Posted in Event Duel, Fiction, Science-Fiction - Genre, Second - Winner, Wattpad - Story

Escape Pillar [Science-Fiction]

Ku kerjapkan mataku berkali-kali, menatap langit-langit malam  dari tempat yang gelap. Aku terbangun di suatu tempat yang tak ku kenali sebelumnya. Aneh, padahal jelas-jelas baru saja aku menutup mata untuk menenangkan diri di atas ranjang, namun entah mengapa tiba-tiba saat ku membuka mata sudah berakhir di tempat ini.

Segera ku angkat punggungku perlahan, lalu kugerakan kedua tangan dan kakiku. Memastikan tak ada sesuatu yang berubah atau cidera pada diriku. Selepas itu, segera aku bangkit dan melihat keadaan sekitar, sambil melangkahkan kaki selangkah-dua langkah ke depan.


Sampai pada saat ku lihat sebuah cahaya jauh di depan. Ku percepat langkah kakiku dengan sangat hati-hati. Mengingat di sekitarku yang amat gelap. Entah apa yang akan ada di depanku nanti, bisa saja aku menabrak pohon bila ceroboh.
Duk.
Tiba-tiba saja aku terjatuh terhampas ke rerumputan, aku yakin sekali yang barusan menabrak aku itu manusia! Aku segera bangkit, lalu menepuk-nepuk celanaku untuk membersihkan kotoran akibat terjatuh tadi.
Selepas itu, aku mendengar suara seorang perempuan dari kejauhan, menggema. Namun, yang pasti suara itu mengisyaratkan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

“MENUNDUK!”


Lantas aku langsung menunduk, seraya bergetar ketakutan. Dan benar saja, sesudah ku menunduk terdengar bunyi lemparan pisau yang mendarat, sepertinya menancap di pohon?

“Ikut aku!”

Suara yang sama. Tiba-tiba saja seseorang menarik lengan kananku dan memaksaku untuk mengikutinya.

“Eh! kenapa sih, kok aku ditarik-tarik gini! Terus tadi siapa yang lempar pisaunya?” tanyaku geram.

Aku benar-benar tak mengerti apa sebenarnya terjadi. Apa ini mimpi buruk? Tapi mengapa terasa sangat nyata?

“Akan ku jelaskan nanti, lebih baik sekarang kita pergi dari tempat berbahaya ini. Percayalah! saat ini nyawa kita sedang dipertaruhkan.”

Sedetik jantungku berhenti berdetak saat mendengar perkataan terakhirnya. Apa maksud dibalik sebenarnya? Apa benar aku akan mati jika aku berhenti melangkah? Tapi kenapa bisa? Ini kan hanya mimpi!

* * *



Sorak ramai serta dentuman gendang terdengar riuh, sampai-sampai telingaku rasanya mau lepas mendengarnya. Aku, berdiri di tengah-tengah kerumunan orang asing yang sedang menyambutku layaknya keluarga. Senyuman mereka tulus, membuatku hanyut dalam suasana nyaman, membuatku tenang untuk sementara waktu.

“Selamat datang, sepertinya kau orang terpilih yang tak beruntung,” celetuk seorang perempuan remeh yang entah asal suaranya dari mana.

“Eh, Tamara, tutup mulutmu!” sahut perempuan yang berada di sampingku, orang yang menyeretku ke tempat ini.

“Bukannya memang benar?” sahut perempuan yang diketahui bernama Tamara itu, lagi. Tak lama terlihat seorang perempuan datang menghampiriku dengan membelah kerumunan orang. Sepertinya orang yang bernama Tamara. 

“Toh kita semua ini hanya dipermainkan saja, bukan?” lanjutnya.

“Apa maksudmu, San?” tanya perempuan di sampingku. 

“Luna, Luna. Apa kau sudah lupa tentang mimpi Salsa kemarin malam? kita ini hanya sekumpulan peninggalan produk gagal si Mr. Jhonson!” tegas Tamara, sambil tersenyum remeh.

