angle memutuskan untuk berlalu dari sana dan memilih untuk menghadiri acara pemakaman yang kemungkinan akan dilaksanakan setelah selesai proses autopsi selesai. “Aku dengar mereka semua mati dipenggal oleh pelaku,” gumam Angle yang merasa prihatin dan merinding melihat rumah besar keluarga Jason dari jauh.

Satu tahun setelah kejadiaan mengerikan tersebut, film Mangata resmi dirilis dengan aktor pengganti. Bersamaan dengan itu Andrew juga merilis novel terbarunya dengan tajuk Mangata 2. Nama Andrew melambung tinggi saat itu, film Mangata sukses menerima pujian dari banyak penikmat film.

Tetapi, ada yang aneh saat hari rilisnya novel Mangata 2 milik Andrew. Laki-laki itu tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Suasana ramai di ballroom sebuah hotel semakin berisik saat yang mereka tunggu-tunggu tidak ada.

Tiba-tiba di tengah kegaduhan para penggemar Andrew beberapa orang berseragam lengkap dengan pistol di pinggang mereka meberobos masuk ke dalam ballroom. “Tolong semuanya bersifat koorperatif, kami mencari Andrew Harris!” teriak seorang polisi dengan lantangnya.

“Ada apa ini?” tanya Angle yang heran dengan keberadaan dan tujuan para polisi. “Kenapa mencari Andrew?” lanjut Angle bertanya lagi.

“Andrew dinyatakan bersalah atas pembantaian yang dilakukannya di kediaman Michael Jason satu tahun lalu,” jelas salah satu polisi.

Angle menutup mulutnya tidak percaya. “Tidak mungkin!” teriak Angle tidak percaya.

“Itu semua benar Nona. Semua tertera di dalam buku terbaru Mr Harris,” kata polisi itu lagi.

Tanpa dikomando Angle segera berlari menuju operator layar lebar yang biasanya akan digunakan Andrew untuk menampilkan foto-foto hasil jepretan dirinya. Angle memasukkan sebuah flashdisk ke komputer operator dan memutar sebuah video yang telah disiapkan Andrew.

Di layar putih besar itu muncul sosok Andrew. “Mangata 2 merupakan buku terakhir dari seorang Andrew. Buku yang ditulis sesuai dengan pengalaman pribadi dan juga penuh perasaan. Tentunya Mangata 2 akan sangat spektakuler,” ujar Andrew yang ada di dalam video sambil tersenyum sinis.

“Kalian para pihak berwajib sunggu bodoh tidak dapat mengungkap semuanya lebih cepat. Silahkan ambil mayat Andrew Harris di pinggir pantai karena Andrew telah memilih mati,” kata Andrew yang mengakhiri video bergambar dirinya dengan lukisan bulan di atas air yang sangat indah. Terakhir sebelum video resmi berakhir terlihat foto sebuah novel Mangata di halaman terdepan yang tertulis ‘Sophie Jason‘ di bawah nama tersebut tertera tanda tangan Andrew Harris.

* * *


– Azizahazeha –

Posted in Event Duel, Fiction, First - Winner, Thriller - Genre, Wattpad - Story

Siapa Dia? [Thriller]

“Tolong!” Terdengar suara seseorang teriak dari sebuah lorong tak jauh dari tempatku sedang berjalan sekarang.

Kontan aku bergeming sejenak. Melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada seseorang yang mengikutiku. Kau tahu kalau sekarang sudah tengah malam? Ya, jalanan sekarang amat sepi.

Kira-kira tiga puluh meter dari tempatku sekarang ada seseorang yang teriak meminta tolong. Aku menyisir trotoar jalan sampai ke mulut lorong sekarang.

Melihat sejenak ke dalam lorong tersebut, lalu bersandar ke dinding bangunan seraya menelan ludah. Karena jujur aku sedang deg-degan saat ini.

“Tolong!”

Sial, suara itu ternyata suara seorang perempuan. Aku membatin mengetahui bahwa perempuan tersebut dalam situasi bahaya saat ini.

Aku melirik arlojiku sesaat, dan sekarang sudah jam dua pagi. Aku menerka-nerka apa yang sedang terjadi di ujung lorong sana.

Pikiranku menebak kalau perempuan itu sedang mengalami pelecehan seksual. Namun semua itu belum tentu benar sampai aku sendiri yang melihatnya.

Jalanan di depanku amat sepi, dua bangunan yang mengapit lorong ini sangat besar. Di dalam lorong tersebut hanya ada satu cahaya yang temaram. Aku menebak kalau lampu yang memancarkan sinarnya itu bohlam kuning.

Entah mengapa rasanya aku ingin lari sekarang, namun kakiku tak bisa bergerak seakan diam terpaku. Tubuhku merasakan semilir angin malam yang amat tajam menembus pakaian yang kukenakan.