“Lantas, memangnya kenapa kalau kita produk gagal! Apa salahnya kalau kita mendapat kesempatan kedua untuk hidup lama!” sahut sampingku yang ternyata bernama Luna, juga tak mau kalah.

“Eh, bentar … bentar. Apa tadi kamu menyebut nama Mr.Jhonson?” tanyaku bingung. Apakah Jhonson yang dimaksud Tamara itu ayahku?

“Ya! si brengsek yang mengirim kita ke dalam dinding besar ini! Orang yang membuat kami bersusah payah untuk hidup di tengah-tengah kepungan para Zombie di luar sana!”

Aku terdiam, masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kalau benar Jhonson yang dimaksudnya ayah lantas, di mana ayah sekarang? Aku harus bertemu dengan ayah, aku harus bertanya langsung padanya.

“Jaga mulutmu, Tamara! Mr. Jhonson pasti mempunyai alasan, tak mungkin ia mengurung orang terdahulu di balik dinding ini dengan sengaja!”

 Tamara berjalan mendekati Luna dengan ekspresi menantang. “Ha? apa kau bergurau? jadi maksudmu tanpa sengaja, gitu?” ujarnya sambil menaruh lengannya di pundak Luna, namun segera di tepis oleh  Luna.

“Apa kamu lupa? Jelas-jelas di mimpi Salsa, Mr. Johnson lah yang menciptakan monster-monster haus akan darah itu! dan apa dengan mengurung kita di tempat seperti ini menyelesaikan semua kekacauan yang ia buat? Ha? Enggak kan!” lanjutnya, diakhiri dengan dorongan di pundak Luna.

Hahaha … engga lucu, pasti Mr. Johnson yang dimaksud bukan ayah! ya kan?

“Eh … anu … kalau aku boleh tau di mana Mr. Jhonson yang kalian bicarakan sekarang?” 

Seketika semua orang mengalihkan pandangannya dari Luna dan Tamara, malah beralih memandangiku.

“Eh? kenapa?” tanyaku sedikit risih karena menjadi pusat perhatian.

“Dia sudah tewas sejak lama, sebelum berhasil menyelesaikan penawarnya.” Aku lihat Luna menjawabnya sendu, kemudian berlalu begitu saja. 

Entah aku harus percaya atau tidak. Namun setelah melihat Luna yang barusan, membuatku semakin gusar. Takut kalau Mr. Jhonson yang dimaksud itu benar-benar ayah. 
     

Kerumunan orang yang mengelilingiku perlahan satu persatu pergi dan kembali melakukan aktifitas seperti biasa, sepertinya. Dan sekarang aku ditinggalkan sendirian di sini, tanpa ada yang menjelaskan tempat apa ini dan sebenarnya mengapa aku ada di sini.
     

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari informasi tentang tempat apa ini sebenarnya. Tapi, hasilnya nihil. Dan pada akhirnya aku menepi di bawah sebuah pohon yang belum pernah ku ketahui sebelumnya. Melipat kedua kaki dan menguncinya dengan kedua tangan. Aku membenamkan kepalaku di atas dengkul, sambil merenungi nasibku sekarang yang terjebak di tempat aneh. Benar-benar aneh.

* * *



Bulan dan bintang, setidaknya ada dua hal yang masih terlihat masuk akal saat malam hari di tempat ini. Mau tau apa yang tak masuk akal? kalau begitu lihat ke bawah sekarang. Ada banyak ratusan hewan pengerat yang membanjiri di bawah bangunan ini. Seakan siap menyantap seseorang bila ada yang turun.
     

“Hai,” sapa Miya, perempuan yang mengajakku bermalam di tempatnya saat aku berada di bawah pohon sore tadi.
     

Aku sangat berhutang budi padanya, bila saja ia tak mengajaku ke tempat ini, mungkin saja aku akan lenyap di tengah kerumunan tikus-tikus gila itu.
“Hai,” sapaku juga.
     

Aku tersenyum membalasnya. Sekarang dia duduk di sebelahku, sambil menyeruput sesuatu yang ada di dalam batuk kelapa. 
     

“Mau?” tanyanya saat memergoki aku yang sedang melirik ke arah batok kelapa yang sedang di pegangnya.
     

Ku picingkan mataku seraya membalas. “Ah … iya, bila kamu tak keberatan.” 
     

Miya langsung menyodorkannya padaku. Lalu aku meraihnya lalu meneguknya. Tak berselang lama, terdengar teriakan serta bunyi kentungan dari arah jam sepuluh. Sepertinya baru saja terjadi sesuatu. Ku lihat Miya refleks bangkit dari duduknya lalu berlari ke dalam kamar, kemudian keluar lagi membawa dua buah obor yang sudah dilapisi minyak dan korek api yang bentuknya aneh menurutku.
     

“Ayo, kita ke sana.”
     

Lantas aku bangkit dari duduk dan langsung saja disodorkan salah satu obor dari tangan Miya. Aku pun menerimanya tanpa ragu, meskipun terlihat sangat aneh menggunakan obor di zaman modern.
     

“Nyalakan apinya, arahkan ke depan untuk membelah kerumunan tikus-tikus itu, dan yang lebih penting tetaplah di belakangku,” pungkasnya.
     

Aku mengangguk seraya mengekorinya sambil mencoba menyalakan api pada obor. Setelah apinya menyala, segera ku arahkan ke depan sesuai intruksi Miya. Dan ternyata benar! para tikus-tikus haus akan darah itu menyingkir ketika aku arahkan api yang menyala ini.
     

Sampai-sampai aku terkagum-kagum pada diriku sendiri, bangga karena bisa membelah segerombolan vampire kecil inu yang mencoba menghisap darahku. Pencapaian yang paling tertinggi, sesudah ranking 20 dari 24 anak di kelas Matematika. Akhirnya aku bisa membuktikan pada dunia kalau aku benar-benar anak dari seorang ilmuwan terkenal, Mr. Jhonson Gralleleo.

* * *

Sesampainya di suatu tempat, di depan kamar salah satu seorang dari mereka yang tinggal di tempat ini. Ramai, kumpulan orang berkerumun di depan pintu masuk. Aku dan Miya bahkan sulit membelah kerumunan orang itu untuk bisa masuk ke dalam. Butuh waktu sedikit lama.
     

“Ada apa?” tanya Miya khawatir di ambang pintu.
     

“Salsa bermimpi lagi!” sambar salah seorang yang tak ku kenal.
     

Aku yang tak paham lebih memilih menyembunyikan diri di belakang Miya. Lebih baik mendengarkan dan mengamati situasinya terlebih dahulu, untuk memastikan ada hubungannya dengan aku atau tidak.
     

“Kali ini apa mimpinya?”
     

“Masih ada kesempatan. Kita masih ada kesempatan untuk keluar dari dinding,” seru yang lainnya, lagi-lagi aku tak mengenalnya.
     

“Maksudmu? sekarang di mana Salsa?” 
     

“Jangan khawatir, Miya. Dia baik-baik saja,” jawab perempuan itu sambil tersenyum, seperti tidak terjadi hal yang buruk.

Tak lama kemudian dua orang datang dari balik salah pintu di sudut ruangan. Dengan salah satunya sedang merangkul serta menompang yang satunya lagi. 
     

“Salsa!” Miya berlari menghampiri orang yang sedang dirangkul itu. Alhasil aku terlihat oleh yang lainnya.
     

“Selamat datang, Dera,” sapa orang yang di panggil Salsa oleh Miya barusan.
     

Anehnya, bagaimana dia bisa tahu namaku? Aku bahkan belum sempat memberi tahu kepada siapa pun dari awal menginjakan kaki di dalam dinding besar ini.
     

“Kamu ngomong sama aku?” tanyaku meragu.
     

“Iya, kamu, anak Mr. Jhonson. Alasan sebenarnya kami dikirim beliau je tempat ini,” tandas Salsa.
     

“Ha? Maksudnya?” 
     