Dua jam lagi dari sekarang sudah memasuki waktu subuh, atau waktu fajar tak lama lagi akan menjelang. Kalau aku menunggu sampai dua jam lagi, jalanan di depanku pasti sudah sedikit ramai. Setidaknya ketika aku menemui seseorang di jalanan ini aku bisa meminta bantuannya, siapa pun itu.

Kalau aku memasuki lorong tersebut dan memastikan apa yang terjadi, aku takut sesuatu yang tak kuinginkan menimpa diriku. Risiko yang aku ambil terlalu berat untuk itu. Sekarang pilihannya hanya dua, maju atau lari.

* * *

Jam 23.45. Di suatu restoran dekat jalan cinta.

“Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin menikah denganmu!”

“Kau hanya gadis miskin Olla, mau tak mau kau harus menikah denganku supaya hutang keluargamu bisa lunas semua.”

“Aku bisa melunasi hutang keluargaku padamu, kau hanya perlu menunggu sampai aku melunasinya, Don.” Olla amat percaya diri dengan keyakinannya.

“Tidak mungkin Olla,” kata Don menyeringai, “mana mungkin perempuan sepertimu bisa melunasi hutang yang sangat banyak kepadaku. Mestinya kau bersyukur menjadi istriku, karena semua kebutuhanmu dan keluargamu sudah terjamin.”

“Aku bilang, aku tidak setuju menjadi istrimu Doni!” teriak Olla keras.

Suasana ribut ini kian menjadi, seakan Olla sudah amat marah mencapai puncaknya; Doni hanya terus-menerus menampakkan senyum seringainya.

Doni memajukan kepalanya sampai ke telinga Olla. “Begini saja, jika kau menyetujui permintaanku. Maka hutangmu akan lunas semuanya.”

“Apa itu?” tanya Olla seraya menelan ludah, seolah firasat buruk akan menghampiri dirinya.

“Kau harus mau bercinta dengaku,” bisik Doni lirih.

“APA!” Olla terkejut, dan tangannya langsung menampar pipi Doni yang tak jauh darinya.

“Hahaha!” Doni tertawa dan mengelus pipinya.

“Kau memang benar-benar kurang ajar Doni!” tegas Olla. “Aku ingin pulang.”

Olla bangkit dari duduknya, dan meninggalkan Doni di restoran tersebut. Di restoran ini hanya ada mereka berdua, karena Doni telah menyewanya untuk spesial dinner bersama Olla.

Doni mengambil ponsel dari saku celananya. “Hallo, laksanakan tugas kalian secepatnya.”

“Baik bos.”

* * *

Jam 00.45. Olla berjalan seraya mencari taksi di dekat jalan yang ia lalui. Sudah dua puluh menit ia menunggu di depan restoran, namun tak kunjung juga menemui satu pun taksi yang lewat.

Olla adalah wanita berumur 22 tahun. Dia memiliki wajah cantik bak model, tubuh tinggi semampai dan rambut panjang berwarna hitam kecokelatan bergelombang sepunggung. Kakinya jenjang, kulitnya putih dan iris cokelat menghiasi kencatikannya yang bagaikan bidadari itu.

Tetapi nasib tak berpihak dengannya. Ia lahir dari keluarga miskin yang tinggal di pinggiran kota. Orang tuanya hanya bekerja serabutan saja. Kadang ayahnya menjadi pemulung, tukang becak, kuli dan pekerjaan lainnya yang bisa dikerjakan. Sedangkan ibunya hanya seorang pembantu rumah tangga. Buruh cuci keliling, dan kadang membantu suaminya memulung.

Sejak kecil Olla hidup dengan kekurangan, namun ia tak malu mempunyai orang tua yang seperti itu. Dirinya bertekad kalau sudah besar nanti akan mengubah keadaan keluarganya menjadi lebih baik.

Sampai sesuatu hal terjadi yang menemukan dirinya dengan Doni. Seorang rentenir muda tak berperikemanusiaan. Di dekat rumah Olla, jika ingin meminta bantuan, maka temuilah Doni.

Doni dianggap sebagai dewa penolong di lingkungannya. Dirinya menolong sekaligus menyengsarakan orang-orang yang meminta bantuan kepadanya.

Sebenarnya Olla tidak mau meminta bantuan kepada Doni, karena beberapa orang di sekitar rumahnya yang meminta tolong pada Doni, tak lama kemudian akan sengsara.

Ada yang bunuh diri, ada yang masuk penjara. Bahkan terdengar kabar bahwa ada yang dibunuh olehnya. Akan tetapi, pilihannya hanya satu ketika itu. Olla harus memakai jasa Doni untuk menolong keadaanya saat itu.