Aku bingung! Apa maksudnya aku alasan mereka ada di sini? Dan ayah, Apa yang sebenarnya terjadi? Semua orang sekarang menatap aku lekat. Seperti melihat cahaya di tengah kegelapan, terkecuali Tamara.
     

“Dia? dia Dera Clarisa?” celetuk Tamara sambil membuang muka ke arah sudut ruangan.
     

“Ya, dia anak Mr. Jhonson yang diutus ayahnya dari zamannya.”
     

Aku masih tak mengerti, apaan sih maksud si Salsa itu? Aku dikirim? Ayah yang mengirim aku?
     

“Dera, Ayahmu mengutusmu ke tempat ini untuk menyelesaikan tugasnya yang belum terselesaikan. Menanggung beban mengembalikan kondisi atas ketidak sengajaannya menciptakan mahkluk yang di sebut zombie di luaran sana. Mr. Jhonson percaya padamu, Dera. Beliau mengirimmu ke tempat ini karena yakin hanya kamu, anaknya yang bisa mengakhirinya.”

* * *
     

Namaku Dera, sekali lagi ku tegaskan namaku Dera. Anak dari Mr. Jhonson yang tiba-tiba saja mendadak menjadi kepala suku yang memimpin ratusan orang yang berada di balik dinding besar ini.
    

Sudah lama sejak dua tahun yang lalu, saat pertama kali aku mengetahui kebenarannya tentang keberadaanku di tempat ini. Aku, saat terbaring di nakas, ayah dengan terpaksa membius dan mengurimku ke dua puluh tahun yang akan mendatang dengan menggunakan mesin waktu yang membuat dirinya terkenal itu. Ayah mengirimku karena suatu alasan. Namun, ternyata ayah yang merupakan ilmuwan hebat melakukan kesalahan yang fatal, sampai-sampai mengakibatkan kepunahan umat manusia. 
    

Aku, Dera. Orang yang bertanggung jawab mengakhirinya, sekaligus mengembalikan keadaan seperti dua puluh tiga tahun yang lalu.
     

Sekarang, aku bersama ketiga puluh orang lainnya yang telah menjalani latihan dan persiapan yang matang, keluar dari dinding besar selama tiga puluh hari untuk menjalani misi besar. Aku dibantu oleh Miya, Luna, Salsa, dan Tamara, berpencar memimpin beberapa orang lainnya untuk menulusuri kota demi kota terdekat. Misi untuk menetralkan para zombie dengan alunan nada ritme musik yang dibuat sedemikian rupa olehku. Sesuatu yang bisa mengubah dan menyelamatkan dunia.

* * *


– R P I –

Posted in Event Duel, Fiction, First - Winner, Science-Fiction - Genre, Wattpad - Story

Decision [Science-Fiction]

​Giandra menutup mulutnya tidak percaya ketika melihat sebuah berita pada layar besar di hadapannya. Sebuah gempa bumi dengan kekuatan 7.8 SR lagi, di daerah pinggir pantai bagian selatan Indonesia.

Sudah belasan kali gempa terjadi hari ini, firasatnya tidak enak. Diliriknya jam di tangan kirinya, sudah dua puluh menit dia menunggu di sini namun sosok yang dinanti belum juga datang.

“Gia! Ayo!”

Giandra menoleh dengan kening berkerut memandang sosok laki-laki di hadapannya.

“Gia, come on. Kita harus pergi dari sini karena-”

Perkataan laki-laki itu terputus, sebuah getaran terjadi lagi dengan kekuatan yang cukup keras hingga membuat retakan di tanah muncul.

“Ga, ini apa?” kata Giandra panik sementara situasi di sekitarnya semakin berantakan.

Ganesha, laki-laki di hadapannya menatap Giandra dengan panik. Digenggamnya tangan Giandra erat berusaha melangkah di tengah getaran yang perlahan mereda.

Sebuah hologram berwujud pria berperawakan tegap muncul di hadapan mereka.

“Ganesha, waktumu dua jam sebelum kapsul waktu itu berangkat,” kata pria hologram itu.

Ganesha menekan headset di telinganya dan berbicara, “Saya akan segera ke sana.”

“Daftarkan identitasmu dengan Decla secepatnya,” kata pria itu sebelum akhirnya menghilang.

“Dia siapa?”

“Profesor Geya, atasanku di laboratorium,” jelas Ganesha singkat sambil terus menekan sebuah benda persegi pipih yang penuh dengan layar atau biasa disebut dengan Decla.

“Berikan aku jarimu,” perintah Ganesha.

Giandra mengulurkan telunjuknya pada Ganesha kemudian Ganesha mengarahkannya pada layar benda itu. Seketika dari salah satu sisi Decla muncul hologram berisi data singkat Giandra termasuk warna iris mata hingga golongan darahnya.

Ganesha mengerutkan keningnya bingung, mengapa data diri Giandra sudah terdaftar sebagai salah satu penumpang kapsul waktu padahal seharusnya nama Giandra belum terdaftar?

“Selesai. Sekarang kita harus segera ke Galeri Nasional.” Ganesha membuang pikiran anehnya dan menarik tangan Giandra membelah kerumunan orang yang tampak saling acuh di hadapannya.

“Tunggu, maksud semua ini apa? Kapsul waktu? Decla?” tuntut Giandra dengan kesal.

“Gia, dengar. Bumi akan segera hancur, kau harusnya tahu itu.”

Giandra mengangguk, memang keadaan sudah semakin kacau sejak perang dunia yang melibatkan nuklir beberapa puluh tahun yang lalu. Indonesia termasuk negara yang beruntung karena tidak mencecap sakitnya dijajah atau dimerdekakan oleh negara lain lagi.

Semenjak permainan nuklir menjadi hal yang lumrah terjadi di dunia, berbagai macam keanehan terus muncul. Bencana alam yang nyaris terjadi setiap hari, kriminalitas yang tinggi, pergeseran sifat alami manusia, serta munculnya beberapa spesies aneh yang entah akibat nuklir atau kecerobohan para peneliti.

Hanya segelintir orang yang cukup memiliki kekayaan yang bertahan hidup normal sesuai dengan kemajuan teknologi yang ada. Ya, selain menjadi rapuh, dunia pun semakin maju di berbagai bidang yang sayangnya malah mematikan hati manusia sebagai manusia; tidak lagi ada rasa sosial dan keinginan menolong satu sama lain.

“Aku tahu,” sahut Giandra. “Tapi apa maksud semua ini?”

“Kapsul waktu akan diberangkatkan dua jam lagi, dan hanya orang tertentu yang bisa menaikinya,” kata Ganesha sambil terus menarik Giandra menuju lorong salah satu alat transportasi terdekat.

Wait. Aku harus menemui adikku, kau tahu itu.”

Ganesha menatap Giandra sekilas. “Maaf, Gi. Daerah rumah kita sudah hancur, terisolasi dan dikuasai Lyctans.”

“Apa?” pekik Giandra.

Giandra mendesah penuh sesal. Lyctans adalah sekumpulan manusia tidak beruntung yang terinfeksi oleh lintah penghisap, berasal dari daerah kumuh yang tidak tersentuh pemerintah. Infeksi Lyctans sangat cepat dan cenderung terlalu mudah menular.

“Gia, kita harus cepat.”

Giandra tersadar, sakit di dadanya perlahan dia hilangkan. Dilangkahkan kakinya dengan cepat mengikuti Ganesha. Sesaat sebelum keduanya memasuki peron stasiun, tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Ganesha! Lama sekali,” kata suara itu sarkas.

Ganesha mendengus kesal dan menjawab, “Apa yang kau lakukan, eh?”

“Mencarimu dan Giandra. Kau tahu Giandra juga penting bagiku,” jawab suara itu.

“Sudahlah, Gerry. Ayo cepat berangkat. Galeri Nasional mulai riuh,” kata Ganesha enggan mendebat.