“Dia wanita yang dibilang bos kan?” tanya seseorang di dalam mobil.

“Iya benar.”

“Bos menyuruh kita menyekapnya, dan membawanya ke belakang gedung OL.” Pria di samping pria yang menyetir, berbicara.

“Baiklah,” kata pria yang menyetir itu.

Kenapa firasatku tidak enak ya, seperti ada yang mengikutiku, bantin Olla.

Cittt!!

Sebuah mobil sedan memblokir jalan Olla, lalu seorang pria keluar dari dalam mobil dan membekap mulut Olla dengan sapu tangan, kemudian dia membawanya ke dalam mobil.

* * *

“Hai, Olla.” Suara tak asing menyapa Olla.

Olla masih mengerjap-ngerjapkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa yang ada di depannya. “DONI!”

“Baru dua jam kutinggal, kau sudah seperti ini ya, Olla.” Doni tersenyum menyeringai ke arahnya.

“Doni, lepaskan ikatan ini,” seru Olla memberontakan dirinya yang sedang diikat kedua tangannya ke belakang. Dirinya diikat dalam keadaan duduk, dan kakinya juga diikat.

“Kau banyak bermain denganku Olla,” kata Doni, wajahnya tampak serius. Tidak ada lagi tawa atau pun seringainya.

“Maksudmu apa, Don?”

“Sudahlah Olla, hasratku ingin menidurimu sudah tidak ada lagi.” Doni merunduk, wajahnya kali ini amat dekat dengan wajah Olla.

Cuih!

Olla meludahi Doni.

Tetapi Doni mengelap ludah itu dari wajahnya.

“Kurang ajar kau Doni! Maksudmu apa berkata seperti itu?” kata Olla dengan nada keras sampai tampak urat-uratnya.

Parrr!!

Doni tak segan menampar Olla amat keras. Rona merah menyala, menghiasi pipi mulus Olla.

Doni menarik wajahnya, dan sudah berdiri tegak di tempatnya sekarang yang hanya terpaut beberapa senti saja dari tempat Olla.

Olla hanya merundukkan kepalanya sehabis ditampar. Rambut yang basah menutupi raut wajahnya. Olla tak bergumam sepatah kata pun. Dia tampak duduk lesu setelah itu.


Doni mengambil pisau lipat dari saku jaketnya.


“Bos, kau serius akan membunuhnya?” kata rekannya yang tadi disuruh menculik Olla.

“Apa kita tidak memperkosanya terlebih dahulu bos?” seru seorang rekan lainnya, yang juga tadi disuruh menculik Olla.

“Diam kau budak!” tegas Doni.

“Baik, bos,” ucap kedua rekan Doni secara bersamaan.

Doni memegang dagu Olla. Olla hanya menatap kosong kepada Doni. Tangan Doni yang memegang pisau lipat tersebut perlahan menyayat pipi Olla.

“ARGHHH!” Olla berteriak sekuat tenaga.

“Sial, bos tidak mengizinkan kita meniduri perempuan cantik itu,” ucap orang suruhan Doni yang hanya bisa menyaksikan di belakangnya.

“Iya, benar.” Rekan di sampingnya menyahuti.

“Tolong!” Olla berteriak meminta tolong. Doni berhenti menyayat pipi Olla sejenak, seakan menikmati teriakan yang penuh kesakitan itu.

* * *
Jam 02.48. Di depan mulut lorong.

“Aku sudah diam lama seperti ini sambil terus mendengar teriakan perempuan itu, entah untuk yang keberapa kalinya.”

Aku seakan hampa tak bisa melakukan apa-apa selama ini. Aku harus siap mengambil risiko seberat apa pun, ketika aku sudah melihat apa yang terjadi di ujung lorong sana.

Aku harus memastikan secepatnya, baiklah aku akan memasuki lorong gelap ini secara perlahan. Ya, sudah hampir setengah jalan kulalui. Bohlam temaram sekarang telah berada di atas kepalaku. Tak lama lagi aku akan sampai pada ujung lorong ini.

“To … long ….”

Suara itu dari sini masih terdengar, namun semakin kecil suaranya. Akhirnya aku tiba di ujung lorong ini.

Siapa itu? Kenapa tubuhnya sudah berlumur banyak darah? Tangannya ke mana? Sial, itu hewan atau orang. Aku tak pernah sepanik ini, walau melakukan apa pun yang sulit pasti tak pernah sampai begini.

Siapa kedua orang yang hanya menyaksikan itu, sebenarnya apa yang terjadi di sini? Sungguh membuatku takut.

Tap!!! 

Siapa yang menyentuhku?

“Rupanya ada seorang saksi di sini, ya.”

Suaranya amat menakutkan, siapa dia ….

* * *


– Gusti Andalan –