Ketiganya memasuki peron dan berjalan menuju peron tempat kereta dengan tujuan stasiun Gambir ada. Ganesha terus melirik jam di tangannya, sementara Giandra masih dirundung kaget juga rasa kehilangan. Gerry memainkan senapan di tangannya dengan acuh, seolah tidak peduli dengan apa pun.

“Kudengar adikmu dimakan Lyctans,” kata Gerry memecah keheningan.

“Bodoh!” seru Ganesha ketus.

“Kau harusnya meminta pertanggungjawaban pada sosok di sebelahmu, Gi. Dialah yang membuat wabah Lyctans di Jakarta,” lanjut Gerry.

Giandra menggigit bibirnya keras meredam isakan tangis. Ganesha menyentuh pundaknya pelan, berusaha menenangkan.

Tidak lama sebuah kereta tiba dan ketiganya menaiki salah satu gerbongnya. Suasana sangat sepi, bahkan alat transportasi yang dulu ramai ini kian sepi karena hanya orang yang cukup kaya yang bisa menggunakannya.

“Mau ke mana kalian?” tanya seorang bapak berumur sekitar tujuh puluh tahun.

“Ke-”

“Bukan urusan Anda, Tuan,” potong Gerry.

Pria itu tersenyum ke arah Gerry. “Semoga Tuhan memberkatimu, Nak.” Kemudian pandangannya dialihkan pada Giandra dan Ganesha. “Saya juga berharap kalian selamat, tanpa ada niatan buruk yang terlaksana di antara kalian.”

Giandra menatap Ganesha, curiga. Sementara bapak itu beranjak pergi meninggalkan mereka.

* * *
“Apa yang ada di pikiranmu, Ga?” tuntut Giandra dengan nada mengancam. 

Ganesha menggeleng. “Aku hanya ingin kita selamat. Tidak usah kau pikirkan ucapan bapak tadi, kita tidak bisa memercayai siapa pun.”

“Ah, ya, bahkan kau membiarkan adik dari pacarmu mati akibat Lyctans,” kata Gerry ikut campur.

“Kau!” Ganesha maju mendesak Gerry ke dinding gerbong, dicengkeramnya kerah kemeja Gerry.

Chill out, Ganesha. Akuilah, kita tidak bisa memercayai siapa pun,” sahut Gerry masih dengan senyum.

Giandra menatap keduanya dengan bingung. Tidak ada keinginan di hatinya untuk menghentikan perdebatan itu, benar kata Gerry, Ganesha membiarkan adiknya mati begitu saja. Harusnya Ganesha menjemput adiknya terlebih dulu.

Sebuah hologram tiba-tiba muncul dari Decla yang digenggam Gerry.

“Waktu kalian kurang dari satu jam lagi, wilayah kapsul waktu saat ini terbebas dari Verck. Tapi saya tidak bisa menjamin bagaimana saat nanti keberadaan kapsul waktu sudah mulai tercium masyarakat dan Verck. Cepatlah, karena saya tidak ingin kehilangan orang-orang berbakat milik saya.”

Kemudian hologram itu hilang. Gerry mendengus melepas cengkeraman Ganesha pada kerahnya. Sementara Giandra memilin ujung kemejanya panik. 

Verck, makhluk penghisap darah yang akan membuat manusia mati perlahan, hasil percobaan pemerintah dengan menggabungkan gen kelelawar dan manusia. Awalnya Verck akan dijadikan tentara terdepan Indonesia saat menghadapi perang, tapi nyatanya Verck tidak bisa dikuasai dengan mudah dan malah memberontak.

“Sesampainya di stasiun Gambir nanti, kita masih harus berjalan sekitar lima kilometer dan itu akan sangat sulit.” Gerry menekan Decla-nya dan memunculkan sebuah hologram denah dari Galeri Nasional.

“Kapsul waktu terdapat di bagian belakang Galeri Nasional, dan lihat beberapa titik merah itu adalah tanda daerah yang dikuasai Verck,” jelas Gerry.

Ganesha menarik Giandra mendekat saat sebuah getaran terasa lagi. Gempa bumi yang cukup kencang. Namun untungnya gempa itu hanya terjadi beberapa menit dan situasi kembali normal.

“Sebentar lagi kita sampai. Make a decision. Dare yourself to kill,” kata Ganesha singkat.
Or being kill,” lanjut Gerry.

* * *

Ketiganya berjalan dengan cepat dan hati-hati menuju Galeri Nasional. Cukup jauh sebenarnya, namun jika mereka menumpang kendaraan lain akan semakin banyak orang yang tahu, dan keberadaan kapsul waktu tidak boleh diketahui masyarakat.

Kapsul waktu ternyata sudah direncanakan oleh seluruh pemimpin negara di dunia sejak sepuluh tahun lalu; peneliti sudah membuat perkiraan jika kiamat akan menghampiri dunia tahun ini. Setiap negara hanya memiliki dua kapsul waktu berkapasitas 250 orang. Nantinya kapsul waktu akan diterbangkan ke luar angkasa hingga proses kiamat selesai, kemudian mereka yang selamat akan membentuk peradaban baru lagi nantinya.

Egois, tapi logis. Siapa yang mau bertahan dengan pasrah menerima kehancuran dunia ketika ada pilihan lain menyelamatkan diri meski dengan mengorbankan banyak orang?

“Giandra awas!” Gerry mendorong tubuh Giandra hingga Giandra terpental ke sebuah trotoar.

“Verck sialan!”

Gerry memaki dan menembak Verck tersebut tepat di jantungnya. Giandra yang masih shock hanya terdiam melihatnya, baru kali ini Giandra melihat Verck. Ternyata Verck umumnya terlihat seperti manusia biasa, hanya saja iris matanya kemerahan dan pendengarannya sangat peka.

“Pegang ini,” kata Gerry sambil memberikan sebuah senapan pada Giandra. “Tembak setiap Verck yang mendekatimu, aku tahu kau tidak membawa peralatanmu.”

Giandra mengangguk. Dari ekor matanya dia melihat Ganesha menghampirinya sehingga dia dengan cepat segera memasukan senapan itu pada selipan bajunya.

“Giandra? Kau baik-baik saja, kan?” tanya Ganesha panik.

“Aku pikir kau akan membiarkanku mati juga. Memang bukan dengan menjadi Lyctans, tapi mati oleh Verck,” sahut Giandra sarkas.

Ganesha mendesah kesal, dia tahu Giandra sangat kehilangan adiknya. Tapi seharusnya Giandra mengerti, Ganesha juga kehilangan keluarganya. Ganesha memilih menyelamatkan Giandra dan harusnya itu udah sudah cukup.

Giandra berjalan dengan cepat mendahului Ganesha dan Gerry. Mereka berjalan memutar ke arah belakang Galeri Nasional. Sekilas Galeri Nasional tampak baik-baik saja, hanya beberapa lukisan terjatuh mungkin efek gempa beberapa waktu lalu. Namun bau amis darah tercium dengan kuat membuat Giandra harus menutup hidungnya.

Ganesha menguatkan dirinya menerima kemarahan Giandra, dia menghampiri Giandra dan menarik Giandra ke sisinya berusaha melindungi. Giandra hanya tersenyum miring sekilas namun tidak menolak, sementara Gerry berjalan di belakang mereka sambil tetap siaga.

Gerry tahu pasti apa kelemahan Verck dan apa yang menjadi tanda-tanda kehadiran Verck karena Gerry adalah peneliti yang mentransfer gen kelelewar dengan gen manusia sehingga menghasilkan Verck.

Gerry, Giandra dan Ganesha merupakan teman semasa sekolah dan sebenarnya mereka cukup dekat mengingat mereka juga tinggal di daerah yang sama. Namun ambisi Gerry dan Ganesha membuat keduanya bertabrakan.

“Pintu masuk sudah dekat,” kata Ganesha.

“Dan kehadiran Verck semakin banyak,” lanjut Gerry.

Giandra melengos berjalan mendahului keduanya, dia merasa lelah dan ingin secepatnya sampai pada kapsul waktu, memikirkan bagaimana hidupnya tanpa adiknya sudah membuatnya cukup terpukul.

“Giandra!”

Giandra menoleh, sesosok Verck wanita ada di sebelahnya. Di sudut bibirnya terdapat noda merah mengering membuat Giandra ngeri.

“Mau ke mana, Nona?” tanya Verck itu sambil mendesis membuat Giandra mundur ketakutan.

“Tidak,” desis Gerry. “Verck itu memanggil kawanannya. Mereka tahu kita mengejar kapsul waktu dan mereka tidak akan membiarkan kita lolos.”

“Waktu kita hanya lima menit lagi,” keluh Ganesha kesal.

Benar yang dikatakan Gerry, sekawanan Verck muncul dan mengepung mereka bertiga. Gerry sudah siap dengan senapan di tangannya, Ganesha juga memegang belati perak di tangan kanannya.

“Waktu kalian tiga menit lagi,” suara profesor Greya terdengar melalui headset di telinga Gerry dan Ganesha.

Kill, now!” sentak Gerry.

Gerry menembakkan senapannya ke jantung kawanan Verck sementara Ganesha menerjang Verck itu dengan belatinya. Verck hanya bisa dikalahkan dengan perak. Ketika kawanan Verck mulai berkurang, Ganesha mendorong Giandra untuk segera berjalan ke arah pintu masuk kapsul waktu.

Giandra berlari kemudian sensor di sebelah pintu kapsul waktu memindai iris mata Giandra dan terbuka. Giandra melihat Gerry sudah berjalan mendekat sementara Ganesha masih sibuk bergelut dengan satu Verck.

Dorr!

Giandra menembak Verck yang bergelut dengan Ganesha dan membuat Ganesha terkejut.

“Gia? Dari mana kamu-”

“Gia, cepat!” Gerry mendorong Giandra masuk ke dalam kapsul.

Dorr!

“Lupakan, Ger. Aku tidak butuh siapa pun. Aku bisa selamat seorang diri,” bisik Giandra pada Gerry, dan kemudian dia melepas sebuah tembakan lagi pada kening Gerry.

Giandra tertawa. “Aku tahu mengenai kapsul ini sejak lama karena aku merupakan salah satu mata-mata pemerintah, dan aku memanfaatkan kalian agar aku juga adik-adikku bisa selamat! Harusnya kau sadar, Ga, tidak ada cinta untukmu! Aku memacarimu dan Gerry hanya agar aku bisa mendapat akses kapsul waktu ini untuk dua adikku. Sebagai mata-mata aku hanya memiliki satu akses menaiki kapsul ini untukku sendiri.”

“Maksudmu apa? Jadi selama ini Gerry tahu semuanya? Termasuk statusmu sebagai mata-mata?” tanya Ganesha sambil berjalan menghampirinya, sekarang ia mulai mengerti mengapa Giandra sudah terdaftar sebagai penumpang kapsul waktu tadi.

“Jangan mendekat atau aku akan menembakmu,” desis Giandra. “Aku tadi menunggu adikku, bukan menunggumu. Harusnya yang datang adikku, bukan kau! Aku sudah menyiapkan akses untuknya, tentu saja berkat bantuan Gerry.”

Ganesha menatap Giandra tidak percaya. Giandra yang ingin diselamatkannya ternyata memilih mengkhianatinya.

“Adikku mati sebagai Lyctans. Akan adil jika kau menikmati sensasi mati akibat Verck. Daripada membunuhmu dengan senapan ini, aku memilih membiarkanmu mati dengan sendirinya, Ga. Anggap saja sebagai bukti cinta terakhirku.”

“Psikopat!” Ganesha mendesis.

Ganesha berusaha berlari menuju kapsul waktu namun satu Verck berhasil menggigitnya dan menimbulkan rasa nyeri, darahnya terhisap membuat Ganesha linglung dan kesakitan melandanya.

I love you too, sayang,” kata Giandra sesaat sebelum pintu kapsul tertutup.

* * * 

– Tamara Sarlita –